[FRC Entry] Horuta Kaisuto - Bertemunya Dua Gadis Berkelainan
“Bila ada keyakinan, di situ ada jalan.”
Bertemunya Dua Gadis Berkelainan
“Hihihi! Si stupid Charon-kun tidak sadar kalau sekocinya dicuri! Benar-benar holy faggot!”
Tengah malam hari di kota Rokkaku yang biasanya tenang dan nyaman menjadi ribut bak tengah siang hari. Seorang youkai wanita yang jahil tengah berbuat keributan. Ia mengayuh kuat-kuat dayung kayu sebuah sekoci reyot. Sekoci itu melayang di udara, bak ikan anggun di samudera. Namun gerakannya menjadi terlalu kasar tiap beberapa saat. Si youkai poltergeist itu kerap kali menabrakkan kapal rapuh hasil malingnya ke tiang listrik atau pagar rumah warga.
Namun, meski ia terjatuh dari sekoci pun, sang poltergeist tetap memasang wajah senang. Seolah, makhluk gaib itu baru saja mengadakan pesta ulang tahun. Perjalanan bebasnya dengan sekoci pun ia jadikan sebagai hadiah terbaik sepanjang sejarah.
“Ahahahaha! Berkendara ternyata memang enak!”
Si poltergeist, yang berpenampilan seperti gadis remaja, kembali naik ke sekocinya setelah ia terjatuh ke aspal. Ia kembali mengayuh dayung. Tentu saja, tenaga yang ia habiskan sangatlah besar. Poltergeist berbusana kebanyakan merah itu melaju cepat di tengah jalan raya kota. Kilat merah menyusuri lalu lintas sepi.
Sang youkai melepas dayung, menjatuhkannya di lantai sekoci. Napasnya tersengal-sengal, namun bibirnya masih membentuk rupa setengah bulan sabit yang rupawan. Ia membiarkan sekoci yang ia kendarai melaju tanpa hambatan. Tanpa ada dorongan tambahan, sekoci hasil maling itu membawa si youkai makin jauh ke dalam kota.
“Angin kota malam hari terasa nyaman sekali!”
Si poltergeist berkomentar, sambil membaringkan tubuhnya di geladak sekoci. Badannya tak muat semua, kakinya menjulur keluar badan kapal. Meski begitu, ia masih kelihatan santai. Si poltergeist mendongak ke arah gedung-gedung tinggi di kota. Lampu-lampu yang menyala terang, bintang-bintang di langit hitam yang berkedap-kedip redup.
Si poltergeist merasakan hatinya bergetar, jantungnya memacu paksa sebuah emosi yang tertahan. Meski ia youkai, makhluk sentient macam dia pasti memiliki hati. Ia merasakan otaknya memacu semua ingatan yang tersimpan. Memaksanya mengingat kembali dasar dari dirinya sendiri. Kembali, saat dirinya lahir di muka bumi.
Tahun ini adalah tahun 2018. Kurang lebih 150 tahun lalu, si poltergeist lahir. Saat keputusan kaisar Meiji soal restorasi Jepang sedang hangat-hangatnya muncul, ia mengingat bagaimana negara ini kala itu. Langitnya penuh dengan gemintang, satu titik menghasilkan sebuah garis dengan titik lain. Menciptakan kanvas mahaindah kala mentari terbenam, saat bulan datang.
Namun, keadaan sekarang sungguhlah berbeda jauh. Makhluk gaib macam dirinya benar-benar takjub soal potensi manusia. Ia ingat soal pencapaian manusia yang bisa terbang di langit, bisa mendarat di bulan, mampu menjelajah ruang angkasa yang sebelumnya bak pembatas imajinasi. Dibanding dengan pencapaian itu semua, sang poltergeist tidak banyak berubah.
“Lucu, ya? Hahaha… Yang sering mengganggu manusia, justru kagum pada apa yang mereka capai.”
Kala menatap langit, dan kala mengamati gedung-gedung ciptaan tangan manusia itu, si poltergeist merasakan gejolak di dadanya. Sebuah gejolak unik, yang meminta dirinya agar bisa lebih hebat dari saat dirinya waktu pertama lahir dulu.
Ia ingin mencapai apa yang semua makhluk sejenisnya impikan. Sebuah langit. Batasan antara realita dan , antara ada dan tiada. Batasan yang disebut sebagai . Semua asal dari semua hantu bising. Sebuah posisi yang semua makhluk sejenisnya kagumi, impikan, dan banggakan.
Sebuah boundary. Perception dan nonperception. Life dan death.
Ia, sang poltergeist biasa, Horutaa Kaisuto, akan mencapai takhta Lithobolia.
Bahkan kalau perlu, ia akan melampauinya.
Plus ultra.
Setelah menahan raut muka serius, Kaisuto langsung tertawa sendiri. Gelak tawanya menyembur bak air bah. Getaran tawa menyebar di seluruh tubuh, membuat keseimbangan sekoci kembali goyah. Tawa si poltergeist beralih menjadi teriakan kecil saat sekocinya terbalik. Kembali, wajah Kaisuto mencium aspal dengan mesra.
“Adu-duh… Kaisuto-chan harusnya tak boleh bengong…”
Si poltergeist kembali berdiri dari kejatuhannya. Ia lalu menaiki kembali sekoci yang masih melayang di udara itu. Namun, sebelum melakukan gerakan lebih lanjut, youkai bernama Horutaa Kaisuto itu menatap sekali lagi pemandangan kota malam hari. Kekuatan imajinasi manusia, serta upaya mereka yang penuh salah hitung dan keras kepalanya dorongan batin membawa mereka terus hidup hingga sekarang.
Karena sweater merahnya pada tubuh, Kaisuto tak merasakan adanya dingin yang menggigil. Lengan terlampau panjang dari sweater-nya menjamin kehangatan yang hakiki pada seluruh badan bagian atasnya. Angin malam hari mengibarkan rok mini warna merahnya. Ekor kuda menyampingnya dan pita yang mengikatnya kuat juga saling mengikuti arah angin yang silir-semilir.
Namun, adalah hal lain yang membuat tubuhnya jatuh ke dalam jurang melankolia yang membeku. Hal tersebut adalah, harapan dorman nan tua yang menguatkan diri rapat-rapat dalam hati terdalam. Ia tumbuh dan berkehendak menyeruak, ingin mengabarkan kepada seluruh penjuru dunia kalau ia berada di sini. Hidup, tumbuh, dan berkembang layaknya semua hal lain yang ada.
“Kaisuto-chan bakal mencapai dan melampaui manusia! Manusia just can die while fucking!”
Dengan pernyataan berani macam itu, tangan si poltergeist meraih dayung sekoci. Lalu ia mengayuhnya. Kali ini dengan perlahan-lahan, seirama dengan getaran jantung di tubuh perwujudan manusianya. Jantung yang memompa tubuhnya dengan semangat menghadapi apa yang masa depan simpan.
Namun, ada sesuatu hal yang aneh terjadi. Si poltergeist tak mengerti bagaimana caranya, tapi jalan raya megah yang lurus di depan tidak ada. Kegelapan sekarang menggantikan panorama kota Rokkaku. Kaisuto baru sadar akan bahaya apa yang ia lihat setelah tahu kalau kegelapan yang mengitarinya merupakan sebuah lubang tanpa dasar.
Langit indah gemilang yang ia saksikan sebelumnya berada jauh di atas kepalanya. Saat ini, tak tergapai. Namun, bukan namanya Kaisuto apabila ia hanya diam saat jurang aneh tiada batasan menelannya hidup-hidup.
“Sampai mati pun, sampai di akhirat pun, Kaisuto-chan tak akan mau menyerah kalau soal impian!”
Kaisuto memiringkan letak sekoci ke atas. Depan sekoci sekarang menghadap langit malam yang kecil. Lalu, si poltergeist mengayuh dua dayung sekaligus yang tersedia di geladak. Satu dengan kedua tangan, yang satu lagi dengan pikiran. Kaisuto harus melakukan segala cara untuk bisa naik, menuju langit kecil yang semakin menjadi kecil.
Sekocinya bisa naik sedikit demi sedikit, sentimeter demi sentimeter. Namun, meskipun ia merupakan makhluk gaib, ia bukanlah tipe yang bisa seenak hatinya terbang. Si poltergeist masih patuh kepada hukum gravitasi yang mengikat mutlak. Tak ada ruang berkompromi dengan gerak jatuh dirinya dan sekoci yang melaju jauh dari usahanya untuk naik.
Horutaa Kaisuto dan Sekoci Alam Kematian kemudian, tanpa bisa siapa saja ganggu gugat lagi, jatuh menuju yang entah siapa mengerti.
Kaisuto masih menggenggam kedua dayung sekoci kuat-kuat, seolah dayung tersebut adalah kuncinya untuk selamat dari kejatuhan. Namun, sensasi jatuh yang sedari tadi menerpa tubuh si poltergeist menghilang tanpa ia tahu ke mana. Posisi tubuhnya tak lagi hendak gravitasi tarik ke bawah, dan sekoci hasil malingnya melayang lembut bak di atas air tenang. Kegelapan, di lain pihak, masih saja meliputi pandangan.
Lalu, cahaya putih bertatai-tatai muncul. Satu per satu, selanjutnya membentuk lintasan tanpa batas. Cahaya yang saling melanjutkan diri teman di belakangnya untuk menyala menghias kegelapan total. Cahaya yang entah bagaimana cara kerjanya menerangi pijakan di antara satu cahaya di satu sisi dengan sisi yang lain. Aspal baru yang terlihat nyaman ketika seseorang injak pun terlihat.
“Tempat macam apa ini…?! Kaisuto-chan kagum banget!”
Si poltergeist menjadi terpana melihat apa yang ada di hadapannya. Cahaya-cahaya yang menerangi jalan masih terus berlanjut tanpa ada berhenti. Kaisuto merasa seolah apa yang ia saksikan sekarang adalah mirip dengan acara kembang api tahun baru. Hanya saja, semuanya terasa lebih elegan, lebih lembut, memancarkan subtlety yang mengenakkan jiwa.
Di tengah-tengah momen ketika Kaisuto menatap pemandangan tidak biasa sambil menggumamkan “Amazing…”, ada suara anak perempuan yang menyalak. Tanpa ada keramahan, bahkan satu serpih pun.
“Berisik, oi. Jangan sok imut, tolong.”
Kaisuto segera memalingkan wajah, mencari asal suara dingin tersebut. Seorang anak perempuan berambut hitam berantakan dan berpita biru di kepalanya menatap wajah si poltergeist yang kebingungan. Si gadis kecil memakai baju babydoll warna putih dengan kerah yang lebih tinggi dari lehernya. Kerahnya yang begitu tinggi memberikan kesan seperti ia adalah seorang vampir yang baru saja terbangun dari tidur panjang.
Warna kulitnya yang terlampau pucat berpadu satu dengan warna bajunya, menguatkan kesan mengerikan tersebut. Rok hitam selututnya anggun, membuat si gadis layaknya seorang putri sebuah istana indah di suatu dongeng yang terlupakan. Di lain pihak, kaus kaki putihnya menyuarakan rasa kepolosan yang bening tanpa ada noda. Sepatu Mary Jane hitamnya menciptakan kesan seperti sebuah boneka mewah yang misterius kepada si gadis.
Mata milik sang gadis kecil menatap dalam-dalam si poltergeist, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seolah, si anak perempuan sedang menimbang-nimbang, “Orang ini mau aku cincang bagaimana?” Jarak di antara mereka memang cukup besar, tapi orang biasa pasti sudah akan kebingungan hendak bertindak bagaimana kala imajinasi liar amoral mencicipi tubuhnya.
Kaisuto langsung tersenyum lebar ketika melihat seseorang yang lain dari dirinya sendiri. Dunia aneh yang terlalu banyak gelapnya ini bisa sedikit jadi lebih berwarna. Senyumnya khas miliknya: kekanak-kanakan dan seolah tanpa dosa, muncul dan melekat. Namun, si poltergeist bukanlah seorang pribadi yang hendak beramah-tamah pada manusia.
Dia adalah youkai. Adalah sebuah kewajaran apabila youkai mengganggu dan menyiksa manusia, bukan? Kaisuto juga masih mengingat getaran yang jiwanya rasakan kala menatap langit beberapa saat yang tadi. Salah satu langkah mengungguli manusia adalah, tentu, dengan membunuh mereka.
“Utensils Creation: Piring! Piring! Piring!”
Kaisuto menggunakan kemampuannya menciptakan peralatan makan. Ketiga buah piring kaca muncul tiba-tiba dari udara kosong. Piring-piring tersebut lalu melesat bak kilat. Tujuan mereka, adalah si gadis berpita biru. Si poltergeist menggunakan kemampuan utamanya sebagai seorang hantu bising, menyerang pertama kali.
“Membosankan sekali.”
Si gadis berambut hitam hanya memberikan tanggapan dingin. Ia dengan segera merogoh saku rok miliknya. Sebuah gunting hitam yang garang. Si gadis, dengan memalingkan wajahnya dari ketiga piring tersebut, membiarkan tangannya yang memegang gunting bekerja sendiri. Piring, alat makan kaca yang lumayan keras, terpotong-potong oleh kerja gunting yang si gadis pakai. Serpihan-serpihan kaca bekas piring-piring si poltergeist berjatuhan, bak salju.
Semua sistem bahaya otak Kaisuto segera menyala. Orang yang ia lawan bisa melihat tubuhnya meski ia adalah arwah. Terlebih, si gadis sama sekali tidak kelihatan takut. Kaisuto menginjak-injak geladak sekoci yang ia pakai. Tentu saja, ia menjadi kesal karena hasil penciptaannya hancur begitu saja. Tanpa banyak perlawanan, sama sekali. Terlebih, si gadis bukanlah mangsa yang ia inginkan.
“Oi, oi! Gadis kecil! Kaisuto-chan tidak suka! Ini tidak adil! Keadilan di dunia harus tegak, tahu!”
Gadis berpita biru tersebut lalu memasukkan kembali guntingnya ke dalam saku rok. Lalu, dengan melemparkan seringai tajam ke arah si poltergeist, ia mengirimkan kata-kata kasar kepadanya. “Cecunguk memang mesti lemah. Jangan banyak memprotes. Berisik!”
“Fuck you! Manusia memang fucking fucker! Kenapa kamu tidak takut pada Kaisuto-chan?! Kenapa kamu bisa mempersepsikan wujudku ini?!”
Meski Kaisuto menjadi tidak bersemangat, ia masih bisa kesal. Wajah si poltergeist menjadi berantakan. Kata-kata si gadis manusia ini teramat merendahkan dirinya. Meski Kaisuto masih muda dalam ukuran youkai, tetaplah ia memiliki harga diri. Ia tak bisa serta-merta menerima kata hinaan. Terlebih apabila yang menghinanya adalah manusia.
“Karena kamu teramat lemah.”
Lagi-lagi, balasan yang sang gadis muntahkan menyakiti hati Kaisuto. Si poltergeist langsung naik pitam. Ia akan menjaga nama baik dari semua poltergeist. Meski ia hanya anak-anak, ia juga menyandang impian semua makhluk sejenisnya. Si poltergeist tidak akan mau kaumnya orang lain hina. Kaisuto bersiap-siap membalas perlakuan si gadis. Ia bersiap menciptakan peralatan makan dalam jumlah besar. Si gadis hanya berdiri tegap, bersiap menghadapi serangan teramat lemah dari mainan barunya tersebut.
Keadaan akan berubah menjadi berbahaya kalau ini terus berlanjut.
“Permisi, peserta yang budiman! Dengan Soraya Hadyatha dari Hadyatha Group di sini! Sebentar lagi balapan Imagine Road akan dimulai. Para peserta harap bersiap-siap!”
Kemudian, dari arah suatu tempat yang tak kedua gadis ketahui, sebuah suara bersemangat milik seorang gadis muda menyela mereka berdua. Soraya Hadyatha, nama pemilik suara bergairah tersebut, menyentak perhatian kedua orang di dimensi hitam itu. Kedua gadis membuyarkan konsentrasi mereka. Mata milik mereka berdua lalu menyusuri dunia aneh tersebut. Asal suara tadi tidak jelas keberadaannya.
“Oi, maksud kamu dengan balapan itu apa, hah?!” Si gadis berpita biru lalu bertanya. Suaranya penuh dengan kekesalan.
“Balapan, ya, balapan. Ini adalah lomba untuk mencari tahu seberapa kuat impian kalian!”
Suara bersemangat menjawab dengan cepat. Tanggapan yang diberikan kepadanya membuat si gadis berpita biru makin kesal. Mata hitamnya yang membelalak menggerayangi dunia gelap yang ada. Namun, jawaban tersebut malah membuat si poltergeist mengangakan mulut.
Seberapa kuatkah impian seseorang?
Pribadi yang memiliki impian tersebut bahkan kemungkinan tidak akan tahu. Kaisuto memang punya impian besar, tapi ia masih saja berkeluyuran tidak jelas. Selama kurang lebih 150 tahun hidupnya di Bumi, ia hanya terus bermain. Impian yang tidak kuat adalah impian yang tak pantas seseorang miliki.
“Kaisuto-chan… Mau tahu lebih lanjut! Kalau soal balapan, dengan sekoci milik Charon-kun pun Kaisuto-chan pasti bisa menang! Menang dan menjadi yang terbaik~!”
Si poltergeist mendeklarasikan partisipasinya, dengan wajah teramat gembira. Si gadis berpita biru memalingkan mata dari segala penjuru ke satu titik: sebuah eksistensi baru yang sedari tadi membuatnya dongkol.
Si gadis berpita biru kembali mengirimkan tatapan tajamnya ke si poltergeist. “Masih juga sok imut. Mulutmu mirip pipa comberan. Kamu akan jadi mainan yang bagus kalau bisa diam.”
Karena perhatian si poltergeist telah berpindah ke acara balapan yang segera dilaksanakan, ia tak lagi terlalu menghiraukan ucapan kasar milik gadis berpita biru. Kaisuto sekarang menunggu bak anak pintar. Pernyataan lebih lanjut tentang balapan dari sang suara bersemangat misterius adalah fokus si poltergeist saat ini.
“Dalam balapan Imagine Road ini, seluruh peserta datang dari dunianya masing-masing untuk berkompetisi dengan satu sama lain. Kalian akan saling adu cepat untuk sampai pada garis akhir. Tentu, yang pertama sampai adalah pemenangnya. Panitia lomba ini memperbolehkan pertarungan saat balapan.”
“Kalau begitu doang, Kaisuto-chan pasti bakal menang! Kemenangan itu hal mutlak bagi Kaisuto-chan, lo! Hihihi!”
Si poltergeist menanggapi tantangan yang diberikan dengan percaya diri. Gadis berpita biru masih saja memerhatikan tubuh si poltergeist, seolah ia sedang menimbang seberapa berharganya tubuh milik gadis berisik tersebut. Pemberitahuan yang sang suara bersemangat ucap tak begitu ia dengar.
“Akan tetapi! Pada tiap beberapa jarak yang telah panitia tentukan, akan ada sebuah portal berwarna pelangi. Portal-portal terbuat dari besi. Jika seorang peserta melewati portal ini, maka ia akan berevolusi. Entah itu kemampuan, kendaraan, dan/atau bentuk yang kalian miliki, itu akan jadi satu tingkat lebih keren!”
Kaisuto melebarkan kelopak mata dan senyum, bak mengibarkan bendera perang. Si poltergeist merupakan jenis orang yang makin bahagia apabila segala hal tentang kekerenan siapa saja sebut. Kaisuto menyatukan kedua telapak tangannya, lalu mengepalkan mereka. Kedua tangan tersebut lalu bergetar, dan getarannya menyebar di seluruh tubuh miliknya.
“Keren banget! Hebat! Sumpah! Kaisuto-chan suka!”
“Cih. Hanya begitu?” Gadis berpita biru menggelengkan kepalanya. Alisnya kemudian menekuk tajam. “Pertandingan ini tidak seberapa hebat dibandingkan apa yang telah aku jalani dahulu.”
“Sayangnya, Kaisuto-chan tidak meminta pendapat si gadis muram! Hihi!” Kaisuto, mungkin karena menjadi terlalu bersemangat, secara sengaja memberi kayu bakar lebih pada tungku amarah si gadis berpita biru. Tak lupa, juluran lidah si poltergeist melengkapi cemoohannnya.
“Kamu akan kubunuh.”
Respons singkat beserta aura pembunuh yang terpancar dari si gadis muram mungkin mampu membuat orang waras mana saja diam dalam pelukan takut. Sayang sekali, tapi si poltergeist sama sekali tidaklah waras. Mendapatkan tanggapan adalah apa yang bully mana saja mau. Si poltergeist justru tersenyum makin lebar. Si gadis berpita biru menatapnya tepat pada bola mata, membayangkan bagaimana ia bisa mencongkel dan mengiris-irisnya dengan gunting yang ia punya.
“Sudah, sudah. Hentikan dahulu emosi berapi-api kalian. Kalian bisa mencurahkannya semua saat balapan dimulai!” Komentar dari sang suara bersemangat membuat suasana yang tegang menjadi lebih nyaman. Kedua peserta bersama-sama mengalihkan pandangan mereka dari lawannya.
“Namun sebelum itu, aku akan mengenalkan kedua peserta yang mengikuti balapan Imagine Road sesi ini!”
Baik si poltergeist dan si gadis berpita biru kembali saling berhadapan. Ini adalah saat yang tepat bagi mereka berdua untuk saling “mengenal” satu sama lain. Kamu harus kenali musuhmu agar bisa menang. Kaisuto menyiapkan seluruh konsentrasinya.
“Dari sisi panitia adalah Abigail Grey, Bocah Berpita Biru. Ia adalah seorang manusia dari realm Istana Kaca. Umurnya 10 tahun. Waktu kompetisi sebelumnya, sekitar empat tahun lalu, ia pernah menjadi hantu. Dia menolak semua kendaraan yang panitia sediakan, dan kendaraan pilihannya sulit untuk panitia bawa. Weak spot-nya terletak di pita, lo~!”
Si poltergeist mengangguk berlebihan. Mentalnya mencatat data diri lawannya. “Hm, hm! Begitu ternyata! Kamu pernah menjadi hantu, makanya kamu bisa melihat Kaisuto-chan yang juga sejenis dengan hantu!”
Kaisuto lalu menyenyumi Abigail. Senyumnya ramah. Kalau penerimanya adalah orang biasa, hatinya pasti akan menjadi hangat. Namun, Abigail hanya terus diam dan menatap si poltergeist. Wajahnya masih cemberut, kemungkinan permanen.
“Dari sisi penantang adalah Horutaa Kaisuto, Congregation of Nonperceptible Kinesis alias Poltergeist. Seperti kelihatan dari julukannya, ia merupakan seorang poltergeist. Umurnya kurang lebih 150 tahun. Ia membawa kendaraan yang ia curi dari seorang shinigami pengayuh, yakni Sekoci Alam Kematian. Sekoci ini adalah sekoci pada umumnya, hanya saja ia bisa melayang di udara. Weak spot si poltergeist ini terletak pada motivasinya yang kurang!”
“Aku pasti akan membunuhmu.” Abigail berkata dengan penuh percaya diri. Dia lalu, untuk pertama kalinya selama pertemuannya dengan si poltergeist, tersenyum. Sayangnya, senyum yang si gadis berumur 10 tahun itu buat adalah senyum yang benar-benar menakutkan.
Kaisuto membalas perbuatan Abigail dengan senyuman bodohnya sendiri. “Senang berkenalan denganmu, Grey-kun! Mari kita balapan dengan sepenuh hati!” Si poltergeist memberikan dua jari tengah di tangannya. “Sayangnya kamu fucking faggot, sih, jadi Kaisuto-chan pasti akan menang!”
Abigail kehilangan senyum di wajahnya. Wajahnya kembali pada mode cemberut. Ia pun lalu memalingkan muka ke depan, ke arah jalan yang cahaya-cahaya putih terangi di kedua sisinya. “Aku akan mencincangmu menjadi potongan-potongan kecil.”
Kaisuto melakukan hal yang sama. Ia sekarang memegang dayung dengan kedua tangannya, sementara satu dayung yang lain ia pegang dengan kekuatan psychokinesis-nya. Wajah si poltergeist masih sama seperti biasanya: kekanak-kanakan dan penuh kebahagiaan. “Kaisuto-chan akan menakuti dan menyiksa dirimu sampai kamu menyesal pernah ibumu lahirkan ke dunia ini.” Bahkan, ancaman yang keluar dari mulutnya pun penuh ekspresi terlewat senang.
“Kalau begitu, aku akan mulai menghitung mundur. Pada hitungan kesatu, perlombaan Imagine Road secara resmi akan aku mulai!”
Kedua peserta yang ada saling mempersiapkan diri. Si poltergeist sudah siap untuk mengayuh dayung yang ia genggam kapan saja. Sementara itu, si gadis berpita biru akan siap berlari menggunakan seluruh kekuatan yang ia punya.
“Tiga.”
Fokus masing-masing kepala peserta adalah di depan. Di jalur balap berliku di tengah dunia yang gelap. Kedua pasang bola mata mereka hanya menatap akhir jalur, yakni garis finis. Masing-masing peserta memiliki impian mereka sendiri-sendiri, itu adalah hal yang pasti. Kemungkinan, pada garis akhir tersebut, apa yang mereka inginkan nanti akan muncul.
“Dua.”
Meski begitu, tiap-tiap peserta tak hanya bertujuan untuk menang saja. Kaisuto ingin membuat si gadis ketakutan lalu membuatnya merasakan neraka dunia bernama penindasan yang kuat pada yang lemah. Abigail di lain pihak hanya ingin menggunakan guntingnya untuk memotong-motong benda yang sedari tadi menarik perhatiannya.
Jantung milik Kaisuto berdegup kencang. Seluruh momen yang pernah ia lewati pada kehidupannya muncul di kepala sebagai rentetan gambar. Mereka semua memberi semangat pada diri si poltergeist untuk maju.
Kaisuto tidak akan mau mengkhianati perasaan yang tengah ia rasakan sekarang.
“Satu!”
Semua pembatas Kaisuto lepas. Pembatas kalau ia tidak bisa, kalau ia tak akan mampu, pembatas kalau ia tetap akan diam di tempat dan terlena dalam zona nyaman. Hari ini adalah hari yang istimewa. Si poltergeist mengerahkan seluruh otot di tangannya mengayuh dayung kencang-kencang.
Kaisuto mampu meraba seberapa bisa diandalkannya dayung kayu sekoci yang ia pakai. Dayung yang satu lagi tak mau kalah. Meski Kaisuto hanya menggunakan tenaga mentalnya saja, dayung tersebut bergerak lancar dan kuat. Akibat gabungan dari kedua tenaga yang si poltergeist kerahkan, Sekoci Alam Kematian melaju ke depan.
“Yuuuuhuuuu~! Kaisuto-chan meluncur cepat, lo! Iyeeeeeeey~! Hahahaha!”
Si poltergeist begitu senangnya sampai lupa kalau ia memiliki lawan dalam perlombaan balap ini. Di belakangnya, Abigail mengejar sekoci Kaisuto dengan melayang. Dengan melayangkan tubuhnya, si gadis berpita biru menjadi lebih mudah bergerak karena tidak ada friksi yang menahannya.
“Jangan senang dulu, hantu payah.”
Abigail berusaha keras menyamai kecepatan milik si poltergeist. Kaisuto, sayangnya, tidak memperhatikan musuhnya. Ia justru menatap lurus ke depan, tertawa lepas akibat adrenalin yang mengalir deras di tubuh. Si gadis berpita biru lantas menjadi kesal.
“Kalau orang bercakap denganmu, ya jawab!”
Abigail merogoh gunting ajaib dari dalam saku roknya. Ia lalu melompat ke arah sekoci yang tengah melaju tersebut. Tangan yang menggenggam gunting ia arahkan ke mangsanya, bersiap untuk melakukan serangan. Nyawa Kaisuto sekarang tengah ada di tangan Abigail.
“Utensils Creation: 100 Garpu Besi!”
Tepat saat Abigail melompat dan hendak masuk ke sekoci, Kaisuto merapal mantra kemampuan khusus yang ia banggakan. Seratus buah garpu makan dari besi muncul dari udara kosong. Semua peralatan makan runcing ini mengarahkan ujungnya ke arah badan si gadis berpita biru. Ratusan garpu tersebut lalu bergerak cepat, akibat kemampuan dasar seorang poltergeist.
“Sialan!”
Abigail bukanlah gadis yang bodoh dan polos, tentu. Ia tahu akan bahaya kalau tubuhnya kena hantam seratus buah garpu sekaligus. Akan ada banyak lubang nanti, dan akan ada banyak darah pula yang berceceran. Si gadis tak mau mengambil risiko lebih lanjut. Begitu ia melihat seratus garpu milik si poltergeist bergerak ke arahnya, Abigail menonaktifkan kekuatan melayangnya.
Gravitasi pun menarik beban tubuh Abigail. Kaki milik si gadis berpita biru pun bertumbukkan dengan aspal jalur balapan. Meski ia benar-benar tidak suka akan jeritan nyaring, Abigail tak bisa menahan tubuhnya melakukan pekerjaannya. Rasa sakit pada pergelangan kakinya membuatnya mengucurkan keringat dingin.
Namun, ini adalah sebuah keberuntungan. Seratus garpu milik si poltergeist tak bersarang pada tubuhnya. Seratus garpu tersebut malah bersarang di aspal. Menyebutnya “bersarang” bukanlah sebuah hiperbola: beberapa dari mereka benar-benar tenggelam di dalam aspal keras. Yang lain hancur akibat berbenturan dengan benda padat, menyisakan banyak serpihan besi.
“Grey-kun! Bon voyage! Au revoir! Auf wiedersehn! Arrivederci! Adios!”
Rentetan ucapan asing bahkan bagi telinganya sendiri Kaisuto ucap satu per satu. Si poltergeist kemudian melanjutkan acara mengayuhnya. Kedua dayung yang bergerak bersamaan membuat Sekoci Alam Kematian melaju bak halilintar. Si gadis berpita biru pun hilang dari hadapan Kaisuto.
Di belakang sekoci yang melaju kencang itu, Abigail berusaha berdiri. Pergelangan kakinya yang kanan benar-benar terasa sakit, seolah otot-ototnya bengkak dari dalam dan memukuli kulit dan tulangnya tanpa rasa belas kasih. Kakinya yang kiri masih mampu menyangga beban tubuh, tapi tetap saja, rasa sakit yang masih ada membuat si gadis meringis.
Namun mengejutkannya, si gadis berpita biru tersenyum. Kedua matanya memancarkan sinar bahagia, seolah mereka mendapatkan target yang benar-benar layak di-cross hair. “Kamu akan aku bunuh, lo, hantu bangsat.”
Bibir pucat milik Abigail melebar, menciptakan sebuah bentuk senyum yang mengerikan. Lalu, lengkungan tersebut buyar. Si gadis menyebarkan bentuk tubuhnya, menjadi sekumpulan asap putih. Sekumpulan asap ini kemudian melaju. Mengejar—atau malah melampaui—mangsanya.
Abigail dalam bentuk kepulan asap mampu menyamai kecepatan dari Sekoci Alam Kematian. Kaisuto yang melihat datangnya asap aneh di dekat sekocinya menjadi waspada. Namun, melihat hal yang si gadis lakukan membangkitkan rasa penasaran si poltergeist. “Kamu keren sekali, Grey-kun! Grey-kun versi asap! Smoking through the butthole Grey-kun! So fucking cool!” Kaisuto bertepuk tangan dengan riuh.
Akibat seluruh fokus mentalnya ia alihkan untuk bertepuk tangan, kecepatan dan keseimbangan sekoci mulai bergoyang. Si Abigail asap tak perlu pikir dua kali untuk mengambil kesempatan manis ini. Kesempatan untuk mendahului si poltergeist dan mencapai portal checkpoint.
Kekuatan milik si gadis berpita biru saat ini masih belum cukup untuk menghadapi Kaisuto. Tapi, kalau dengan melewati portal pelangi yang sebentar lagi akan ia capai, maka salah satu kekuatannya bisa naik satu tingkat lebih keren. Abigail tersenyum dalam bentuknya yang abstrak ini, tertawa atas rencananya yang bisa berhasil secara mudah dan sempurna.
“Aduh… Kaisuto-chan terlalu membuat gaduh…”
Si poltergeist buru-buru menyesali konsentrasinya yang tercerai-berai. Luka-luka hasil kecerobohannya sebelum dibawa ke dimensi aneh ini masih ada, dan luka baru yang ia terima makin membuat semua bagian tubuhnya meringis dalam sakit. Darah poltergeist, yakni energi spiritualnya, mengalir perlahan dari luka-luka di lutut dan sikunya. Energi spiritual dalam bentuk asap abu-abu tersebut memang tidak keluar terlalu banyak, tapi luka bagaimana pun bentuknya tetap saja membuat sakit. Namun, Kaisuto masih bisa tersenyum lebar.
Si poltergeist masih harus berjuang! Ia dengan segera berdiri dari kejatuhan. Kaisuto lalu membenarkan posisi sekoci hasil malingnya. Ia lalu naik. Dengan segala prosedur standar, si hantu bising kembali melaju di jalur balap. Senyum dan wajah bodohnya yang kemungkinan abadi menghiasi postur Kaisuto.
Tepat di depan portal pelangi pertama, si gadis berpita biru menghadang. Ia sekarang tak lagi berada dalam bentuk asap, melainkan telah menjadi manusia kembali. Kakinya yang kanan masih terlihat bengkak. Namun, Abigail berdiri dengan tegap dan penuh rasa percaya diri.
“Halo, Grey-kun! Kenapa berhenti di sini? Padahal Grey-kun lebih cepat daripada Kaisuto-chan, lo! Apa Grey-kun mau masturbating publicly?”
Kaisuto bertanya. Wajah si poltergeist tampak polos, seperti yang sebuah keharusan yang mutlak. Namun, ia bukanlah orang yang teramat bodoh sampai tidak bisa waspada. Si gadis pasti menyembunyikan hal aneh. Ia tak akan mungkin mau menghadang musuh padahal ia bisa melaju kencang lebih dulu.
Abigail terus memasang wajah pokernya, meski kadang-kadang bibirnya bergerak melebar ke salah satu sisi dengan jelas. Si poltergeist menyiapkan pikirannya atas apa yang nanti bakal terjadi selanjutnya. Intinya, Kaisuto tidak boleh menjadi lengah. Tidak boleh, dan tidak akan pernah.
“Berisik kau, bajingan. Aku kewalahan gara-gara jurus kotormu itu. Tahu tidak? Bagimu kekuatan kamu cuma sampah. Aku benar-benar akan membunuhmu, kamu tahu?”
“Tidak. Kaisuto-chan tidak tahu. Dan, mungkin Kaisuto-chan juga bakal tak akan terlalu peduli.” Dengan bermodalkan keberanian saja, si poltergeist membalas amarah Abigail. Si gadis berpita biru hanya memuntahkan tawa pendek, sebelum kembali pasang wajah default-nya yang cemberut dan tidak imut.
“Aku telah berevolusi, kamu tahu?” Senyum mencekam dari si gadis kembali datang ketika ia mengucapkan kalimat tadi. Kaisuto hendak membuka mulut untuk membalas dan mencemooh, namun gerakannya terhenti saat Abigail kembali mengeluarkan suaranya. “Kamu pasti akan aku bunuh.”
Sebagai ganti tidak mendapat kesempatan untuk melawak, Kaisuto malah makin menyiapkan diri. Si poltergeist tidak tahu kekuatan apa yang si gadis muram ini naikkan levelnya. Tebakan pun hanya membuatnya bingung, jadi Kaisuto menolak untuk membuat asumsi apa saja.
Tapi, ada hal yang jelas. Bahaya. Ini bahaya namanya. Si poltergeist belum melewati satu portal pun, sementara musuhnya telah mendapat kekuatan lebih dibandingkan sebelumnya. Kaisuto meneguk air ludah yang sedari tadi tersimpan di dalam mulut. Rasanya pahit, sama seperti keadaan pertarungan yang merepotkan dirinya saat ini.
Abigail merogoh saku roknya, dengan kedua tangan. Satu pasang gunting hitam senada dengan kemuraman sang gadis pun muncul. Kedua tangan Abigail menggenggam tiap gunting dengan erat. Masing-masing dari mereka memantulkan cahaya putih dari penerang di dua sisi jalur balap. Sinar hasil pantulan berkilap sembari membawa pesan kematian teramat jelas, seperti dewa gemintang jahat Amatsu-Mikaboshi.
Ia sekarang punya dua bilah gunting. Satu senjata lebih banyak dari awal. Kaisuto kemudian paham. Berarti, naik tingkatan juga bisa mempengaruhi jumlah senjata yang seseorang bawa. Hal baru ini, sayangnya, tidak terlalu penting bagi si poltergeist. Ia adalah pengguna senjata yang tidak akan habis selama ia masih punya tenaga.
Ini tak menguntungkan. Senjata khusus milik seseorang akan menjadi senjata yang ampuh di tangan orang tersebut. Senjata yang khusus akan menyatu dengan pemiliknya, dan kemampuannya pun akan terus terasah. Tidak seperti si gadis, Kaisuto tidak pernah memiliki satu pun senjata khusus. Lebih buruknya, si gadis sekarang punya dua gunting ajaib.
“Utensils Creation! Seratus piring, seratus pisau makan!”
Sesuai dengan apa yang ia ucap, peralatan makan yang si poltergeist buat muncul. Seluruh peralatan makan tersebut pun melaju ke arah si gadis. Si gadis tidak menghindar. Abigail tetap tersenyum. Gunting milik si gadis berkilauan terang.
Sedetik kemudian, kedua gunting ajaib Abigail membesar. Sebesar—atau justru malah melebihi—ukuran tubuh penggunanya. Si gadis berpita biru menggerakkan dua gunting di tiap tangannya bak sedang menari dengan seorang pangeran. Sepasang gunting membuka dan menutup bilahnya. Dengan cepat. Milidetik demi milidetik.
Tak perlu waktu lama sampai semua kiriman peralatan makan Kaisuto habis dibabat. Tak ada lagi sisa. Tidak ada yang utuh. Semua berhamburan. Semburat pelangi monokrom gugur. Sekarang giliran wajah Kaisuto yang menekuk. Tenggelam dalam kesal serta putus asa.
“Sama seperti yang tadi: lemah! Benar-benar gampangan! Dasar poltergeist rendahan!”
Kaisuto menatap geladak kapal dengan mata berkaca-kaca. Posisi antara pem-bully dan yang ter-bully telah berbalik sekarang. Kata-kata kasar dan hinaan dari si gadis berpita biru memukul tubuh si poltergeist. Lidah Abigail telah berhasil mencambuk semangat dan motivasi Kaisuto.
Sepertinya hal macam kemenangan yang mudah adalah sebuah kemustahilan. Kaisuto paham benar hal ini. Perjuangan untuk mencapai impian tidak akan semudah itu bisa diraih. Impian yang diraih semudah membalikkan telapak tangan adalah impian hampa. Tidak berguna. Namun, impian yang bakal terjebak dalam kerangkeng untuk selamanya lebih buruk dibanding dengan yang tidak berguna.
Impian seperti itu hanyalah sampah semata.
Karena telah paham akan fakta menyakitkan tersebut, si poltergeist menaikkan dagunya. Ia kemudian menatap bola mata milik si gadis berpita biru. Mata, bibir, alis, raut wajah, dan gerakan tubuhnya semua tersenyum. Bahagia.
“Oleh karena itulah Kaisuto-chan tidak akan menyerah! You humans can’t tear my cunt!”
Dari seratus piring dan pisau makan yang ia lempar dan Abigail hancurkan, ada satu yang selamat. Ada satu harapan. Harapan besar. Satu bilah pisau makan yang telah berpisah jauh dengan gagangnya, mungkin untuk selamanya. Sebilah pisau ini adalah yang pertama kali gugur. Namun, Kaisuto melebihkan porsi fokus mentalnya pada mata pisau ini.
Untuk apa? Untuk membuatnya bisa merayap diam-diam di dekat leher si gadis, tentu.
“Skakmat, lo, Grey-kun! Kamu bakal Kaisuto-chan cincang-cincang di sini! Die while pissing your love juice, Grey-kun!”
Abigail merasakan dinginnya sebilah pisau makan yang menekan lehernya. Dengan psikokinesis teramat jeli, bilah tersebut berada tepat di atas urat nadi utama ke otak. Bila pembuluh darah ini putus, maka hidup si gadis tinggal menghitung menit. Impiannya agar bisa bertemu dengan Amelia kembali harus terpaksa pupus.
Memaksa lalu mati konyol, atau menyerah kemudian menahan rasa sakit di dada selama-lamanya? “Dasar bodoh. Kamu kira ancaman semurah ini bisa menyudutkanku?” Yang tadi si gadis ucap bukanlah sekadar gertak sambal. Abigail memang bukanlah jenis lawan yang semudah ini dikalahkan penantangnya. “Evaporasi.”
Tubuh milik si gadis berpita biru kembali berubah menjadi kepulan asap putih. Dua buah gunting raksasa dan sebilah pisau makan si poltergeist pun juga ikut menjadi asap. Asap tersebut kemudian bergerak ke atas portal pelangi. Lalu, seluruh asap yang ada kembali menyatu dengan yang lain. Bentuk sempurna dari Abigail dan dua senjatanya pun selesai tercipta ulang. Kaisuto menatap peristiwa tersebut dengan mata membelalak.
“Yang berevolusi bukanlah jumlah senjataku. Tapi, kemampuan evaporasiku. Aku juga bisa mengevaporasi sempurna benda yang berada dekat dengan tubuhku. Termasuk…” Abigail memberi jeda. Ia kemudian menyatukan satu kepulan asap kecil yang tersisa di atas salah satu gunting raksasanya. Sebilah pisau makan yang selamat dari pembantaian barusan, harapan milik Kaisuto, muncul. Si poltergeist terpaksa melihat bagaimana gunting raksasa tersebut bisa menghancurkan benda sekecil itu dengan teramat tepat. “Skakmat gagalmu.”
“Tidak mungkin…”
Kaisuto tak kuasa menahan air mata kecewanya keluar. Abigail menyenyumi suara kesal lirih yang keluar dari mulut si poltergeist. Senyuman seorang pemangsa yang teramat bahagia. “Sudah aku bilang, aku pasti akan membunuhmu.”
Sebagai penabur garam di atas luka yang perih, Abigail menggunting menjadi dua portal pelangi pertama. Si gadis melayang dan tidak terjatuh. Suara runtuhnya portal pelangi memberikan luka di hati si poltergeist. Rencananya, yang ia kira telah matang, runtuh seperti kehancuran portal keren yang beberapa saat yang lalu masih berdiri dengan gagah berani.
Kaisuto larut dalam mode kekurangan motivasi. Si gadis muram telah mengirimkan banyak penghinaan tepat di hadapan muka si hantu bising. Seluruh tenaganya untuk membalas serangan tersebut habis tiada bersisa apa-apa. Semangatnya benar-benar telah hancur lebur. Sang musuh, si gadis muram yang kini super bahagia, menggelinjang hebat karena klimaks. Si poltergeist mengalihkan perasaannya yang galau dengan menggenggam erat dua dayung sekocinya, baik dengan tangan maupun dengan pikirannya yang tengah amburadul. Melihat si poltergeist melakukan tindakan kelewat putus asa membuat Abigail tergelak tak keruan.
Meskipun telah menghadapi krisis tingkat berat pertama, Horutaa Kaisuto tetaplah seorang Horutaa Kaisuto. Wajahnya kembali bersinar terang. Gemilang senyumnya kembali datang.
“Bangsat… Kamu sudah gila…?!” Si gadis berpita biru bertanya retoris. Tak ia sangka, si poltergeist malah mengangguk setuju dengan seluruh tenaganya.
“Mungkin saja.” Tenaga yang sekuat atau bahkan melebihi anggukan kepala Kaisuto membawa kedua dayung sekoci mengayuh dengan kecepatan abnormal. Sekoci rapuh tersebut kemudian kembali melaju kencang. “Meski Kaisuto-chan tidak memiliki motivasi lagi untuk mengalahkan Grey-kun, Kaisuto-chan tetap ingin menang balapan, tahu! Kaisuto-chan pasti yang akan menang! Grey-kun just can fuck her own ass!”
Si poltergeist meninggalkan si gadis muram. Abigail merasa apa yang telah ia perbuat adalah kesia-siaan belaka. Ia tak suka orang lain bodohi macam ini. Dengan seluruh perasaan kesalnya, si gadis muram terbang melayang. Mengejar mangsanya yang lagi-lagi kabur.
Namun, si gadis juga merasakan emosi senang yang aneh. Ia merasa tertantang ingin menghancurkan si poltergeist sampai sehancur-hancurnya. Menghabisi tiap-tiap harapannya yang ada. Memerkosa seluruh jiwanya sampai ia menjadi sayur hidup. Abigail juga tak ingin kalah. Kedua gadis yang sama-sama tidak normal itu pun saling berbalapan.
Abigail mengikuti buritan sekoci. Ia menyiapkan dua gunting raksasanya. Memotong sekoci rapuh adalah pekerjaan mudah. Namun, Kaisuto menyadari ada lawan di belakangnya. “Utensils Creation! 50 gelas kaca! 50 piring melanin!” Seperti yang telah si poltergeist ucap, peralatan makan dalam jumlah tadi muncul. Mereka bergerak cepat ke tubuh si gadis berpita biru.
“Masih terlalu lambat.”
Abigail lebih cepat. Ia menggunting habis benda-benda yang melayang ke arahnya. Namun, karena ia fokus melayang, beberapa serpihan kaca dan plastik yang berujung tajam menghantam wajah. Ada beberapa yang hendak masuk ke dalam mata kiri.
“Evaporasi!”
Usaha penyelamatan mata si gadis dari kebutaan sukses dengan perubahannya menjadi kepulan asap. Sayangnya, Abigail terpaksa meninggalkan pergi sekoci yang si poltergeist tunggangi. Asal dirinya tidak terluka parah, hal itu tidaklah penting.
Setelah menaruh kepulan asap kecil hasil kumpulan serpihan-serpihan di tempat yang jauh dari tubuhnya, si gadis berpita biru membatalkan sihir evaporasinya. Apa yang ia lihat setelah matanya selesai kembali pada bentuk semula adalah sebuah tinju besar.
“Kejutan dari Kaisuto-chan, Grey-kun! Bully Punch!”
Abigail tidak bisa merespons dengan cepat. Hantaman tinju mentah milik si poltergeist kena ke wajahnya. Si gadis terpelanting. Ternyata, Kaisuto mengambil risiko teramat riskan. Ia dengan bodohnya maju ke musuh yang ahli dalam pertarungan jarak dekat. Si hantu bisa saja terbunuh kalau taruhannya gagal. Ajaibnya, ia berhasil. Kaisuto meneriakkan nyaring kata-kata “Iyeeeeeeyyy~!” sembari dirinya berlari kembali ke Sekoci Alam Kematian.
Si poltergeist menaiki sekoci dan dengan segera memacunya pergi. Tubuh si hantu bising masih belum kelelahan, karena ini masihlah rintangan pertama. Beberapa saat lagi akan ada portal pelangi kedua. Kalau ia bisa melewatinya, maka sedikit beban Kaisuto bisa berkurang. Si poltergeist kembali berteriak, mengeluarkan perasaan ketegangan membuncah di dalam dada.
“Awas kau, hantu bajingan! Trik kotormu~ akan aku potong menjadi da~du♪!”
Abigail menyenandungkan ucapan terornya. Ia yang melayang melaju dengan kecepatan yang tak kalah cepat, memaksakan tubuhnya yang penuh luka terus menuju ke depan. Si gadis berpita biru tidak akan membiarkan Kaisuto mencapai portal pelangi dan berevolusi. Abigail akan melewatinya duluan, lalu menghancurkan semuanya!
Senyuman mencekam milik si gadis muram kemudian melesat terus ke depan. Kaisuto dan teknik kayuh sekocinya masih kalah cepat. “Utensils Creation! Surprise Attack!” Namun, si poltergeist masih belum mau menyerah. Ia menggunakan jurus serangan kejutan, yang bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu akan muncul di mana dan akan seperti apa.
Beberapa peralatan makan acak muncul di atas kepala dan bawah kaki Abigail. Jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding si hantu bising terang-terangan mengatakan jumlahnya. Alat makan tersebut terbang berhamburan ke arah si gadis berpita biru. Ini memanglah serangan kejutan yang cukup efektif!
Abigail berdecak kesal. Ia tidak akan bisa menggunakan gunting raksasa pada jarak dekat. Si poltergeist menyenyumi keberhasilan serangan kejutan acaknya. Dewi keberuntungan masih berpihak padanya. Namun, si gadis berpita biru tak akan mudah terpojokkan.
Sama seperti lawannya yang ingin ia hancurkan dan potong-potong, Abigail menyempatkan diri melebarkan bibir dalam bentuk senyuman. Jika senyum milik Kaisuto adalah senyum naif milik anak-anak penuh kebahagiaan, maka milik si gadis muram tentu adalah kebalikannya. Abigail memiliki senyum orang dewasa yang telah terlalu banyak mencicipi darah.
Kedua gunting di tangan ukurannya menyusut. Mereka menjadi berukuran layaknya sebuah gunting pada umumnya. Namun, masing-masing bilah pemotong gunting tersebut masih memantulkan kilau haus darah.
Si gadis muram menari dengan gunting miliknya. Membuka dan menutup sepasang bilah tiap gunting, memotong kasar apa saja yang bergerak padanya. Terlebih, kecepatan tiap alat makan yang menyerangnya terlalu lambat! Si gadis mengutuk si poltergeist yang berani meremehkannya. Ini sama sekali bukan serangan kejut!
Ketika semua peralatan makan pengganggu telah hancur semua, Abigail menyisir pemandangan sekitar. Apa ada serangan dan muslihat licik lagi? Namun, yang ia lihat adalah jalur balap yang kosong. Baik si hantu sialan dan senjatanya telah pergi meninggalkan si gadis.
“Hantu bangsat! Dia kabur dariku!”
Setelah sadar kalau dirinya kena tipuan, Abigail mempercepat laju melayangnya. Si poltergeist berengsek itu benar-benar kelewatan. Seenaknya saja telah mencari mati dan malah menipunya mentah-mentah. Si gadis berpita biru bersumpah akan menguliti habis-habisan si wanita bangsat itu dan mengenakan pakaian darinya!
Namun, sekuat apapun Abigail melayang, Kaisuto dan sekocinya jauh lebih cepat. Si poltergeist sebentar lagi akan mencapai portal pelangi pertamanya. Si gadis berpita biru berdecak kesal. “Cih! Mana mungkin aku bisa sempat!”
Jarak antar dua peserta lumayan jauh. Tidak mungkin dalam waktu cepat Abigail mampu membalap laju sekoci. Wajah si gadis makin bertambah muram dan cemberut kala menyaksikan si poltergeist melewati portal pelangi. Cahaya pelangi menyelimuti tubuh dan kendaraan Kaisuto. Si hantu bising terus berteriak kesenangan melihat putaran-putaran cahaya melakukan atraksi keren di tubuhnya.
Hasil evolusi pertama si poltergeist menaikkan tingkatan kendaraannya. Di belakang Sekoci Alam Kematian, muncul sebuah mesin motor diesel kapal. Kaisuto segera mengemudikan sekoci hasil upgrade-nya untuk menabrak portal pelangi. Abigail langsung tahu apa yang akan ia perbuat: meruntuhkan portal pelangi. Si gadis muram tentu tak akan mau hal itu terjadi. Ia menaikkan kecepatan melayangnya.
“Kamu terlambat, Grey-kun! Impianmu bisa kamu masukkan ke dalam your fucking ass saja!”
Kaisuto berteriak kencang. Mesin motor diesel memacu sekocinya bertubrukan dengan salah satu tiang portal. Terus-menerus. Tiang portal tersebut lalu roboh akibat hantaman beruntun.
Abigail terlambat. Amarahnya yang memuncak membuatnya membesarkan ukuran kedua guntingnya. Lalu, seperti seekor banteng yang mengejar matador yang berani mengusiknya, si gadis meluncur ke arah si hantu bising.
“Aku akan membunuhmu, aku pasti akan membunuhmu!”
Teriakan milik si gadis penuh dengan amarah. Bilah masing-masing gunting bersanggit, menciptakan suara goresan logam yang menyumbat telinga dalam takut. Gerakannya tidak akan bisa berhenti, karena si gadis benar-benar ingin mencincang habis si poltergeist.
“Uwaaaah~! Ada Grey-kun! Takut~! Hihi! Jangan makan aku, dong, Grey Shark-kun~!”
Yang dimangsa justru membawa situasi serius begini dengan candaan konyol. Namun, Abigail tak peduli. Jika ia bisa mendekat lebih dekat lagi, si hantu bising tak akan mampu menghindar atau melakukan trik kotor. Dengan begitu, skakmat!
Sayangnya, si gadis berpita biru lupa satu hal. Sekoci yang sekarang menggunakan tenaga mesin diesel mampu berakselerasi lebih cepat daripada upayanya memotong jarak.
“Iyeeeeyyyy~! Grey-kun! Lain kali lagi, ya~! You are weak like a century of saggy breasts!”
Kaisuto terus maju ke depan. Abigail makin marah. Orang yang lebih lemah dari dirinya menipunya, membuatnya malu dan terpojok. Makhluk tidak jelas begitu berani mengoloknya, berani menghina impian yang ada di dalam hatinya. Si gadis mulai menggeretakkan gigi atas dan bawahnya, sembari otaknya mulai berpacu dalam fantasi.
Fantasi untuk membalas perlakuan sialan yang si hantu bising perbuat padanya.
“Oi, hantu konyol. Kelakuanmu sudah keterlaluan, kau tahu? Aku tidak akan bermain-main lagi! Aku pasti, pasti! Pasti! Akan membunuhmu!”
Meski entah berapa kali si gadis telah mengucapkan hal tersebut, telinganya tak pernah merasa bosan sepertinya. Abigail memacu lebih cepat. Meski kaki kanannya masih sakit seperti terbakar, ia tetap harus mengejar si hantu bising.
Meski ia telah berevolusi, kemampuan evaporasi tambahan milik Abigail tidak terlalu berguna. Ia tak bisa menggunakannya untuk melaju lebih cepat. Si gadis hanya bisa menggunakannya sebagai pertahanan terakhir. Juga, ia tak bisa melihat dan merasakan musuh dalam bentuk kepulan asap. Bogem mentah si poltergeist masih terasa hangat di pipinya.
Abigail benar-benar berada dalam posisi tidak menguntungkan sekarang.
“Cih… Aku terus saja terjebak dalam kekonyolan semesta, Amelia…”
Ia meninggalkan satu-satunya orang yang mengerti dirinya, semua gara-gara kompetisi konyol yang terus-menerus menggunakan dirinya kembali sebagai tumbal. Abigail tak mau para panitia lomba sinting ini permainkan. Ia bukan sekadar pion. Ia juga manusia bebas yang berhak memilih bagaimana ia akan hidup.
Seberapa kuatkah permintaan egois Abigail ini? Ia sendiri pun tidak tahu.
Namun, bagaimana pun, perasaan yang ia rasa benar-benar nyata. Apa yang membuat jantungnya menjadi sakit kala mengingat wajah Amelia adalah kenyataan. Kata-kata permohonan maafnya yang tulus mengetuk-ngetuk meminta keluar lebih cepat dari mulut dan raganya. Air mata yang ia tak mengerti bisa tidak mau turun membuat tubuhnya meriang.
Abigail ingin bertemu Amelia, melanjutkan kembali semua yang telah mereka jalani bersama-sama. Si gadis berpita biru merasa benar-benar harus memenangkan perlombaan ini. Meski ia terpaksa melakukannya oleh para panitia, Abigail merasakan harapan untuk bisa bebas. Apa yang garis finis nanti tawarkan? Apakah akan ada terkabulnya harapan?
Abigail ingin menjadi yang pertama melalui garis akhir dan mengetahuinya.
Seluruh keegoisan polos yang ada pada diri si gadis membuat tubuhnya terbakar dalam api semangat. Api yang juga membuat tubuhnya seolah lebih ringan, membuatnya mampu melesat bahkan lebih cepat dari mesin motor diesel.
Abigail harus menang. Seluruh perasaan yang tengah mengguncang jiwanya, seluruh ingatannya bersama Amelia, baik yang kelam dan yang indah, ia akan menjaganya sampai akhir. Abigail akan mewujudkan harapannya.
Ia tak akan dengan senang hati kalah dengan hantu bising belaka!
“Awas! Awas! Awas! Kau akan kubacok-bacok! Kuiris-iris! Kutetak-tetak!”
Abigail semakin memotong jarak antara ia dan Kaisuto. Meski ia berujar hendak memotong dan sebagainya, si gadis sedang tak ingin melakukan kekerasan. Memenangkan perlombaan balap bukan dengan adu jotos dan pamer kekuatan. Dia akan memusatkan perhatiannya pada kemenangan yang hakiki.
“Eeh?! Grey-kun! Luar biasa! Kamu cepat sekali! Grey-kun keren! Amazing! Fucking great!”
Kaisuto bertepuk tangan keras-keras, takjub akan ketangguhan lawannya. “Utensils Creation! 30 mangkuk kaca! 30 cangkir kaca!” Namun, si poltergeist juga tak mau kalah. Ia menghargai usaha lawannya. Semangat yang si gadis berpita biru pancarkan membuat Kaisuto terinspirasi. Peralatan makan yang muncul dari udara mulai bergerak ke belakang, bersiap menghalangi arah si gadis yang kini tak lagi muram tersebut.
Abigail menggunakan tangannya untuk menari dengan gunting yang ia genggam. Satu demi satu, peralatan makan si poltergeist hancur oleh guntingan tepat milik si gadis. Suasana hati sang gadis sedang bagus. Ia berhasil menggunting bersih benda keras macam kaca dengan mudah. Serpihan kaca yang menghalangi jalan pun telah ia minimalkan.
“Aku pasti akan menang darimu, hantu sinting!”
Si gadis mempercepat gerakan layangnya di udara. Sekoci Alam Kematian yang sedari tadi memimpin perlombaan pun Abigail balap dengan mudah. Tekanan angin hasil akselerasi si gadis berpita biru bahkan menggoyangkan sekoci si poltergeist.
Kaisuto berusaha keras menahan dirinya agar tidak jatuh konyol lagi. Meski ia dibalap, si hantu bising masih bisa tersenyum dan kagum. “Aku tak akan membiarkanmu menang seenaknya, Grey-kun~! Kamu belum aku telanjangi sampai menangis, lo~!”
Kaisuto mengambil kembali dayung yang sebelumnya ia taruh saja. Logika polos si hantu bising mengatakan kalau dengan gabungan mesin motor diesel dan dua dayung, kecepatan sekocinya bisa bertambah lebih cepat lagi! Kaisuto segera mengikuti ide yang otaknya beri, mengejar Abigail yang semakin mendekati portal pelangi ketiga.
Si gadis berpita biru melaju kencang tanpa ada rintangan. Jarak antara dirinya dan lawannya masih sangat jauh. Meski si hantu bising tengah mengayuh dengan sekuat tenaga, ia mana mungkin bisa mengejar ketertinggalannya. Abigail akan melewati portal pelangi sebelum si hantu bisa sejarak dengannya. Tentu saja, tidak ada twist di sini. Si gadis berpita biru melewati portal pelangi.
Sekujur tubuh Abigail diliputi cahaya tujuh warna. Si gadis merasakan ada tenaga aneh yang mengisi tubuhnya dari dalam. Karena hasil evolusi adalah sistem acak yang arbitrer, Abigail masih belum tahu apa yang naik level pada dirinya. Namun, ada hal yang lebih penting daripada memikirkan itu. Ia harus menghancurkan portalnya sebelum si hantu bising datang.
Ketika dirinya hendak memutar ke belakang, kaki Abigail melakukannya seolah tak memiliki berat. Cahaya pelangi yang ada mulai larut ke dalam kegelapan dimensi, namun si gadis masih bisa merasakan dampaknya mengalir. Kekuatan melayang Abigail makin bertambah cepat.
Si gadis lalu membesarkan salah satu guntingnya. Ia lalu memotong tiang-tiang portal pelangi seperti memotong kertas lunak. Kaisuto yang menatap kejadian tersebut hanya bisa memasang wajah kesal. Si gadis mengangkat dagunya, menjatuhkan pandangannya ke arah si poltergeist yang juga menatapnya.
Mereka berdua tak angkat bicara. Si gadis berpita biru dan si hantu bising sama-sama melihat dengan jelas lawan mereka masing-masing. Saling merasakan jelas iktikad mereka untuk menang. Keduanya lalu tersenyum. Senyuman yang entah kenapa tiba-tiba muncul. Si gadis muram tak begitu mengerti. Ia hanya merasakan otot-otot wajahnya memaksa bibirnya melebar. Namun, ada hal jelas yang ia rasa.
Abigail Grey sedang bersemangat.
Kaisuto pun merasakan hal yang sama. Si hantu bising makin mempercepat gerakannya mendayung. Begitu ia merasakan semangat yang sama dari si poltergeist, Abigail berbalik dan melanjutkan layangnya. Ia lebih suka menjejakkan kakinya ke atas tanah, tapi sekali-kali menyerahkan tubuhnya pada angin tidaklah buruk.
Ia tidak bertindak seperti biasanya. Abigail tergelak. Ia benar-benar berkeinginan menang. Si gadis tidak akan menaruh lagi keraguan. Ia akan melakukan segala hal yang ia bisa demi harapan yang ingin ia capai.
Kaisuto tak mau kalah, tentu. Si hantu bising juga berpendapat sama. Ia harus mengerahkan semuanya. Entah itu semangat, entah itu keringat, entah itu tekanan mental. Ia juga ingin menang.
Masing-masing peserta sama-sama melaju di garis balap. Ada belokan, tanjakan, maupun turunan apa saja mereka akan melaluinya dengan mudah. Terlebih, mereka hampir-hampir sejajar dengan satu sama lain. Berimbang.
Adakalanya si poltergeist, dengan gabungan kekuatan tubuhnya dan mesin motor, mampu memimpin pertandingan. Adakalanya lagi si gadis muram, dengan kecepatan melayangnya yang bertambah, mendesak lawannya ke belakang.
Posisi mereka berdua tidak mengalami perubahan tetap. Bahkan, ketika mereka berdua beberapa saat lagi mencapai portal keempat, kedudukan masihlah sejajar.
Kalau begini, masing-masing peserta akan bersamaan melewatinya. Kedua peserta akan mengalami evolusi kemampuan sekaligus. Tentu, baik Kaisuto dan Abigail tidak mau lawan mereka mendapatkan keuntungan.
Mereka, entah bagaimana caranya, harus mencegah musuh melewati portal. Abigail menggunakan salah satu guntingnya sebagai pemukul. Ia memukul badan sekoci, membuat kapal kecil tersebut bergoyang. Kaisuto melawannya dengan memukulkan dayung ke gunting. Bunyi bertemunya besi dan kayu bergema keras.
“Utensils Creation! 10 piring kaca! 10 mangkuk! 10 pisau makan!”
Sekocinya makin kehilangan keseimbangan, membuat si poltergeist merapal kemampuan khususnya. Peralatan makan yang telah dibuat menghujani Abigail. Abigail memutarkan tubuhnya ke samping kanan, ke tempat aman. Namun, ia tak bisa menghindari semua serangan. Ada pisau yang menusuknya di tangan kiri.
Besi yang menembus kulitnya membuat sekujur badannya panas. Ia berkeringat dingin, dan teriakan nyaring lepas dari mulut. Darah mulai mengucur. Meski pisau yang menusuk ukurannya kecil, mata pisaunya tetap tajam.
Abigail kehilangan lajunya dalam melayang. Ketika ia menatap kembali area balapan, sekoci milik si hantu bising sudah melaju ke depan. Si poltergeist bersemangat dan tak kenal lelah itu sebentar lagi akan melalui portal pelangi.
Si gadis muram tak akan mampu mengejar. Rasa sakit yang menjalar di tangan dan tubuhnya membuatnya malas bergerak. Abigail berhenti melayang dan menapak tanah. Ia tak bisa membuang tenaganya untuk bergerak lebih lanjut. Luka yang ia terima membuatnya trauma. Kesadarannya memudar perlahan.
“Bangsat… Apa aku akan kalah di sini…?”
Abigail menggigit bibirnya. Kekesalan dan rasa sakit hati makin membuat lukanya terasa nyata. Abigail tak mencabut pisau yang menusuk, meskipun penetrasi benda asing membuat tubuhnya menolak keras. Si gadis tahu akan bahaya apabila pisau tersebut ia lepas. Makin banyak darah akan berceceran dengan percuma.
Terlebih… Kekalahannya benar-benar dekat.
Namun, si gadis tak bisa diam. Tubuhnya tak mau patuh pada kelelahan yang menghantam. Tiap-tiap otot tubuhnya menginginkan dirinya bergerak. Adalah sebuah kemungkinan ia bisa menghalangi si poltergeist mencapai portal dan berevolusi.
Abigail memaksa kedua kakinya berjalan. Kaki kanannya masih terasa sakit. Langkah kaki miliknya berhamburan. Lengannya yang kena tusuk mulai terasa kebas. Namun, Abigail tak mau berhenti. Gerakan jalannya berubah menjadi lari. Sakit yang teramat sakit baik dari kaki dan lengan menjalar. Abigail tak mau peduli dan terus berlari. Larinya lalu ia ubah menjadi melayang. Meski ia telah lesu, si gadis terus memaksa tubuhnya bergerak.
Ia tak mau kalah.
“Bangsat kau, hantu sialan!”
Abigail berteriak, mencurahkan rasa kesalnya pada Kaisuto. Si hantu bising menoleh ke belakang. Mulut milik Kaisuto membuka lebar. Ia terperanjat pada ketangguhan si gadis muram. “Kamu juga sama-sama bangsat, bocah muram~!”
Abigail tergelak. Kedua guntingnya yang telah ia ubah ukurannya jadi raksasa ia lempar ke depan. Meski sedang mengucurkan darah, tangannya yang kena tusuk justru melempar gunting paling bertenaga. Dua benda hitam itu bergerak lebih cepat dari mesin motor Sekoci Alam Kematian. Si gadis tak terlalu banyak memikirkan kenapa ia melempar guntingnya ke sana.
Apakah ia berharap guntingnya bisa berevolusi? Apakah ia berharap guntingnya akan sampai ke garis finis dengan lemparannya itu? Abigail tak bisa memilih satu pun alasan. Tubuhnya hanya bergerak sesuai dengan prinsip menang atau tidak menang.
Dan, hasil dari aksinya melepas keputusasaan adalah keberhasilan.
Kedua gunting yang Abigail lempar menghantam portal pelangi. Portal tersebut runtuh. Kaisuto yang hendak melewati portal gagal berevolusi. Reruntuhan dari portal yang hancur berguguran ke sekoci, membuat keseimbangannya gagal terbentuk. Sekoci yang terbalik membuat penumpangnya terjatuh ke aspal, kepala duluan.
Abigail yang masih melaju melewati sekoci tumbang Kaisuto. Lalu, ia mengambil satu gunting yang tertancap di aspal. Abigail tak mau melambatkan diri mencari guntingnya yang satunya. Asal ia bisa mencapai portal kelima—yang terakhir—dan berlari sampai garis finis, maka ia akan mengikhlaskan guntingnya yang telah ia lempar.
Kaisuto, si lawan, malah terkagum-kagum. Dia tak mengingat lagi berapa banyak ia telah memojokkan Abigail dalam balapan ini. Namun, si gadis terus melampaui batasan yang Kaisuto beri.
“Manusia bajingan itu ternyata benar-benar menakjubkan, ya?!”
Si hantu bising masih mengingat jelas panorama langit malam di kota Rokkaku. Cahaya redup gemintang yang bertabur cahaya buatan lampu-lampu manusia. Manusia memaksakan seluruh kemampuan mereka menciptakan pemandangan itu. Meski bagi beberapa dari youkai dan manusia sendiri tak menyukai banyaknya gedung-gedung tinggi dan ributnya teknologi, semua itu adalah bukti jelas kalau manusia selalu melakukan hal yang terbaik.
Mereka bertahan hidup dari semua hal yang hendak membunuh mereka. Mereka berjaya di atas puncak dunia.
Bagi seorang youkai yang muda sepertinya, adalah sangat mudah baginya untuk membenci manusia. Namun, sebagai seorang pembenci, ia tak bisa menafikan kemampuan mereka. Mereka adalah makhluk yang mengagumkan. Kaisuto, yang tengah menjadi saksi nyata kemampuan seorang manusia untuk terus maju dalam segala rintangan, makin berniat ingin melampaui mereka. Makin berniat ingin segera membantai mereka semua.
“Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, lo, Grey-kun! Membuatmu spreading your ass wide!”
Pernyataan Kaisuto diikuti oleh gerak berdirinya dari tanah dengan cepat. Si poltergeist lalu membenarkan posisi sekoci. Ia lalu menyalakan mesin motor dan memegang dayung. Sekoci hasil curiannya melaju ke depan. Di geladak sekoci, secara mengejutkannya, Kaisuto menemukan hal yang tak ia duga-duga ada. Terjepit di dekat mesin hasil evolusi sekoci, ada gunting hitam ajaib milik Abigail.
Gunting tersebut masih berada dalam ukurannya yang besar. Kaisuto tersenyum lebar, sembari rencana kemenangan lainnya tersusun rapi di dalam kepala. Ia akan menggunakan senjata musuh untuk menang. Dengan benda ajaib yang terlalu kuat macam ini, si gadis pasti akan kewalahan.
Si hantu bising melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Membuat bising. Dengan meneriakkan “Iyeeeeey~!”, ia memacu sekocinya ke depan. Meski ia telah terjatuh, ia masih bisa menyusul Abigail. Kesempatannya menang masih ada, terbuka dengan lebar. Kaisuto baru akan menyerah saat tubuhnya hancur.
Posisi si gadis berpita biru ada di paling depan, dengan sekoci si hantu bising di belakangnya. Jarak antara mereka mungkin tak sampai seratus meter, dan terus berkurang karena kecepatan kayuhan si poltergeist. Portal pelangi kelima berada di paling depan, namun jaraknya tak lagi jauh.
Kaisuto harus menghentikan si gadis muram sebelum ia melewati portalnya.
Sekoci Alam Kematian berhasil mendekati sisi kiri Abigail. Si gadis berpita biru berdecak. Ia mengibaskan gunting raksasanya ke badan sekoci. Namun, suara dentingan kedua logam pecah di udara. Kaisuto menggunakan kemampuan psikokinesisnya untuk mencomot gunting ajaib raksasa kedua dan menahan gerakan Abigail.
“Sepertinya aku yang akan mem-fucking kill you, Grey-kun!” ujar Kaisuto. Bibirnya membentuk senyum lebar yang penuh kesenangan.
Gunting yang dikendalikan hantu bising membuka lebar kedua bilahnya. Bagai mulut seekor monster kelaparan yang hendak menerkam mangsa. Abigail segera menjauhkan diri ke samping kanan, berputar di udara bak pusaran angin. Mulut monster tadi hanya memakan udara kosong.
Namun, gunting tadi masih belum puas. Ia tak akan berhenti sampai ia mendapat mangsa yang ia kejar dengan susah payah. Si gunting yang bergerak bebas di udara kembali membuka bilahnya. Cahaya dingin dari pantulan besi membuat Abigail mengingat taring tajam predator berbahaya. Si gadis tak bisa terus-menerus memutar ke samping. Kecepatannya akan melambat dan ia akan kehilangan keunggulannya.
Abigail mesti berpikir keras, dan cepat, untuk bisa bebas dari lingkaran setan ini. Bilah gunting yang dirasuki poltergeist makin mendekati pinggang si gadis. Perlahan-lahan, Abigail menatap bilah yang atas dan yang bawah saling menghilangkan jarak. Apa yang si gadis tatap ialah gerbang kematian.
“Evaporasi.”
Si gadis menghilang menjadi kepulan asap putih. Gunting yang kena pengaruh psikokinesis juga ikut larut ke dalam asap. Ini adalah akibat dari kemampuan evaporasi yang telah berevolusi. Abigail bisa selamat dari kematian mendadak. Masih lambat seratus tahun lagi ia bergabung ke alam kematian, menuju ke tempat orang-orang yang telah ia bunuh.
Abigail masih ingin terus berbuat onar bersama sahabat tercintanya Amelia di Istana Kaca. Membunuh dan memutilasi, menjahit kulit mayat-mayat untuk mendandani Amelia.
Kepulan asap tubuh dan kedua gunting Abigail melaju, mendekat menuju portal terakhir. “Kamu benar-benar cunt, Grey-kun! Aku akan mencabik-cabik kulitmu, lo!” Kaisuto, meski kesal, masih memasang senyum. Ia mengayuh sekocinya kembali. Adalah sebuah kewajaran teramat wajar apabila rencananya gagal, sepertinya. Si hantu bising teramat positif terus melaju, kembali ke jalur balapan dengan semangat yang masih membara.
Namun, meski si hantu bising kembali dengan cepat, ia tak bisa menghentikan Abigail. Si gadis berpita biru telah melewati portal pelangi terakhir. Cahaya pelangi menyelimuti tubuh dan kedua gunting raksasanya. Ketika cahaya tersebut mulai memudar perlahan, ada sesuatu yang memelesat dari kejauhan ke tiang portal dan ke sekoci.
Gunting raksasa milik Abigail.
Tiang-tiang portal dan Sekoci Alam Kematian hancur terbelah-belah. Potongan-potongan besi dan kayu menghujani jalur balap. Kaisuto, yang baru saja sadar akan sebesar apa tarikan gravitasi kegagalannya, terjatuh ke aspal. Pantatnya kesakitan, namun apa yang membuatnya khawatir adalah gunting yang membuka bilahnya tepat pada lehernya.
Terlebih, ada dua gunting yang sedang mengurung geraknya. Gunting yang telah puas menghancurkan portal segera melaju ke arah Kaisuto. Seolah itu adalah gerakan yang benar-benar wajar, kedua gunting tersebut menekan bilah mereka ke kulit leher si hantu. Seperti mereka hendak menyatakan siapa yang sebenarnya memegang dominasi di saat ini.
“Eeh… Ini fucking joke, kan…? Grey-kun…? Aku kira kekuatanmu bukan termasuk kekuatan macam psychokinesis…” Mata si poltergeist memelotot. Ia tak menduga akan melihat gunting-gunting ini bisa dikendalikan dengan pikiran juga.
Si gadis berpita biru muncul dari kabut puing-puing. Ia menggelengkan kepalanya, sambil masih memasang senyum mengerikan di wajah. “Memang psychokinetahiketek bukan termasuk dalam kemampuan asliku.” Setelahnya, ia berhenti menggeleng. Abigail kemudian makin melangkah mendekat, ke onggokan ektoplasma murahan di depan matanya. Entah kenapa ia menganggukkan kepalanya tak berhenti. Seolah, semua jawaban di seluruh dunia telah terjawab untuknya.
“Namun, hasil evolusi tadi menguatkan gunting-gunting ajaibku. Magic Scissors-kulah yang naik level. Sekarang, mereka telah bertambah magical!” Abigail membuka lebar tangannya. Kaisuto kurang lebih mengerti apa yang si gadis muram ini katakan. Namun, ia benar-benar merasa kesal dengan kekuatan yang sangat overpowering tersebut. Bertambah magical? Ruang lingkup naik tingkat kemampuannya benar-benar abstrak dan arbitrer.
“Gunting-gunting ini sekarang intinya… hanya makin keren doang…?! What hole exactly the fucker want to fuck to?!” Kaisuto telah kehabisan kata-kata. Ia tak pandai menebak. Itu adalah hal satu-satunya yang bisa ia katakan pada senyuman menakutkan milik si gadis.
“Benar sekali! Maksudku, apalagi yang lebih keren daripada gunting homing otonom?! Itu adalah puncak dari segala hal-hal yang aku inginkan dari sebilah gunting! Hal-hal yang membuat gunting bisa menjadi lebih patut dicintai! Yang membuat mereka makin bisa bekerja sesuai dengan tugasnya!”
Abigail berjingkrak-jingkrak bak kelinci berhasrat kawin. Ia benar-benar terlihat bahagia, seolah gunting adalah alat pemuas nafsunya satu-satunya di dunia ini. Namun, begitu ia menyelesaikan pidatonya soal gunting, si gadis membuang seringai. Seringai seorang pembunuh berpengalaman. Yang telah banyak mengambil nyawa orang lain.
“Dan sepertinya, balapan ini akan berlanjut tanpa kehadiranmu.”
Bilah kedua masing-masing gunting menekan kembali leher si poltergeist. Kaisuto tak akan mampu kabur dari posisi tak menguntungkan ini. Ia yakin, apabila ia sedikit saja berbuat hal aneh, gunting-gunting ini akan memotong kepalanya.
Ia memanglah seorang hantu, namun hantu pun bukanlah makhluk yang bebas seenaknya hidup tanpa risiko. Ia juga bisa masuk ke dalam keadaan hampir mirip kematian. Perlu waktu satu bulan penuh agar dirinya bisa kembali “hidup”. Kalah perlombaan di dimensi lain dan terpaksa harus tak bisa melakukan apapun selama sebulan penuh? Ini adalah keadaan yang sangat tak membuat dirinya untung.
Kaisuto tak mampu lagi menggunakan trik-trik kotornya. Hanya ada satu jalan keluar dari sini. Itu. Kemampuannya yang itu. Namun, bagaimana pun juga, hal tersebut tak bisa menjamin ia akan selamat pada pemojokan kedua. Tapi, ia harus bagaimana lagi? Meski dirinya tengah bersemangat karena terpojok, otaknya masih belum berhasil mencari jalan keluar.
“Ah, kalau begitu aku akan membunuhmu selagi aku sempat. Membuatmu larut dalam air kencingku. I’ll piss your dead carcass!”
Si gadis berpita biru terbahak-bahak. Ia memegang perutnya, yang kesakitan karena keberanian kosong si hantu bising. “Kamu segitu putus asanya, oi, hantu?! Bisa apa kau memangnya?!”
Iris milik si hantu bising mulai berubah warna. Warna hitam melipurkan warna merah. Kaisuto membuka mulutnya. Suara yang muncul adalah suara miliknya, namun juga bukan. Suara yang kini muncul memiliki wibawa yang membuat si gadis berpita biru mundur beberapa langkah. Suara dalam, parau, namun masih menggentarkan hati karena penuh kebencian.
“To tell strange feats of Daemons, here I am; Strange but most true they are, ev’n to a Dram, Tho’ Sadduceans cry, ‘tis all a Sham. Here’s Stony Arg’uments of persuasive Dint. Lithobolia: or, the Stone-throwing Devil.”
Kedua gunting milik Abigail terlipat-lipat oleh kekuatan tak terlihat. Guntingnya meronta paksa, ingin membelah tenggorokan si hantu. Namun, mereka semua bak ranting kering di kekuatan baru milik Kaisuto. Lalu, beberapa luasan aspal di jalur balapan naik ke atas. Ke udara. Masing-masing petak aspal kemudian saling membentuk satu bola besar. Gunting milik Abigail termasuk ke dalam bola itu, masih gelisah tak hendak diam sebelum menumpah darah.
Si gadis berpita biru menatap bongkahan kumpulan batu, aspal, dan guntingnya tersebut. Mata miliknya sekarang yang membelalak. Si hantu berdiri, lalu melayang di udara. Rambutnya, pakaiannya, berkibar bak bendera perang. Suara terangkatnya aspal jalanan mirip bunyi pasukan kavaleri yang melaju kencang. Inilah bentuk sesungguhnya dari tiap-tiap perwujudan fenomena poltergeist. Sang Iblis Pelempar Batu: Lithobolia.
“Andika, intiha andika mengajun nian radu.”
Si gadis sungguh sangat tak mengerti apa yang si hantu ucap. Namun, kalimat tersebut diucap bak seorang yang teramat dewasa, seorang buyut, seorang nenek moyang. Bukan dalam konotasi negatif, namun memiliki sifat yang membuat si gadis taat dan mau mendengarnya. Kata-katanya membawa berat yang menghantam tiap kesadaran Abigail.
Ini bahaya, begitu respons akal sehatnya. Seperti melihat warna merah darahnya sendiri, seperti melihat segarnya aroma kematian yang mendekat tak tergesa-gesa. Abigail tentu tak mau berakhir di sini semudah ini. Namun, tiap-tiap kelenjar tubuhnya memaku di tempat. Tak bisa bergerak lagi. Keberadaan Kaisuto-Lithobolia menempatkan lem abadi pada postur tubuhnya.
Kaisuto yang sekarang hanya menatap satu target di matanya. Satu hal yang harus ia hancurkan sehancur-hancurnya yang ia mampu. Si gadis berpita biru. Tidak ada hal yang lain. Tidak ada hal yang tidak perlu. Seluruh ingatan masa lalunya sebagai seorang Lithobolia merasuk ke pikiran, menyelam dalam sanubari yang berdesir karena ombak nostalgia.
Seluruh kekuatan, seluruh daya pikir, serta seluruh ketangkasan akumulatif dari Lithobolia semua berada dalam dirinya. Meski waktu perubahannya sedikit sekali, maka Kaisuto harus memanfaatkan tenggat sempitnya sebaik mungkin. Satu target diam merupakan sasaran yang ia bisa kenai dengan tepat bahkan dengan menutup mata dan telinga.
“Melepur, melerak, memudur.”
Lalu, tibalah saat-saat akhir pertarungan panjang kedua peserta. Setelah menghabiskan permainan kucing dan anjing yang tak kunjung membuahkan hasil pasti, mereka semua telah sama-sama lelah. Namun, semuanya bisa terbebas dari itu semua. Akhir telah tiba. Sorak ramai bergembira. Adalah sebuah kepastian sekarang kalau bola raksasa aglomerasi aspal, batu, dan gunting ini akan menghantam hancur tubuh Abigail sampai tak bersisa.
Bongkahan batu tersebut si Lithobolia terbangkan. Lurus ke arah si gadis berpita biru yang tak lagi berkutik barang satu detik. Sebentar lagi, bongkahan batu akan mengenai tubuh Abigail. Beban berat kumpulan semua material yang bergabung akan menggencet seluruh bagian tubuhnya. Sampai hancur. Menjadi tak lebih dari onggokan daging tak berbentuk. Nyawa milik si gadis kemudian menghilang jauh, pergi ke alam kematian.
Dead.
Atau… Seperti itulah yang Kaisuto akan pikir.
Tepat di saat-saat terakhir sebelum bongkahan bola bersentuhan dengan kulitnya, si gadis merapal mantra evaporasi tubuhnya. Akibat dari hasil evolusi Abigail menyatakan bahwa ia bisa mengevaporasi benda lain yang dekat dengan tubuhnya. Bongkahan batu konyol macam ini sama sekali bukanlah lawan yang sulit bagi si gadis.
Kepulan asap putih gabungan antara batu dan si gadis lalu bergerak. Si gadis mengatur posisi batu raksasa tersebut bisa menghadap ke arah yang jauh serta aman dari dirinya. Si gadis, sementara itu, langsung pergi ke arah si hantu bising.
Abigail akan membunuh hantu bodoh yang menganggap bahwa ia telah menang dalam kompetisi ini semudah yang bisa ia imajinasikan. Dengan tangannya sendiri. Tak ada kata ampun lagi. Akan ada tambahan nama daftar orang yang Abigail bunuh. Dan, nama tersebut adalah Horutaa Kaisuto. Sekarang adalah kepastian yang benar-benar pasti.
Si gadis berpita biru muncul di hadapan Kaisuto. Si hantu bising benar-benar menjadi seorang tunawicara sekarang. Ia membisu melihat seluruh rencananya hancur tepat di saat-saat terakhir yang genting. Matanya menggantikan fungsi mulutnya berteriak kacau bak orang gila, membelalak seolah tiap bola mata dan urat-uratnya menjulur ke luar.
Lalu, Abigail mencekik si Kaisuto. Suhu yang ia rasa pada tubuhnya adalah hangat. Mirip dengan manusia nyata. Si gadis makin senang. Ia telah lama tak membunuh seseorang. Dirinya terlalu lama menjadi mainan orang-orang yang akan meludahinya dan membuangnya di pinggiran jalan. Namun, masa-masa kegelapan tersebut akan berakhir.
Senyum milik Abigail kian melebar tiap kali suara teriakan minta tolong dan mohon ampun si gadis hantu redam oleh tenggorokannya yang mulai patah. Tangan milik Kaisuto bergerak bak ikan kehilangan udara, menggelinjang dalam sakit dada terhimpit. Meronta-ronta, seperti perhelatan binatang-binatang menjijikkan. Namun, apa yang menggelut jari-jarinya hanya untaian rambut pendek si gadis.
“Mana mungkin aku hendak berlama-lama memainkan permainan bodoh macam berteman denganmu, anjing. Dasar hina. Kau akan mati di sini, dan kau akan kalah selamanya, kau tahu?! Kau mana mungkin bisa selamat! Kihihihi! Mati dalam segala kesengsaraan dan semua penyesalan yang kau punya, babi pelacur!”
Hantu memang tak butuh udara, namun ketika tenggorokannya dihancurkan dengan paksa pasti akan membuatnya trauma. Kaisuto berusaha sekeras mungkin untuk bisa membebaskan diri. Ia menggetarkan tubuh. Ia menggunakan tangannya untuk menarik dan mencabik. Namun, semuanya tampak terlalu hina. Apa yang ia perbuat tak menghasilkan pergelutan yang layak disaksikan.
Apa yang bisa si poltergeist lakukan?
Tak si gadis muram sangka, si poltergeist lalu tertawa tiba-tiba. Tawanya bukan tawa khasnya yang cengengesan. Tawanya yang sekarang bak para bangsawan kuno Eropa. “Andika terbuai aji-aji andika. Dalem Lithobolia. Dalem .”
Secara berbelit-belit Kaisuto mengatakan “Widen your butthole, fag! Kemenanganmu tidak mungkin terwujud segampang ini!” dalam bahasa arkais yang teramat sopan. Sejak awal, kunci kemenangan pertarungan kucing dan anjing ini sebenarnya terletak di Kaisuto. Ia bisa menggerakkan benda apapun setara atau di bawah ukurannya sendiri. Seorang gadis umur 10 tahun dengan tinggi kurang lebih 140 cm bukanlah apa-apa dibandingkan dengan volume diri si hantu dengan tinggi 158. Dari awal pertandingan, Abigail telah menari di atas tangan Kaisuto. Menari tanpa cacat cela dalam koreografi sempurna yang telah si hantu bising bajingan ini buat sempurna di otak.
Tangan Abigail yang mencekik Kaisuto bergerak tanpa keinginan dari sang pemilik. Lalu, tubuhnya terhempas ke bawah. Ke dalam kawah hasil terangkatnya aspal-aspal pembentuk bola raksasa tadi. Terus-menerus, tangan Iblis tak terlihat melemparkan tubuh Abigail ke sana ke mari. Tulang belulang milik si gadis berpita biru remuk. Tubuh seorang gadis kecil mana sanggup menahan hantaman beruntun ke aspal. Darah segar berwarna merah mewarnai kawah tersebut. Baju si gadis dengan warna bervariasi sekarang penuh dengan tinta merah.
Namun, Abigail masih bernapas. Meski telah si poltergeist hantam ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, ia masih hidup. Kaisuto tak mau membunuhnya terlalu cepat, karena setelah ini adalah saat yang paling ia nantikan. Sesuatu yang seorang pem-bully mana saja mau. Waktu penindasan. Waktu tempat harga diri Abigail akan runtuh. Waktu ketika kelaminnya akan dipertotonkan kepada dunia. Waktu ketika usus dan seluruh tahi dan air kencingnya mengalir bebas seperti air terjun tertinggi.
Tepat saat Abigail tak sanggup lagi menjalankan proses berpikir di otak, masa pakai kekuatan Lithobolia sebentar lagi habis. Kaisuto kembali menginjak tanah. Iris matanya perlahan kembali menjadi warna merah, namun pigmen-pigmen darah masih tertutup kegelapan iblis. Sebagai aksi akhir dari seluruh pertarungan mereka yang berakhir demikian, Kaisuto hendak menyelesaikan balapannya. Sebelum kekuatan Lithobolia habis sepenuhnya.
“Eh, Grey-kun. Sekoci hasil maling Kaisuto-chan kamu hancurkan berkeping-keping, lo! Kamu harus bertanggung jawab!”
Tentu, si gadis berpita biru tak mampu menjawab apa-apa. Rahangnya telah hancur akibat hasil permainan kasar si hantu. Mata Abigail hanya bisa membelalak pada sosok yang tengah berjongkok di depan wajahnya yang hancur berantakan. Emosi yang tak pernah si gadis rasakan sebelumnya, yakni rasa teror dan takut berlebih, membuat air mata mangsa terpojok keluar tanpa ada filter.
“Kaisuto-chan akan melipat-lipat tubuh Grey-kun menjadi kotak! Lalu, Kaisuto-chan akan mengendalikan kotak Grey-kun sampai garis finis! Grey-kun bisa tenang saja, kok! Kaisuto-chan akan berhati-hati agar Grey-kun tidak akan tewas!”
Teriakan tersedak keluar dari laring rusak milik Abigail yang telah kehilangan kewarasan.
Pada akhirnya, si poltergeist biadab sungguh-sungguh melakukan apa yang ia ucap dan melewati garis finis dengan dirinya yang menunggangi Abigail yang telah ia ubah menjadi kotak. Karena kedua peserta sama-sama hidup dan sama-sama melewati garis finis secara bersamaan, hasil perlombaan adalah seri.
Soraya Hadyatha, sebagai MC dari kontes FRC kali ini, muncul hendak memberikan piala pemenang juara satu kepada masing-masing peserta. Namun, langkah kaki yang membawanya mendekat penuh rasa bimbang.
“Ah… Ahahahahaha… Sungguh… Benar-benar hasil akhir dan cara menang yang unik sekali…” Suara Soraya, yang biasanya penuh dengan semangat bergemuruh, sekarang terhimpit oleh ketakutan. Yang membuat Soraya semakin canggung dan segan adalah, senyum kekanak-kanakan abadi yang melekat di wajah Kaisuto.
“Terima kasih, Hadyatha-kun! Terima kasih, Grey-kun! Terima kasih, para pembaca sekalian-kun!”
Semoga saja kalian tidak akan bertemu dengan makhluk mengerikan macam dia…
Ending No. 2 (Evil over Chaos)
Bad Ending
Next time, try to beat Normal or better without continuing!
Kekuatan Lithobolia makin melemah. Si hantu bising mampu merasakan kemampuan tambahannya perlahan berkurang. Jika Lithobolia habis, maka tubuhnya akan menjadi selemah manusia. Cekikan merupakan serangan fatal. Tenggorokannya akan hancur, nadi pembawa tenaga spiritualnya terputus, dan otaknya pun akan perlahan mati.
Kaisuto terus menggunakan tangannya yang mulai melemah mencabik-cabik di udara. Sebenarnya, sasaran nomor satu cabikan tersebut ialah Abigail. Namun, kedua lengannya tak punya tenaga apa-apa lagi untuk bisa terus bertarung. Mereka malah lepas target.
Di keadaannya yang terlalu terhina ini, Kaisuto mengingat kembali suasana hatinya beberapa saat yang lalu. Saat ia masih menatap kanvas yang manusia buat. Jantungnya yang berdegup kencang saat itu muncul kembali sekarang. Perasaan kompleks rendah dirinya dan kehebatan manusia mengalir di tubuh.
Membuat tubuhnya bergetar. Bergabung dalam satu irama napas yang tertekan dan jantung yang memaksa hidup. Meski bibir Kaisuto tak membentuk senyum—karena mulutnya ia paksakan membuka dan menutup demi menghirup kekuatan spiritual yang kabur ke udara, kedua bola matanya memancarkan sinar terang. Cerah lagi menyilaukan.
Kaisuto tak mau berhenti dan menyerah. Putus asa bukanlah jalan keluar.
“Bila ada… Keyakinan… Di situ… Ada jalan!”
Kaisuto memaksakan dirinya memuntahkan keluar frasa demi frasa yang membuatnya makin hendak menang. Suara penuh sifat kepolosannya menggiring tangan kanannya menggenggam rambut Abigail. Bayangan bulan di air akan pecah dan rusak oleh sebutir kerikil. Usaha sekecil apapun pasti akan membuahkan hasil.
Si poltergeist menarik rambut di sela-sela jemarinya. Meski tenaganya hampir-hampir mendekati nol, namun ini adalah semua hasil dari upayanya bergerak lepas dari hasil akhir yang buruk.
Abigail lantas menjerit keras. Kaisuto menarik pita biru yang si gadis muram pakai. Pitanya tak bisa direnggut paksa, namun jari-jemari si poltergeist tetap bergumul dengannya. Memegangnya terus. Selagi ia berteriak kencang yang menusuk sampai ke tulang, kekuatan cengkeraman tangan Abigail pada leher Kaisuto berkurang. Tangannya seperti meleleh oleh air panas yang tak diketahui asalnya dari mana.
Kekuatan Lithobolia Kaisuto telah sampai batasnya. Si hantu, yang melayang oleh kekuatannya, tak bisa lagi menahan beban diri. Kaisuto dan Abigail terjatuh dari udara. Mereka sama-sama terjun bebas ke kawah hasil percobaan gagal kekuatan si poltergeist. Si hantu bising memaksa energi mentalnya yang masih tersisa untuk melayangkan dirinya agar tak menyentuh tanah. Tubuh kedua peserta lalu terjatuh dari jarak yang aman.
Namun, Kaisuto masih tak mau melepaskan genggamannya pada pita biru Abigail. Si poltergeist yakin, bahwa dengan ini ia bisa memutarbalikkan keadaan. Kaisuto mungkin bisa menang dengan cara ini.
“Lepaskan! Lepaskan tanganmu dari pitaku, berengsek! Aaah!”
Abigail, dengan tangan yang mencabik-cabik udara kosong, berkata demikian. Suaranya mirip binatang kecil yang terhimpit beban berat: butuh pertolongan mendadak, secepat mungkin. Mendengar rintihan polos dari si gadis muram yang berulang kali mengejeknya membuat Kaisuto segera memikirkan suatu rencana. Yang kurang lebih bisa diklasifikasikan sebagai jahat.
“Oi, oi, Grey-kun! Kamu mau Kaisuto-chan melepaskan pitamu, kan?! Let us make a deal!”
Abigail serta-merta menjawab dengan anggukan kepala. “Aku… Cih… Baiklah, dasar bangsat! Aku akan menuruti apa saja perkataanmu asal jangan sentuh pitaku!” Meski masih saja mengaduk sisipan kata kasar, si gadis kelihatan begitu lemah di hadapan Kaisuto. Ini membuat si poltergeist makin percaya diri. Toh, apa yang tiap bully inginkan adalah rasa senang ketika ada orang lemah yang menurut pada perkataannya.
“Kaisuto-chan mau mengunggangi Grey-kun sampai melewati garis finis! Setelahnya baru Kaisuto-chan akan melepas pita biru Grey-kun!”
Abigail membelalak tidak percaya. Teriakan lirih miliknya lalu bergema di seluruh pelosok dimensi aneh tersebut. Teriakan yang menyisipkan seluruh perasaan si gadis. Perasaannya yang merasa terhina, putus asa, dan tak bisa melakukan apa-apa.
Meski si hantu bising mengucapkan kalimatnya dalam nada bergembira yang terlalu bergemuruh, perasaan teror subliminal bergerak bebas tanpa hambatan. Wajah si poltergeist yang tampak begitu polos dan seolah tanpa dosa menyimpan sadisme kuat. Namun tetap saja, Kaisuto masihlah youkai yang terlalu bersifat kekanak-kanakan. Ia hanya ingin bermain-main.
Permainan yang ia lakukan adalah jenis yang tak berbahaya, meski mungkin memang mengganggu pihak kedua. Dan, di permainan ini, si gadis muram tak bisa angkat suara dan menolak. Pitanya adalah titik lemahnya, dan karena itu si gadis menuruti perintah Kaisuto. Meski Abigail hendak berbuat macam-macam, si hantu bising akan langsung menggenggam pita di kepalanya.
Seperti itulah pertarungan antar peserta berakhir: dengan Kaisuto menunggangi punggung Abigail sampai garis finis. Karena keduanya melewati garis akhir dengan selamat, keduanya pun dinyatakan menang. Hasil menjadi seri.
Kaisuto segera menepati janjinya, melepaskan pita biru si gadis. Abigail merasa kesal, tentu, tapi perasaannya lebih bercampur aduk daripada homogen. Ia melewati garis finis yang ia inginkan. Si gadis merasa senang. Apa dengan ini ia bisa kembali ke Istana Kaca? Apakah harapannya akan terus terkurung dalam turnamen abadi ini, untuk selamanya?
Tidak ada yang tahu apa yang akan ada di garis akhir.
Namun, mungkin… Ada suatu hal bagus di sana. Ada harapan yang masing-masing peserta hendak wujudkan. Mereka telah berjuang habis-habisan, memacu diri mereka sampai ke batas. Terluka, lalu melukai. Saling adu diri. Beradu otak, kemampuan, serta tekad. Kontinuitas yang berapi-api.
Tapi, mungkin mereka berdua sadar. Impian tak akan mungkin bisa terkabul semudah mengharapkannya. Perjalanan mereka masing-masing masihlah panjang. Kaisuto akan terus belajar dan menjadi kuat agar bisa mengambil alih legenda Lithobolia sebagai namanya sendiri. Abigail akan terus berjuang mencari jalan keluar dari turnamen aneh yang menjebaknya setelah sekian lama.
Masing-masing berjuang untuk harapan mereka.
Kaisuto segera memeluk lawannya erat-erat setelah selesai menungganginya. Ia, meski telah berjuang sekuat tenaga melukai lawannya, tetap menjunjung tinggi harapan lawannya. “Grey-kun. Pertarungan yang bagus, oi! Kaisuto-chan tak akan melupakanmu~!”
Abigail yang merasa aneh dipeluk oleh musuh yang membuatnya malu sedari tadi bingung berkata apa. Pipinya memerah, oleh sebuah panas yang tak ia tahu dari mana asalnya. Suaranya yang hendak protes tersekat oleh malu. “Le-le-le-lepaskan! Kau juga bertarung dengan sekuat tenagamu, hantu sinting! Jadi lepaskan aku sekarang!”
Dunia gelap tersebut lalu larut dalam cahaya putih. Seluruh penjuru dunia sekarang diwarnai oleh cahaya itu. Dari tempat yang tak terlihat oleh mata, suara riuh tepuk tangan dapat terdengar. Lalu, seorang gadis robot muncul dari pintu besi putih yang tercipta di udara kosong.
“Hai, hai! Ini MC setia kalian, Soraya Hadyatha! Selamat karena telah berhasil sampai di garis finis, kalian berdua!”
Gadis robot berambut hijau muda tersebut datang sambil membawa dua piala bertuliskan “1”. Soraya segera memberikan pialanya kepada masing-masing peserta, tanpa banyak bicara. Suara tepuk tangan yang tadi ada kembali terdengar, jauh lebih nyaring daripada sebelumnya.
Saat kedua peserta memalingkan wajah ke Soraya, si gadis robot lanjut membuka mulut. “Kalian sudah memenangi perlombaan bersejarah ini. Tak perlu takut soal hadiah. Kalian akan menjadi lebih sukses di masa depan!”
“Artinya tidak ada hadiahnya, dong!” ujar masing-masing peserta, serentak. Wajah kedua peserta yang tadinya penuh harap menjadi luntur oleh kekecewaan. Namun, mereka masih bisa tersenyum.
Kaisuto dan Abigail kemudian tergelak. Impian memang tidak bisa semudah itu siapa saja dapatkan. Mereka hanya harus lebih berusaha lagi. Sama seperti mereka mengerahkan semuanya untuk sampai di garis finis.
Setelah upacara pemberian piala ala kadarnya selesai, muncul lubang kegelapan besar di atas kepala mereka. Lubang kegelapan tersebut lalu menghisap mereka satu per satu. “Kalian akan dipulangkan ke dimensi-dimensi kalian sendiri! Sampai jumpa di turnamen yang sesungguhnya!” Soraya menjelaskan. Sorot matanya penuh harap.
Begitulah acara konyol yang semrawut ini berakhir.
Ketika si gadis hantu kembali membuka matanya, kegelapan yang teramat gelap berubah menjadi kegelapan yang ia kenal.
Ia telah kembali. Ke kota tempatnya tinggal. Kota Rokkaku, dengan tinggi gedung-gedung dan cahaya gemintang yang memudar. Meski ia kemari hanya untuk sementara waktu, sembari mencari lawan yang bisa ia kalahkan, hatinya seolah merindukan apa yang ia lihat sekarang. Sebuah panorama yang kebanyakan dari manusia dan youkai benci, namun baginya merupakan batasan yang ia harus lampaui.
“Poltergeist berdosa.”
Dari belakang, suara kecil namun tegas memanggil si hantu. Kaisuto memalingkan wajah. Shinigami kota ini, gadis berbaju kimono hitam bercorak bunga higanbana merah, menatap dalam-dalam si poltergeist. Sabit besar seukuran tubuh yang si gadis bernama Charon Mogusa bawa telah siap di tangan, menunggu untuk dijatuhkan ke leher si hantu kapan saja. Rambut hitamnya yang panjang berkilauan bak langit malam. Wajahnya kurang lebih tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan hawa kekesalan.
“Eh, ada Charon-kun! Sudah bangun tidur, ternyata! Apa tadi Charon-kun bermimpi indah?”
“Di mana… Sekociku…?”
Pertanyaan gembira dari si poltergeist tidak si shinigami acuhkan. Kaisuto hanya mampu tertawa cengengesan. Ia tak bisa lagi berbohong pada Mogusa.
“Eh, ahahaha… Sekocimu tadi hancur…”
“Aku. Akan. Membawamu ke. Yomi-no-kuni.” Mata hitam kelam Mogusa mengatakan bahwa ini adalah keputusan bulat. Kata-kata si poltergeist tak akan mungkin bisa berkompromi lagi pada ketetapan ini. “Bersiaplah. Ucap doamu pada delapan juta dewa.”
“Ampun!”
Kaisuto segera mengangkat dua tangannya ke atas, dalam rangka melindungi kepalanya dari tebasan sabit. Namun, apa yang ia tunggu tidak datang. Malah, si shinigami menatap lebar-lebar apa yang Kaisuto angkat ke atas. Pialanya sebagai partisipan perlombaan Imagine Road.
“Aku. Akan mengambil. Itu. Sebagai ganti. Rugi.”
Meski suara Mogusa datar dan nadanya rendah, sedikit rasa senang dan bahagia bisa terdengar. Piala yang Kaisuto dapat adalah piala emas. Meski tak terlalu besar, tetap saja ini bernilai. Mogusa bisa menjualnya demi membeli sekoci yang baru.
Tentu, Kaisuto tak akan mau hasil jerih payahnya menghilang begitu saja. “Tidak mau! Ini milik Kaisuto-chan! Charon-kun bisa fucking die while fucking!” Setelah mengoloknya, si hantu bising berlarian di kota Rokkaku. Mogusa, yang semakin kesal, mengejarnya sambil berteriak, “Aku. Pasti. Akan. Mengirimmu ke. Yomi-no-kuni!”
Meski jalan menuju impiannya masihlah sangat panjang, Horutaa Kaisuto tetap akan hidup seperti dirinya sendiri. Tanpa perubahan berarti. Menjalani hari demi hari, melakukan yang terbaik. Menghadapi hari esok, menuju masa depan tempat impiannya suatu saat bisa ia capai.
Ending No. 1 (Chaos over Evil)
Good Ending
All story are cleared! Congratulations! You are an awesome reader!
Komentar
Posting Komentar