[FRC Entry] AILEEN - RED IS BAD LUCK - No Mercy
By: Villyca Valentine
Aileen memutar kunci pintu, dan mendapati rumah Keith yang sepi. Ia memasuki rumah lengang dan meletakkan beberapa kantong berisi bahan makanan di meja. Kakinya segera melangkah ke arah kamar, tak ada Keith hanya secarik surat beramplop kelabu bertuliskan nama pria itu.
Terlalu maskulin untuk disebut surat cinta, dan terlalu polos untuk ukuran surat resmi. Aileen mengerutkan alis kala membaca tulisan “Battle of Realms” di sudut kanan bawah. Ia teringat akan hal misterius yang membuat perutnya mual seketika. Nama Keith tercantum dengan jelas di bagian depan. Beberapa tahun yang lalu ia mendengar rumor mengenai pertarungan maut misterius di kalangan penyihir, bahkan rumor senada juga beredar di antara vampir. Aileen merasakan adanya ancaman bahaya. Ia segera memasukkan surat yang masih tersegel itu ke dalam tas pinggang.
“Aileen?” Keith berteriak dari bawah tangga untuk memastikan bahwa yang memasuki rumahnya adalah Aileen.
Perempuan itu menuruni anak tangga dengan muka kesal. “Tak perlu berteriak. Aku mendengarmu.” Aileen mendekati Keith saat mengendus aroma yang ia kenal, dan menyunggingkan senyum meledek. “Kembali dihajar oleh perempuan, Tuan?” Ia melanjutkannya dengan tertawa.
Keith langsung berwajah masam. “Jadi itu yang peliharaan lakukan untuk menghibur Tuan yang pulang dengan berantakan?”
Aileen kembali tertawa. Sedetik kemudian ia melingkarkan lengan ke belakang leher Keith, memaksanya menunduk untuk mendaratkan kecupan di pipi kiri yang terluka. Perempuan itu menjilat bibir, ada bekas darah Keith yang menempel.
“Kupikir kau ingin menghiburku, ternyata hanya untuk mendapatkan darah?”
“Daripada darahmu mengering sia-sia. Lebih baik dimanfaatkan, dan bisa mendaratkan ciuman di pipi. Apa Ketua Sialan itu membantingmu dengan keras ke lantai?”
Keith mengerutkan alis. “Ya. Dan aku ingin membantingmu sekarang ke ranjang.” Pria itu mengangkat Aileen lalu menaiki tangga.
“Dua puluh menit dan ditambah dengan darah. Bagaimana?” Aileen memamerkan deretan giginya, sepasang taring yang bukan dengan ukuran manusia begitu menyita perhatian. Perempuan berambut merah yang ada dalam pelukannya, pernah menjadi manusia. Dengan sifatnya yang menyebalkan, taring dan jepit rambut berbentuk tanduk hitam di kepalanya akan membuat nyaris semua orang yakin jika orang itu lebih mirip iblis yang menyamar alih-alih manusia.
Keith terdiam dan terus berjalan menaiki anak tangga. Ia membuka pintu dengan tergesa-gesa dan menutupnya dengan kasar. “Dua puluh menit, ditambah dengan satu jam.” Keith merapatkan Aileen dengan kasar ke dinding, lebih terlihat dihantamkan dengan kuat. “Peliharaan dilarang memerintah Tuannya!” bisik Keith seraya menarik rambut Aileen hingga mendongak.
“Aku perlu melakukan beberapa pekerjaan.”
“Oh, benar kah? Aku makin ingin menahanmu lebih lama.” Keith menarik kaos tanpa lengan yang dikenakan Aileen. “Kapan lagi Anjing Kecilku ini memiliki waktu luang selain saat libur? Aku harus memanfaatkan waktu yang ada.”
Keith melingkarkan sebelah lengannya ke pinggang Aileen, sebelah tangannya yang lain mencengkeram erat rahang perempuan itu. Tak pernah ada ciuman lembut sepanjang sejarah Aileen mengenal Keith, sensasi cekikan selalu hadir ketika mereka berciuman. Pria itu merabai punggung Aileen lalu membenamkan kukunya dalam-dalam. Aileen mengerang lirih saat Keith meninggalkan luka cakaran di punggung.
Melihat raut muka Aileen yang terlihat mulai menyukai tindakannya, ia mengangkat kedua lengan Aileen ke atas dan menyatukan kedua telapaknya. “Aileen.” Saat perempuan itu menatap Keith, ada sensasi nyeri yang menembus kedua tangannya. Kedua telapak tangannya ditembus sebilah pisau. Erangan dan raut wajah Aileen yang berusaha menahan rasa sakit membuat Keith tersenyum senang. “Ekspresi yang bagus, Aileen. Tenang saja, itu bukan pisau perak.”
……………………………………………………………………………… ……………….
“Hei, Badut. Bisa kita bertemu satu jam dari sekarang?” Aileen terdiam sejenak mendengarkan jawaban pria di seberang telepon. “Jangan banyak alasan! Aku tahu kau sedang tidak sibuk melakukan apapun. Paling-paling kau hanya sedang sibuk bermain, ‘kan?” Alis Aileen berkerut hingga nyaris bertemu satu sama lain. “Jika kau tidak datang, aku akan mencarimu dan menghajarmu! Aku bersumpah kau akan menyesal jika tidak datang tepat waktu!” Perempuan itu memutus sambungan telepon dan mendecak kesal mengingat alasan tak masuk akal yang bahkan tidak bisa disebut sebagai alasan.
Keith berjalan mendekati Aileen dan mendaratkan dagunya dengan kencang di puncak kepala perempuan itu. “Hei, kenapa berisik sekali?” Ia bahkan tidak peduli dengan Aileen yang mengerang kesakitan karena serangan dagunya.
“Seperti biasa, ada sumber informasi yang sedikit berulah ketika diperlukan.” Aileen melirik lengan Keith yang bermain-main dengan ujung pakaiannya dan segera memberi hadiah berupa tepukan kencang. “Aku harus pergi. Segera pakai bajumu atau kau akan sakit! Memangnya kau bayi? Berjalan-jalan dalam keadaan telanjang?”
“Ini hanya tiga langkah dari ranjang, Aileen. Lagipula kita baru saja selesai, ‘kan? Kenapa kau dingin sekali padaku?”
“Ini sudah dua jam, Keith! Sampai kapan kau akan menahanku?” teriaknya kesal seraya melepaskan tangan Keith yang memeluk pinggangnya. “Minggir, aku harus segera pergi! Sekarang juga!”
“Benar kah?” Keith mengangkat tubuh Aileen dan melemparkannya ke ranjang, mencekik lehernya dengan tangan kiri seraya mendaratkan ciuman. “Kau tidak lupa untuk menciumku, ‘kan?” Keith tersenyum lebar hingga menyipit seraya melepaskan cengkeraman tangan dari leher Aileen. Pria itu memasangkan ‘choker’ ke leher Aileen. “Jangan lupa untuk memakainya kembali, aku tidak ingin peliharaanku hilang atau ada yang mengira kau adalah hewan liar.” Ia tak lupa mendaratkan kecupan di leher Aileen.
“Posesif.”
Keith tertawa dan mendaratkan kecupan ringan di pipi kiri Aileen. “Bagaimana jika aku memikirkan cara lain untuk menandaimu?” Ia kembali tertawa.
“Bagaimana jika aku mengambil darahmu saja hingga kau pingsan? Urusanku tertunda sangat lama, Tuan.” Keith hanya menanggapi dengan tertawa lalu memberikan lengan kirinya yang baru saja dilukai.
Keith memandangi lekat perempuan yang kini menjilati luka di lengannya seakan telah lupa akan dirinya. “Aileen, ingatlah selalu jika kau tidak boleh menggigit manusia. Itu peraturannya. Yah, kecuali kau menggigitku sih itu bukan masalah besar.” Ia menepuk ringan kepala Aileen beberapa kali yang meliriknya tajam. “Jangan menatapku dengan seram.” Keith tertawa dan memberikan belaian di kepala Aileen. “Tanpa memasang tanduk kau sudah seram, kurasa kau tidak perlu memakainya.”
……………………………………………………………………………… …………..
“Hei, Badut! Ceritakan padaku apa yang kau ketahui tentang Battle of Realms. Aku tahu kau mengetahuinya! Kalangan penyihir mengetahui rumor ini.”
Pemuda berbaju motif ‘polka dot’ itu memandangi takjub pintu kamarnya yang terbelah menjadi dua karena tendangan Aileen. “Wah, aku tidak tahu jika kau belajar karate. Bisa kau ajari a-ups!” Pemuda itu menghindari pukulan Aileen sesaat sebelum mengenai wajahnya. “Nyaris saja!” ucap pemuda itu dengan riang sembari menghindari pukulan-pukulan yang dilancarkan Aileen.
Di dalam hati Aileen menyerapah karena matahari yang belum terbenam. “Tidak bisakah kita berbicara dengan tenang?”
“Kau yakin?” Jester mendarat di bahu kiri Aileen dan menelengkan kepala. Tubuhnya sedikit membungkuk agar bisa menatap Aileen yang mendelik marah. Ia bersalto ke belakang.
Sekilas Aileen melihat kumpulan lilin di tengah ruangan, berjajar membentuk suatu pola. Senyumnya mengembang saat menyadari hal tak wajar yang ia lihat sekilas ternyata benar. Perempuan itu menarik keluar sebilah pisau dan mengenakan ‘knuckle’ di tangan kanan. “Badut! Kau tidak ingin kuhajar, ‘kan? Aku tidak akan diadili jika melukai makhluk yang bukan manusia. Perlu kubuka topi konyolmu?”
Keduanya bertatap mata dengan tajam, Jester tidak menyukai perihal keanehan dirinya diketahui orang lain. Pukulan tangan kanan Aileen ditangkis dengan mudah, ayunan pisau dari tangan kiri perempuan itu berhasil menggores pakaian Jester. “Nona, kusarankan kita berbicara dengan da-“
Aileen menendang perut Jester hingga membentur penyekat ruangan yang terbuat dari gypsum hingga berlubang. Pemuda itu berusaha bangun, tapi kaki Aileen menekan bahu kirinya dengan kuat. “Tak ada permainan lagi, Tuan. Aku hanya akan bertanya satu kali padamu. Apa yang pernah kau dengar mengenai Battle of Realms? Kau memiliki hubungan dengan keluarga penyihir, dan rumor mengenai pertarungan maut bernama serupa berembus kencang di kalangan penyihir beberapa tahun yang lalu.”
Jester tertawa. Ia menatap Aileen. “Sepupu Gagak, beberapa tahun yang lalu pernah mengkuti turnamen maut yang kau bicarakan itu. Pertarungan makhluk antar semesta. Di mana manusia ataupun makhluk-makhluk bukan manusia yang mungkin tak pernah kau dengar sama sekali saling bertarung. Aku yakin kau pasti menyukainya dan cocok. Kau sendiri juga bukan manusia, ‘kan?” Jester tertawa.
Aileen mendecak kesal. Hal yang ia khawatirkan ternyata benar, kemungkinan Keith adalah salah satu peserta yang menerima undangan. “Bagaimana dengan bentuk undangan turnamen i-“ Jester menarik lengan Aileen dan mendaratkan ciuman. Bukan sesuatu yang bisa dikatakan sebagai ciuman karena pemuda itu sama sekali tidak menikmati sensasi saat bibir mereka bertemu. Ia sengaja melakukannya untuk melukai bibir Aileen dan membuatnya marah.
Vampir perempuan itu bangkit dan menghantam dinding di samping kepala Jester. Ia membatalkan niat untuk menyarangkan pukulan di wajah pemuda itu karena undangan beramplop kelabu di tasnya telah berpindah tangan. Jester melambaikan surat di depan wajahnya sembari cekikikan. “Bagaimana jika aku mengatakan bahwa surat ini bisa jadi adalah pintu masuk ke turnamen maut itu?”
Dengan rasa setengah tidak percaya dan rasa mual yang mendadak muncul tiap kali ia nyaris yakin turnamen itu mengundang Keith, Aileen merebutnya dari tangan Jester. Perempuan itu membuka amplop dan menemukan gambar makhluk berwarna merah bertanduk. Mirip manusia, tetapi sulit untuk disebut manusia. Ia memandangi lekat surat di tangannya, bahkan mengerutkan alis dan membaca kertas itu dengan jarak yang amat dekat. Jester sedikit penasaran karena perempuan itu mendadak terlihat serius.
“Makhluk macam apa ini? Siapa yang membuat namanya? Th-HAH? Bagaimana membacanya? Lily? Hah? Nama macam apa ini? Kenapa dia dipenuhi warna merah? Apa makhluk ini sedang pendarahan?” Aileen menunjukkan surat di tangannya pada Jester yang segera bangkit dan melongok isi kertas.
Pemuda itu tertawa. “Lucu sekali, apa itu tanduk mainan? Seperti milikmu,” ucap Jester riang seraya menyentuh tanduk di topi Aileen. Perempuan itu segera menampik tangan Jester. Jester memainkan jari di sekitar bibir Aileen, menyentuh taringnya dari luar. “Apa ini asli?”
Aileen membalik halaman berikutnya. “Itu asli, Jester. Apa kau ingin mencicip rasanya menembus kulitmu?” Perempuan itu menatap Jester dengan tajam.
Jester hanya tertawa. “Kau marah? Apa aku akan menjadi vampir jika kau menggigitku?” Pemuda itu memancing Aileen dengan menyodorkan lehernya.
Seakan tak peduli, Aileen kembali membaca kertas yang memiliki gambar perempuan. Terlihat seperti manusia normal. “Mima Shiki Reid. Terdengar wajar. Tidak seperti makhluk aneh tadi.” Ia menggerutu sembari memandang kesal pada kertas sebelumnya. “Ah, orang aneh mana yang membuat namamu? Apa lidahnya tidak tergigit saat mengucapkan namanya?”
Jester memainkan ujung rambut Aileen dengan jari-jarinya. “Terlihat normal, bahkan jauh lebih normal daripada pembacanya.” Pemuda itu langsung membuat raut muka konyol saat Aileen menatap marah.
“Ah, lihatlah! Ini lucu sekali,” kata Jester yang kemudian tertawa lepas. “Di belakang namanya ditulis dia adalah dewa. Apa ini lelucon? Ini lucu sekali, karena ia lebih mirip iblis daripada dewa.”
Aileen mengerutkan alis dan memandangi ekspresi Jester yang terlihat aneh. “Kenapa kau terlihat begitu bersemangat? Kau berniat memanggilnya? Jangan sembarangan memanggil sesuatu yang tak kau ketahui.”
Jester menarik kertas bertuliskan “Thurqk Iylich” dan membuangnya ke lantai. “Ya ya ya …. Bagaimana jika baca halaman terakhir? Apakah ada ucapan selamat datang atau ucapan ‘Maaf Anda belum beruntung’?”
Aileen melirik Jester dengan rasa kesal yang menumpuk. Pemuda itu menolak bicara, tapi begitu cerewet memberi komentar tak penting saat dirinya tengah serius. “Tidak bisakah kau sedikit tenang atau aku harus memukulmu hingga pingsan?”
Jester tertawa. “Baiklah. Aku akan mengunci mulutku.” Jester membuat gerakan seakan ia tengah menggembok bibirnya dan membuang jauh-jauh kunci tak kasat mata dari tangannya.
Perempuan itu sedikit lega karena Jester mulai diam. Tidak sepenuhnya, karena pemuda itu malah berpantomim di depan Aileen. Jester malah membuat gerakan-gerakan konyol dan berhasil menghindar sempurna saat perempuan yang tengah marah itu hendak memukulnya dengan surat.
“No mercy.Tak ada yang perlu ditahan, karena tak ada pengampunan bagi para pendosa.” Setelah membaca sebaris kalimat di halaman terakhir, Aileen merasakan keanehan di sekelilingnya. Bahkan raut wajah Jester berubah menjadi siaga, perempuan itu makin yakin sesuatu akan terjadi.
Bunyi ledakan disusul dengan getaran pada bangunan yang lebih menyerupai gempa besar, Aileen menarik kedua pisaunya dan bersiaga. Ada aroma asing yang mendekat bersama dengan bau samar khas manusia. “Jes, kita mendapat tamu.” Saat ia menoleh, Jester telah berlari ke arah pintu sembari melambaikan tangan.
“Tolong sambut mereka. Sebisa mungkin jangan merusak apartemen ini! Aku memiliki urusan yang sangat amat penting,” teriaknya diiringi tawa. Tak ada urusan penting seperti yang ia ungkapkan, itu hanya alasan yang dibuat-buat. Pemuda itu kabur begitu saja.
“Hei! Ini apartemen milikmu bukan? Kenapa kau tidak bertanggung jawab sama se-“ Aileen terdiam saat sesosok makhluk bersayap hitam mendarat di hadapannya. Tingginya mencapai dua meter. “Sial!” Dari ujung kepala hingga kaki, kulit makhluk itu berwarna merah.
‘Jika kau melihat warna merah, berarti kau sedang dalam masalah.’ Kalimat itu sering dikatakan Aileen pada kliennya yang bermasalah, karena merah merujuk pada warna rambutnya dan ia selalu mengatakan itu sebelum terlibat perkelahian. Aileen sendiri selalu berhati-hati dengan orang-orang yang memiliki warna rambut atau iris mata berwarna merah. Ia percaya warna itu memberikan kesialan alih-alih keberuntungan.
Aileen membisu ketika sosok lain yang bertubuh merah mendarat dengan halus di antara puing, persis di tengah bintang segi tujuh yang tergambar di lantai. Perempuan berambut merah itu bergidik ngeri, seakan makhluk itu datang karena ritual pemanggilan iblis. Sosok bertanduk itu menyunggingkan senyuman keji, makhluk merah lain yang berambut mohawk melempar seorang wanita ke samping Aileen. Wanita itu dalam keadaan terikat, sedikit luka ringan di wajahnya dan tangan.
“Hvyt, kejar orang tadi!” Makhluk berambut keperakan itu memandangi pintu keluar, arah Jester kabur. Tanpa perlu mendengar perintah lain, makhluk tinggi itu terbang mengejar Jester.
Aileen bersiaga dengan memasang kuda-kuda saat makhluk yang sebelumnya ia lihat di dalam surat kini berada di depan matanya. Perempuan itu yakin jika makhluk itu berbahaya, pandangan mereka bertemu dan makhluk itu hanya menyunggingkan senyum asimetris yang terlihat sedang meremehkan dirinya.
‘Sialan! Aku dalam masalah besar! Makhluk apa-apaan itu? Ia meremehkanku?’ Aileen hanya bisa berkata-kata dalam hati. Tentu saja ia tidak mau sembarangan berkata-kata dan membuatnya terjebak dalam masalah yang lebih rumit.
Dari ketiadaan makhluk itu membentuk singgasana dari tulang-belulang dalam sekali ayunan tangan. Ia kembali menatap Aileen saat duduk dengan congkak, menopang dagu sebelah tangan tanpa menghilangkan seringai tipis dari wajahnya.
Makhluk itu memiliki sklera hitam dengan iris putih, rambut keperakan, warna kulit merah dengan garis-garis hitam pada tubuh dan di bawah kedua mata. Ia mengulurkan sebelah tangannya yang lain, menunjuk perempuan yang terikat dan dibungkam. Sekali jentikan jari seluruh ikatan terlepas bagai mematuhi perintah pria itu.
“Mima Shiki Reid, aku telah memberimu penawaran, bukan? Jika kau atau Keith bertarung hingga salah satu dari kalian mati, aku akan memulangkanmu ke dunia asalmu. Selama kalian tidak membuatku bosan.”
‘Mima Shiki Reid? Bukankah itu perempuan di dalam surat tadi? Jadi orang di singgasana itu adalah Si Makhluk Pendarahan itu?’ Aileen memandangi sosok arogan yang membalas tatapannya. ‘Dia berpikir aku adalah Keith, apakah karena undangan tadi adalah milik Keith?’
“Keith, aku akan melepaskanmu jika bisa menghibur dewa yang sedang bosan ini. Kuharap kalian memberiku tontonan hebat. Kecuali salah satu dari kalian ingin menikmati siksaan dariku alih-alih harus saling menyakiti.” Makhluk itu berkata penuh dengan rasa percaya diri. Ia bahkan tidak tahu bahwa nama yang ia sebutkan adalah nama untuk pria.
‘Apa makhluk ini sebegitu bodohnya? Memangnya aku terlihat seperti laki-laki?’ Aileen melirik ke arah dadanya. ‘Memangnya aku sedatar itu hingga dia mengiraku sebagai laki-laki? Atau dia tidak tahu jika nama itu untuk pria?’ Aileen menahan dirinya sekuat tenaga unuk tidak tertawa atau mengumpat mengenai kesalahpahaman yang dialami Thurqk dan perihal undangan. ‘Ia mengaku sebagai dewa tetapi kelakuannya sungguh konyol. Apa ia sejenis Dewa Lelucon yang menguasai berbagai komedi?’
Mima melihatnya dengan tatapan khawatir sekaligus bingung. “Sejujurnya aku tidak ingin menyakitimu.” Perempuan itu menerjangnya dengan sebilah pisau dapur. “Maafkan aku,” bisiknya lirih saat Aileen menahan serangan dengan pisau.
Wanita itu manusia biasa, jika Aileen melakukan sesuatu untuk melukainya ia akan diadili. Keith akan mendapatkan masalah jika vampir yang berada di bawah pengawasannya melukai manusia. “Kau pasti bercanda! Kenapa kita harus mematuhi perintahnya?” Aileen mendorong senjatanya hingga wanita berambut hitam itu terhempas mundur beberapa langkah.
“Kita tidak memiliki pilihan!” Mima kembali menerjang dengan berusaha menyarangkan pukulan ke wajah dan perut Aileen beberapa kali, semua dihindari dengan sempurna. “Kenapa tidak membalasku?”
Aileen terkejut dengan suara jentikan jari yang disusul sensasi panas yang menggores lengannya. Seberkas cahaya mirip kobaran api yang memadat baru saja melewati lengannya dan meninggalkan luka sayat yang sedikit terbakar. Ia melirik tajam pada makhluk berwarna merah yang menatapnya marah. “Jangan membuatku bosan! Apa aku perlu mematahkan beberapa jari atau membuatnya terluka tiap kali kau menghindari serangannya tanpa membalas?”
“Kenapa bukan kau saja yang berhadapan denganku, Makhluk Tengik?”
Thurqk mengayunkan sebelah tangan dan menunjuk Aileen. Vampir itu belum berhasil menebak apa yang akan makhluk itu lakukan sampai akhirnya mendapati lambung kirinya tertembus tulang berujung tajam. “Jaga mulutmu!”
“Sialan!” Aileen mencabut dan segera membebat lukanya setelah merobek ujung pakaiannya. Sebenarnya ia tidak harus melakukannya, hanya saja ia tak ingin Thurqk tahu jika dirinya bukanlah manusia. Ia merasa harus tetap menyembunyikan jati dirinya. ‘Awas saja, aku akan membalasnya! Dewa ‘Twin Tail’, dewa macam apa itu? Memangnya dia anggota girlband?’ Aileen menatap tajam, jelas ia sangat marah karena makhluk itu melukainya dengan telak. Ia memasang wajah yang tampak sangat kesakitan, sengaja melakukannya agar tipuannya berhasil.
“Tatapan macam apa itu? Apa perlu aku mencongkel matamu?” Thurqk membalas tatapan Aileen yang jelas-jelas menantangnya. “Manusia tidak akan pernah bisa menghadapi dewa.”
Aileen terkekeh dalam hati. ‘Dewa macam apa yang tidak bisa membedakan laki-laki dan perempuan? Konyol sekali!’ Perempuan itu tercekat saat menyadari suatu kemungkinan dan sekuat tenaga mengulum senyumnya yang nyaris mengembang. ‘Kecuali makhluk itu bukan dewa, ia hanya menggertak.’
Vampir itu berusaha berdiri, sengaja bangkit dengan amat perlahan. Aileen menyarungkan kedua pisaunya dan memasang ‘knuckle’ di tangan kiri. “Jika aku berhasil menghajarnya, apa kau akan melepaskan kami?”
“Tergantung pada bagaimana kalian menghiburku.” Thurqk mengangkat tangan kanannya, mengayunkan jemarinya yang membuat kobaran api muncul secara tiba-tiba dan membakar Aileen.
Perempuan itu melepaskan jaketnya dan berusaha menggunakannya untuk memadamkan api. ‘Ah, sialan sekali makhluk yang satu ini. Sangat arogan tapi bodoh! Argghhhhh! Aku harus bisa menyarangkan pukulan ke wajahnya atau akan mati penasaran!’
Aileen mengayunkan pukulan, ia melakukannya dengan perlahan agar Mima berhasil menghindar. Vampir itu sengaja mengerang dengan keras saat pukulan Mima masuk dan menghajar perutnya dengan keras. Aileen yakin wanita itu baru saja melihat taringnya, karena matanya terlihat sedikit membelalak dan menjadi siaga. Vampir itu tersenyum dan mengayunkan jemarinya, mengundang serangan Mima.
‘Kuharap Makhluk Merah itu belum pernah mendengar mengenai vampir dan matahari segera terbenam.’ Dua puluh menit terasa begitu lama untuk Aileen, ia harus mengulur waktu untuk menjadi cukup kuat untuk berhadapan dengan Thurqk.
Mima menyambutnya dengan pukulan telak di wajah, nyaris membuat Aileen tersungkur. Wanita itu bukan manusia sembarangan, Aileen yakin jika Mima terlatih dalam bertarung. “Kabar yang bagus untukku jika kau adalah orang yang terlatih, kuharap kau tidak mudah mati.” Aileen membalas Mima dengan tendangan yang ditepis sempurna dengan tangan kiri. Vampir berambut merah itu bangkit dan langsung menghadiahkan tinjuan tangan kanan yang diblok sempurna oleh Mima. “Aku tahu itu sakit bukan?” Aileen menyunggingkan senyuman asimetris dan memberikan tambahan pukulan dengan ruas jari-jari kedua untuk menghajar dagu Mima. Ia tidak mau menggunakan ‘knuckle’nya.
Mima membalas dengan menghantam badan sisi kiri Aileen dengan lutut, nyaris membuat perempuan itu roboh ke samping. Aileen berhasil memantapkan kuda-kuda dan menghajar perut Mima dengan tinjuan tangan kanan. Keduanya beradu pukulan dan bertukar tendangan, tapi Thurqk terlihat bosan. Makhluk yang mengaku sebagai dewa itu mengayunkan sebelah tangan, seketika puing-puing beterbangan dan menghantam keduanya. Aileen menerima serangan secara telak hingga tersungkur di lantai. Darah menuruni wajahnya. Beberapa rusuknya patah, lengan kirinya mengalami keretakan dan kepalanya bocor.
“Kalian membosankan.”
Aileen tertawa lepas dan bangkit seraya menyeka darah yang menghalangi pandangannya. “Aku sudah menawarkan diri untuk melawanmu, bukan?” Perempuan itu melepas balutan kain yang sebelumnya melingkar di perutnya. “Aku tahu kau bukan manusia dan terlalu meragukan untuk disebut dewa.” Aileen mengikat rambut merahnya dengan kain yang berlumuran darah. Luka di perutnya mulai mengecil, nyaris tak ada darah yang menetes dari luka itu.
Vampir itu melirik Mima yang berusaha bangkit, kaki kanannya tertimpa puing dan beberapa luka besar yang tak berbahaya. “Aku yang akan mengurusnya, jangan menggangguku.”
Thurqk bangkit dari singgasana, tangan kanannya terangkat ke udara seakan hendak mencengkeram sesuatu. Aileen segera mencabut sebilah pisau saat tubuhnya tertarik dengan kuat ke arah Thurqk. Vampir itu berakhir di udara dengan lehernya dalam cengkeraman kuat Thurqk. Mereka bertatapan tajam, tangan kanan Aileen menikam lengan makhluk merah itu sementara kedua kakinya melingkar pada lengan Thurqk.
“Tidak ada yang boleh mencekik selain Keith!” Aileen menembakkan colt dari jarak dekat, semua peluru yang ia lepaskan terjatuh ke lantai bagai menabrak dinding tak kasat mata. Thurqk sedikit membelalak saat perempuan itu menyebutkan nama seakan nama itu milik orang lain.
Thurqk menghempaskan Aileen ke udara, vampir itu terpental hingga ke ujung ruangan. “Jadi kau menipuku? Tidak kah kau tahu jika menipu dewa adalah dosa tak termaafkan?”
Tawa Aileen pecah, bahkan ia sedikit malas untuk bangkit dan membiarkan dirinya berbaring sejenak di lantai yang penuh debu dan puing bangunan. “Itu jika kau memang seorang dewa. Bahkan kau tidak menyadari aku menipumu bukan? Aku tidak mengenal dewa, lagipula iblis tidak menyembah dewa ataupun tuhan. Aku hanya memiliki satu Tuan.” Aileen bangkit meski tubuhnya didera nyeri dan kebutuhan akan darah terasa makin mendesak. “Kau berani mengundang Tuanku dalam pertarungan berbahaya, kau pikir aku akan diam?”
Thurqk tertawa lepas. “Jadi kau bukan Keith, dan orang itu memiliki peliharaan berupa iblis?” Ia kembali tertawa. “Menarik sekali.” Makhluk itu menyeringai, sesaat sebelum menghujani Aileen dengan belasan pedang dari materialisasi api.
Tubuh perempuan itu tertembus dari berbagai sisi, berusaha tetap berdiri dan mencabut satu persatu dari tubuhnya. Kesadarannya menurun drastis hingga sepertiga, hanya ada aroma darah dan dorongan kuat untuk membuang kemanusiaannya yang tersisa. Erangan bercampur kemarahan, Aileen nyaris tidak berpikir. Ia mencabut sebagian besar senjata yang menikamnya, lebih mirip hewan liar yang berusaha menerjang Thurqk.
“Ah, menarik sekali. Bagaimana dengan mematahkan lehermu?” Thurqk menghantamkan sebilah pedang yang nyaris memenggal kepala Aileen. Vampir itu tergeletak di lantai dengan leher nyaris putus, darah menggenang di sekeliling ia terbaring.
Mima berusaha bangkit, ia mengambil senjata Aileen yang jatuh tak jauh darinya. Wanita itu menembakkan Uzi hingga kosong, tak ada satu peluru berhasil menggores Thurqk. Semua peluru berjatuhan ke lantai seakan menabrak dinding transparan. “Aku nyaris melupakanmu. Ternyata kau begitu berniat mati. Aku akan mengabulkannya.” Thurqk mengulurkan tangan kanannya, menghadapkan telapak tangan dan meremas udara kosong yang membuat kepala Mima meledak seketika.
Aileen mengerang, bereaksi dengan bau darah yang menyebar seketika di udara. Bangkit dengan kepala nyaris putus, mengeluarkan erangan yang mirip geraman hewan liar. Bunyi berisik alarm memecah keheningan, vampir itu melesat ke arah tubuh mima. Membuka rahangnya lebar-lebar dan menghunjamkan taring sedalam mungkin. Thurqk memandangi perempuan yang lebih mirip monster yang tengah melahap mangsanya.
“Ah, menarik sekali sekaligus menjijikkan.” Tawa Thurqk pecah, Aileen yang sibuk memangsa sisa-sisa darah Mima meliriknya penuh dendam. “Tatapan yang bagus! Aku akan pastikan mencongkel keluar mata itu!”
Aileen benci dengan dirinya dan bersumpah untuk membunuh Thurqk yang baru saja membunuh Mima dan membuatnya harus memangsa wanita itu. Ia jijik dengan dirinya yang jatuh bagai hewan liar, kemanusiaannya yang tersisa lenyap begitu saja dalam beberapa detik saat bau darah menyebar di udara. ‘Kenapa Keith mempertahankan kehidupanku? Kenapa memelihara makhluk sepertiku? Tak ada lagi sisa kemanusiaan saat menghirup aroma darah.’ Batinnya bergolak dan rasa muak sekaligus benci membuncah.
Seluruh luka Aileen telah sembuh, matahari telah tenggelam dengan sempurna. Perempuan itu menyeka mulutnya yang berlumuran darah. “Kau akan menyesal.”
“Benar kah?” Thurqk melepaskan sebilah pedang yang menarget kepala Aileen, perempuan itu menepisnya dengan mudah. “Kuharap kau memberiku hiburan.”
Aileen melesat ke arah Thurqk, tebasan pisaunya terhalang dinding transparan persis di depan makhluk itu berdiri. “Jangan menjadi makhluk pengecut! Kau mengaku sebagai dewa, tetapi bertingkah layaknya pengecut. Tidak kah kau malu?” Aileen menatapnya tajam dan memukul dinding transparan yang kokoh itu dengan ‘knuckle’ di tangan kanannya. Ia sengaja menahan pukulannya agar tetap menyentuh dinding itu, tatapannya tak sedikit pun lepas dari Thurqk.
“Iblis yang menantang dewa? Terdengar kurang ajar.” Thurqk menendang Aileen dari sisi kiri, perempuan itu terhempas hingga menghantam dinding.
Aileen tertawa. “Aku muak dengan lawakan mengenai dewa. Jangan membual terus menerus, kau membuatku muak! Kemarilah Pengecut, selesaikan pertarungan ini dengan jantan! Itu jika kau berani menghadapi perempuan lemah ini. Kecuali kau terlalu takut untuk berhadapan satu lawan satu dengan adil.”
“Iblis yang tidak tahu diri! Aku akan membuatmu menyesal dan membawamu ke Nanthara untuk menerima siksaan abadi.”
Vampir itu kembali tertawa. Ia menembak lampu yang berada di ata Thurqk, makhluk merah itu berusaha menghindari pecahan lampu ke samping. Aileen menyambutnya dengan tendangan, tangannya mencengkeram erat lengan kiri Thurqk, ia sengaja membenamkan kukunya sedalam mungkin dan membantingnya ke lantai.
Thurqk membalas dengan membuat beberapa tulang belulang dari singgasananya terbang dan menghunjam Aileen. Beberapa mengenai badan perempuan itu hingga menembus keluar dari tubuhnya. Ia terkejut alih-alih melemah, perempuan itu malah menatapnya dengan ganas seakan berusaha memangsanya.
“Sebagai dewa, kau terlalu bodoh. Kau tidak mengetahui bahwa iblis akan semakin kuat saat matahari terbenam. Dan kau masih berani menyebut dirimu dewa?” Aileen menarik kukunya, meninggalkan bekas cakaran panjang di lengan Thurqk.
Makhluk merah itu melepaskan puluhan tombak yang terbuat dari api, menembus tubuh Aileen. Perempuan itu kembali roboh, Thurqk menghampiri dan menginjak dadanya seakan berusaha untuk memamerkan kekuasaan. Ia berharap Aileen akan memasang wajah memelas atau ketakutan, tetapi malah mendapati perempua itu tertawa hingga nyaris tersedak darahnya. Aileen menembak Thurqk, hanya saja tembakannya meleset dan mengenai ikat kepala makhluk itu. Hiasan kepalanya yang berupa tanduk tercampak ke lantai, Thurqk geram karena itu membuat dirinya merasa kehilangan harga dirinya.
“Dewa Gadungan, sekali lagi kukatakan jika malam hari adalah waktu dari para iblis.” Perlahan luka di tubuh Aileen menutup, nyaris sempurna. “Apa kau menggunakan tanduk itu agar orang-orang takut padamu? Kau sama sekali tidak membuatku takut.” Aileen terbatuk darah ketika Thurqk menghunjamkan tombak ke dadanya. Tangan Aileen mencengkeram tombak yang menghunjam tubuhnya, ia melirik Thurqk yang menatapnya tajam seakan tidak menyukai apa yang baru saja ia sampaikan. “Aku juga menggunakan hal serupa, memasang tanduk aksesori agar orang-orang berhati-hati padaku.”
“Apa itu pesan terakhirmu?”
Ailen tertawa. “Bagaimana jika permintaan terakhir? Bukankah kau dewa? Tidak mungkin kau tidak bisa mengabulkannya.”
Thurqk menatapnya dengan arogan. Ia sama sekali tidak menundukkan kepala, hanya matanya yang lekat memandang dengan tatapan menghina. “Apa permintaan terakhirmu?”
“Ciuman.” Aileen tersenyum pasrah, seakan ia akan segera mati. “Kau dewa, bukan? Hal semudah itu tak mungkin kau tidak bisa melakukannya. Atau itu membuatmu salah tingkah dan tidak bisa melakukannya? Kau hanya tinggal menempelkan bibirmu pada bibirku.”
Thurqk menatapnya tajam, seakan ingin membunuhnya saat itu juga. Tetapi ia penasaran dengan sesuatu yang disebut dengan ciuman. Terlalu gengsi untuk tidak melakukannya karena ia telah menawarkan permintaan terakhir, lagipula itu hanya hal mudah. Harga dirinya terciderai jika ia tidak bisa melakukan hal remeh seperti ciuman sebagai permintaan terakhir.
“Apa seorang dewa tidak bisa melakukan ciuman? Jadi kau benar-benar bukan dewa?”
Makhluk merah itu berlutut, mendekatkan wajahnya pada Aileen. Keduanya sama sekali tidak menutup mata saat jarak antara mereka makin berkurang. Vampir itu bisa merasakan ujung rambut peraknya menyentuh kulit. Aileen perlahan menutup kedua mata, bibir mereka nyaris bertemu. Nyaris, tapi kesempatan itu tak akan pernah datang karena suara tembakan yang meledak di dekat mereka. Thurqk menatapnya dengan mata yang sekilas berkilat keji, lengannya mencengkeram leher Aileen dengan kuat seakan hendak meremukkannya.
Aileen tercekik dengan kuat, kepalanya ditekan dengan rapat sementara dada tertembus tombak yang tembus hingga ke lantai. Perempuan itu menggunakan kaki kirinya untuk menendang leher Thurqk. Makhluk merah itu melompat mundur, Aileen mencabut tombak di dada dengan kedua tangan. Ia berdiri dengan seringai yang tak kunjung hilang, Thurqk bisa melihat dengan jelas tubuh perempuan itu berlubang.
Thurqk memicingkan mata, ia yakin beberapa belas detik yang lalu melihat dada perempuan itu masih berlubang. Luka itu nyaris menutup sempurna. Heran, dan itu membuatnya terkejut saat Aileen dalam sekejap mendarat di hadapannya mendaratkan knuckle di pipi Thurqk. Makhluk merah itu mencengkeram tangan kanan Aileen dengan kuat hingga terlepas, darah bercipratan di udara. Erangan rasa sakit yang dirasakan perempuan itu lebih mirip raungan hewan yang marah. Tangan kirinya mencengkeram wajah Thurqk, menutupi kedua matanya dan membantingnya ke lantai hingga menciptakan retakan.
Aileen membenamkan taringnya ke leher Thurqk, ia tak melakukannya untuk menghisap darah. Vampir itu berusaha mengoyak leher Thurqk, ia bahkan tidak peduli dengan lambungnya yang ditembus tangan. Perempuan itu menginjak tubuh Thurqk, lengannya mencengkeram erat seakan hendak meremukkan tengkorak kepalanya. Aileen terus mengoyak leher Thurqk, hingga darah menyembur membasahi wajahnya. Perempuan itu tertawa seakan mendapatkan trofi kemenangan. Meneguk seluruh darah yang bisa ia telan, entah itu akan memberi efek apa untuknya. Cengkeraman tangan Thurqk di tangan kiri Aileen mengendur, tangan kanan yang menembus lambung perlahan terdorong keluar dengan lunglai.
…………………………………………………………………………
Jester dengan penampilan compang-camping dan tubuh penuh luka tengah mengintip dari balik puing bangunan. Ia menghela napas panjang saat mendengar Aileen meraung layaknya hewan liar yang tengah berhasil membuktikan kekuasaan dan memenangkan pertarungan. “Kau dengar suaranya, bukan? Tuan Pemburu, kau sebaiknya segera datang sekarang juga atau gadismu akan mati kehabisan darah.” Jester melakukan panggilan dengan menggunakan ponsel Aileen yang sempat ia curi ketika mengambil surat dari tas pinggang perempuan itu. Bagaimana pun ia sedikit khawatir dengan Aileen meski pernah menghajarnya, dan tentu saja ia tidak yakin bisa melawan Aileen yang tak lagi terlihat waras. “Sekedar info, ia baru saja membunuh dewa.”
“Justru kau yang seharusnya berhati-hati. Aileen sedang berusaha mempertahankan hidup, karena aku memberinya perintah untuk tetap hidup. Ia akan berusaha menelan darah dari makhluk apapun untuk berusaha hidup, bahkan jika itu berarti bukan darah manusia,” balas Keith yang kemudian mematikan panggilan.
“Aih, aku benar-benar selalu mendapat masalah jika berurusan dengannya. Seandainya aku tahu jika perempuan itu membawa begitu banyak kesialan, mungkin aku tidak perlu mendekatinya saat itu.” Jester mengingat saat pertama kali bertemu dengan Aileen. Ia mengira jika akan menemukan sesuatu yang menakjubkan dan layak untuk menjadi pengganti Apel Busuk Pengkhianat. “Astaga, aku pernah menggunakan lidahku pada makhluk yang bisa meminum sembarang darah!” Pemuda itu mengingat bagaimana ia memaksakan ciuman pada Aileen, ketika bermain-main dengan menyayati seluruh tubuh vampir itu karena penasaran dengan proses regenerasinya.
……………………………………………………………………………… ..
Jester memandangi penangkapan Aileen yang dilakukan Keith dan seorang perempuan yang lain, diperlakukan tidak jauh berbeda dengan penangkapan vampir liar. Tak ada pengecualian, selain bagaimana Keith bereaksi pada Aileen yang terbelenggu kuat. Pria itu menunjukkan ekspresi layaknya manusia normal yang memiliki kekasih normal, meski di hadapannya lebih mirip monster gila alih-alih vampir.
“Errrr, kau menciumnya?” Jester terbelalak saat melihat Keith mengecup kening Aileen yang tampak ingin menerjang dan memangsa pria itu.
Keith tertawa hingga kedua matanya menyipit. “Ada masalah? Ia telah berjuang untuk hidup. Ia melakukan perintahku dengan sangat baik. Bukankah dia peliharaan dan kekasih yang baik? Bukan hal aneh memberi ciuman pada kekasihmu, ‘kan?” Jester kehilangan kata-kata, ada sedikit rasa kesal bercokol dalam hatinya. “Kau tidak sedang mengingini milik orang lain, bukan?” Keith tertawa. “Jika aku memerintahkannya untuk membunuhmu, dia pasti akan melakukannya. Lagipula dia tidak akan pernah berganti tuan, kecuali aku mati.”
Jester tertawa. “Hal mudah. Aku hanya perlu membunuhmu.” Aileen bereaksi pada kalimat Jester, ia memandang pemuda itu dengan geraman dan tatapan seakan ingin membunuhnya.
Tawa Keith pecah. “Kau lihat? Ia hanya setia pada satu tuan. Anjing yang baik tidak akan membiarkan tuannya celaka. Lagipula aku tidak selemah pikiranmu.” Keith mengangkat Aileen, bahkan tak peduli jika terlihat lucu menggendong sosok mengerikan dengan ‘bride style’. “Aku sangat yakin ia tidak akan mau mengakuimu atau siapa pun sebagai tuan.” Keith berjalan pergi, meninggalkan Jester yang memasang wajah masam.
Perempuan lain yang bersama Keith menghentikan langkah dan mendekati Jester. “Jika ada yang bisa membunuh Keith, Aileen pasti akan membunuhnya dengan amat menyakitkan.” Perempuan itu memberikan senyum menyebalkan. Ia menyodorkan sekotak P*cky coklat untuk Jester. “Aileen akan mengikutinya hingga mati.” Perempuan berambut jingga itu hanya bisa menghela napas. “Mereka adalah pasangan sakit jiwa, jadi hentikan pikiran anehmu mengenai ingin merebut Aileen. Aku tidak ingin kehilangan anggota karena hal-hal remeh seperti percintaan.”
“Ketua! Apa kau sudah selesai mengintimidasinya? Aku tidak mau menunggu lebih lama. Sisi bawah sadarku memberontak, nih,” teriak Keith dari jauh.
“Berhenti berbicara jorok, Playboy Sipit! Perlu kuberikan tendangan agar tidak memberontak?” Keith hanya menanggapinya dengan tawa. “Hanya orang gila yang bergairah saat kekasihnya bermandikan darah dan dipenuhi luka,” gumamnya kesal. Perempuan yang memanggul banyak senjata itu melambaikan tangan pada Jester. “Aku yakin kau akan menemukan perempuan lain. Ya, bisa jadi lebih baik tapi tidak menutup kemungkinan lebih brengsek daripada Aileen. Ah, perempuan itu sebenarnya anak baik, lho. Kau akan susah menemukan yang seperti itu. Maksudku kesetiaannya yang mirip anjing.” Ia tertawa sambil berjalan pergi.
“Kurasa aku perlu pindah ke tempat lain. Di sini mulai membosankan.” Jester mengeluarkan ponselnya, memandangi foto tempat duduk di salah satu bar tak jauh dari apartemennya. Dalam foto itu seharusnya ada Aileen, tetapi vampir tak memiliki bayangan dan tidak bisa ditangkap dengan kamera. Pemuda itu tertawa geli dengan kebodohannya. “Ah, aku sungguh bodoh dan tidak beruntung.”
END
Woww. Ini brutal juga ya battlenya. Saya suka adegan manipulatifnya si Aileen sebagai vampir. Pas pertama kali Thurqk muncul sama Hvyt kerasa perbandingan sama Aileen-nya. Terus battle Mima dulu baru Thurqk ini pas, karena si Thurqk kebiasa bertingkah dewa. Yang justru jadi senjata makan tuan sejak lehernya dikoyak Aileen, lol.
BalasHapusHmm adegan anget di awalnya cukup kebayang2 ini hahahaha. Pace-nya asik. Si Jester gagal ya mau nikung, hahahaha. Ga bisa ngalahin karisma master Keith.
Overall, di battle sama karakteriasi top sih ini.
8/10