[FRC ROSTER] Alea Sfir
Alea Sfir – Sang Magi Bilah (The Blade Mage) (Chara)
Alea Sfir – Sang Magi Bilah (The Blade Mage)
Nama: Alea Sfir
Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Wanita
Asal: Eletheum, Kerajaan Alathea
Deskripsi fisik:. Ras manusia.. Alea memiliki kulit putih, rambut hitam sebahu, dan mata yang cukup besar berwarna biru tua. Tubuhnya pendek dan ringan, sehingga ia sering disangka anak berusia 12 tahun.
Alea mengenakan sebuah kacamata bulat besar warna hitam. Kemudian, di lehernya, terdapat sebuah syal berwarna kuning cerah. Bajunya memiliki warna jingga di bagian dada dan bagian samping kanan kiri perut dan pinggangnya, dengan lengan panjang putih polos. Sementara itu, bagian tengah memiliki kancing yang dibiarkan terbuka. Baik pakaian inti maupun lengannya menggunakan bahan korduroi.
Untuk bagian pinggang ke bawah, Alea mengenakan rok mini berwarna hitam yang dirangkap dengan celana pendek sepaha berwarna jingga, meski untuk bagian belakang, ia memperpanjang kain roknya. Ia juga membawa ransel abu-abu, yang biasa ia isi dengan makanan (biasanya roti atau daging nakki), obat, dan sebagainya. Senjata yang ia bawa adalah dua buah pedang kembar yang terselip di ikat pingganya, sementara ia bisa memanggil tiga senjata lain. Untuk bagian kaki, Alea mengenakan sepatu kulit cokelat panjang sebetis
Gelar Magi Bilah diberikan kepada Alea karena kemampuannya untuk memanggil tiga buah senjata tajam dari udara tipis: pedang, tombak dengan bilah yang cukup panjang, dan sabit besar secara bergantian, meski senjata favoritnya adalah sabit raksasa. Meski begitu, apabila ia harus meng-handle lawan yang berorientasi pada serangan proyektil, ia memilih tombak, dan untuk lawan yang berorientasi serangan jarak dekat, ia memilih pedang.
Kerpibadian: Kikuk, airhead, dan sering melakukan kesalahan merupakan sifat yang paling melekat pada diri Alea. Ketika masih belajar di Akademi Sains dan Sihir Lady Cellia jurusan Sihir Pertahanan, ia seringkali salah memanggil senjata, dan alih-alih memanggil pedang, ia justru pernah memanggil meriam. Namun, Alea juga merupakan pembelajar yang cepat dan ia juga cepat beradaptasi. Setelah lebih mampu mengendalikan sihirnya, ia dengan sigap memilih untuk berkosentrasi pada pemanggilan senjata tajam. Meski begitu, bagaimanapun, ia tetap seorang gadis yang kikuk, dan ia lebih suka menyendiri di kamar (atau penginapan setelah ia mulai berkelana) ketimbang pergi berjalan-berjalan bersama teman-teman Akademi Sains dan Sihir Lady Cellia-nya dan justru mempermalukan dirinya sendiri. Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat juga ia tunjukkan saat ia mendengar berita kematian ibunya, di mana ia dengan segera bangkit dan lantas memutuskan untuk memulai hidup baru di luar Eletheum.
Biografi:
Alea Sfir merupakan putri tunggal keluarga Sfir yang telah menjadi Magi selama bertahun-tahun. Ketika masih kecil, ayah Alea meninggal dunia, dan sejak saat itu, Alea pun tinggal berdua bersama ibunya seraya menyelesaikan studinya di Akademi Sains dan Sihir Lady Cellia. Diambilnya Jurusan Sihir Pertahanan karena ia ingin mengikuti jejak sang ayah, sekaligus mencari tahu lebih banyak mengenai jati diri sang ayah. Namun, suatu ketika, ia mendapati bahwa ibunya jatuh sakit atas sesuatu yang ia sendiri tak ketahui, dan tak lama kemudian, sang ibu meninggal tepat saat kelulusannya dari Akademi. Tak tahu harus ke mana lagi, ia memutuskan untuk meninggalkan Eletheum demi menghapus kenangan sedih tentang keluarganya. Alea sendiri sebenarnya juga memiliki penyakit yang sama dengan ibunya—sesuatu yang baru ia sadari saat seorang Penyembuh merawatnya di sebuah Rumah Penyembuhan (saat itu, ia baru saja melawan segerombolan besar feliccus setelah tanpa sengaja tersesat di sarang mereka). Selama ini, ia sering merasakan matanya berkunang-kunang hebat setelah melakukan sihir yang menguras tenaga, dan belakangan, hal itu menjadi semakin parah—ia bahkan tak mampu berdiri. Satu-satunya yang bisa membuatnya lebih baik adalah dengan cara menghirup ekstrak cellia, suatu hal yang membuatnya menyediakan serentetan ekstrak tersebut di dalam ranselnya. Namun, ia tidak mampu terlalu bergantung pada ekstrak bunga itu mengingat harganya yang cukup mahal. Pada akhirnya, ia menemukan sebuah tujuan baru: menemukan obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan menjalani hidup normal sebagai seorang Magi Bilah.. Apabila ia tidak segera menemukan obat itu, maka ia tidak akan bisa melewati usia 25 tahun.
Kemampuan:
1. Pemanggilan Senjata (Pedang/Tombak/Sabit): memunculkan dan menghilangkan senjata tajam dan menggunakannya. Alea sangat lihai menggunakan senjata tajam, karena ia terfokus pada penggunaan senjata macam itu.
Rapalan:
Tombak: (Parse!) Larenhal!
Pedang: (Parse!) Fiertum!
Sabit: (Parse!) Maleda!
Parse kurang lebih berarti “Datanglah!” dan merupakan rapalan opsional. Terlalu sering berganti senjata akan menguras tenaga sihir Alea, sehingga ia sebisa mungkin tidak terlalu sering berganti senjata.
2. Dash. Kelemahan terbesar Alea adalah serangan proyektil; ia akan kewalahan saat menghadapi musuh yang memiliki serangan jarak jauh seperti anak panah, peluru, ataupun bola api. Selain itu, ia juga tidak ahli dalam menangkis serangan. Itulah sebabnya, ia memanfaatkan tubuhnya yang ringan dan mungil untuk berkelit dari serangan. Kecepatan inilah yang juga menjadi kelebihannya, karena ia bisa menggunakan senjata tajamnya dengan lincah untuk menyerang.
3. Pemanggilan Tribilah (Triblade Summon). Merupakan sihir yang membutuhkan energi cukup besar, di mana Alea memanggil tiga buah senjata sekaligus dengan konfigurasi sabit raksasa di balik punggungnya dan pedang dan tombak di kedua bahunya. Kemudian, dengan sebuah sapuan sihir, ketiga bilah itu akan melesat menuju lawannya. Apabila kena, maka lawan dapat terluka cukup parah, tetapi apabila meleset, akibatnya fatal. Itu karena Alea tidak akan mampu bergerak selama beberapa saat setelah merapal mantra tersebut, membuatnya amat rentan terhadap serangan. Rapalan: (Parse!) Larenhal, Fiertum, Maleda!
4. Pemanggilan Tribilah Ganda (Double Triblade Summon). Merupakan senjata pamungkas Alea, di mana setelah ia melakukan Pemanggilan Tribilah, ia memaksakan diri melakukannya lagi untuk yang kedua kali, hanya saja, kali ini pedang dan tombak menusuk dari udara, sementara sabit raksasa menyusul dari belakang lawan. Setelah melakukan hal ini, ia dapat dipastikan akan pingsan (meski ia masih bisa berdiri cukup lama untuk memenuhi kriteria last man standing). Digunakan apabila dalam keadaan terdesak saja, dan apabila musuh masih berhasil menghindarinya, Alea akan kalah. Rapalan: (Parse!) Larenhal, Fiertum, Maleda Ankh!
5. Sihir Eletheum Dasar: Di samping kekuatan utamanya memanggil senjata, Alea juga memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai sihir Eletheum dasar dengan perantara bilahnya. Sihir jenis ini nyaris tidak membutuhkan energi sihir, jadi ia bisa menggunakannya sesuka hati. Tidak dapat digunakan untuk serangan langsung, tapi dapat berguna apabila memanfaatkan lingkungan (semisal mendorong batu untuk dijatuhkan ke lawan). Jenis sihir yang dimiliki antara lain: mengeluarkan api kecil (hanya dipakai untuk penerangan), mencari penunjuk mata angin (ini merupakan fitur yang paling sering dipakai mengingat ia sering tersesat), mendorong benda, dan mengangkat benda.
Kelemahan:
1. Serangan proyektil, kewalahan saat menghadapi musuh yang memiliki jangkauan serang luas. Bahkan meskipun Alea menggunakan tombak, ia tetap akan mengalami kesulitan.
2. Tidak ahli menangkis, bahkan terhadap musuh yang memiliki jangkauan serang dekat. Gaya bertempur Alea adalah menyerang (baginya, menyerang adalah cara bertahan terbaik). Meski begitu, kecepatannya yang luar biasa mampu mengkompensasi kelamahannya itu.
3. Setelah melakukan Pemanggilan Tribilah, Alea tidak akan mampu bergerak selama beberapa saat, membuatnya rentan akan serangan apabila musuhnya dapat menghindari serangan itu.
4. Setelah melakukan Pemanggilan Tribilah Ganda, Alea akan pingsan.
Realms: Sang Gadis Elf Saraveli
Motivasi:
Ini sudah hari kedua puluh semenjak aku meninggalkan rumah. Atau kedua puluh satu? Eh, atau ketiga puluh? Ah, sudahlah, itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah aku tidak tahu lagi ke mana aku harus mencari obat bagi penyakitku. Aku memang berhasil mengumpulkan sedikit informasi lebih—hanya sedikit—mengenai penyakit ini, tapi buku-buku itu tidak memberitahukan apa yang dapat menyembuhkannya (atau setidaknya, bagaimana caranya).
Atau mungkin aku mencari tahu mengenai harta McGuffin saja, ya?
Ketika berada di penginapan kemarin, aku sempat mendengar pembicaraan dua orang tamu—mereka sepertinya Pemburu kalau menilik dari busur besar mereka—yang tengah membahas sesuatu tentang “harta karun McGuffin”. Aku sendiri awalnya berniat bergabung dengan mereka, tapi saat sadar bahwa mereka pasti akan menghardikku keras-keras bahkan saat aku baru mendekat, aku memutuskan untuk mencuri dengar saja. Dari situ, aku jadi tahu bahwa ternyata ada sebuah turnamen yang memperebutkan sebuah harta bernama McGuffin yang memiliki kekuatan luar biasa. Hanya itu saja yang berhasil kupahami, karena selebihnya, mereka membahas hal-hal yang asing di telingaku (seperti apa itu Realm dan siapa itu Nekoman).
Kalau harta itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa besar seperti yang mereka katakan, maka aku sudah dapat dipastikan akan dapat menemukan obat untuk penyakitku, kan? Atau, kalaupun ternyata harta itu berbentuk uang, aku bisa membeli obat itu dan terbebas dari pentyakit ini!
Kehidupan sebelumnya:
Seharusnya hari itu adalah menjadi hari kegembiraanku. Seharusnya, hari itu aku merasa senang, karena hari itu, aku akhirnya lulus dari akademi.
Benar, setelah empat tahun lebih berkutat dengan berbagai macam sihir, aku akhirnya menerima selembar kertas berwarna cokelat itu. Semenjak Ayah meninggal, aku berusaha mengikuti jejaknya menjadi seorang Magi Pertahanan, dan kini, aku bahkan memperoleh gelar khusus dari Jurusan Sihir Pertahanan berupa Magi Bilah karena aku memiliki spesialisasi dalam pemanggilan senjata tajam. Setidaknya, itulah yang terlintas di benakku: prestasiku ini pastilah membuat Ibu bangga.
Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Bukan, Ibu bukannya tidak berbangga kepadaku, melainkan tidak bisa berbangga kepadaku. Pada hari itu, Ibu meninggalkanku menuju tempat yang sama dengan Ayah.
Kala itu, aku benar-benar terpukul. Aku merutuki diriku sendiri: kenapa aku justru pergi ke acara wisuda bodoh itu saat ibuku tengah terkapar di atas ranjang? Namun, ternyata aku tidak punya waktu untuk menangisi nasibku. Itu karena dua hari setelah aku meninggalkan Eletheum—ada terlalu banyak kenangan sedih di sana—aku menemukan sesuatu yang membuatku terhenyak.
Aku menderita penyakit yang sama dengan yang ia derita.
Alea Sfir – Sang Magi Bilah (The Blade Mage)
Nama: Alea Sfir
Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Wanita
Asal: Eletheum, Kerajaan Alathea
Deskripsi fisik:. Ras manusia.. Alea memiliki kulit putih, rambut hitam sebahu, dan mata yang cukup besar berwarna biru tua. Tubuhnya pendek dan ringan, sehingga ia sering disangka anak berusia 12 tahun.
Alea mengenakan sebuah kacamata bulat besar warna hitam. Kemudian, di lehernya, terdapat sebuah syal berwarna kuning cerah. Bajunya memiliki warna jingga di bagian dada dan bagian samping kanan kiri perut dan pinggangnya, dengan lengan panjang putih polos. Sementara itu, bagian tengah memiliki kancing yang dibiarkan terbuka. Baik pakaian inti maupun lengannya menggunakan bahan korduroi.
Untuk bagian pinggang ke bawah, Alea mengenakan rok mini berwarna hitam yang dirangkap dengan celana pendek sepaha berwarna jingga, meski untuk bagian belakang, ia memperpanjang kain roknya. Ia juga membawa ransel abu-abu, yang biasa ia isi dengan makanan (biasanya roti atau daging nakki), obat, dan sebagainya. Senjata yang ia bawa adalah dua buah pedang kembar yang terselip di ikat pingganya, sementara ia bisa memanggil tiga senjata lain. Untuk bagian kaki, Alea mengenakan sepatu kulit cokelat panjang sebetis
Gelar Magi Bilah diberikan kepada Alea karena kemampuannya untuk memanggil tiga buah senjata tajam dari udara tipis: pedang, tombak dengan bilah yang cukup panjang, dan sabit besar secara bergantian, meski senjata favoritnya adalah sabit raksasa. Meski begitu, apabila ia harus meng-handle lawan yang berorientasi pada serangan proyektil, ia memilih tombak, dan untuk lawan yang berorientasi serangan jarak dekat, ia memilih pedang.
Kerpibadian: Kikuk, airhead, dan sering melakukan kesalahan merupakan sifat yang paling melekat pada diri Alea. Ketika masih belajar di Akademi Sains dan Sihir Lady Cellia jurusan Sihir Pertahanan, ia seringkali salah memanggil senjata, dan alih-alih memanggil pedang, ia justru pernah memanggil meriam. Namun, Alea juga merupakan pembelajar yang cepat dan ia juga cepat beradaptasi. Setelah lebih mampu mengendalikan sihirnya, ia dengan sigap memilih untuk berkosentrasi pada pemanggilan senjata tajam. Meski begitu, bagaimanapun, ia tetap seorang gadis yang kikuk, dan ia lebih suka menyendiri di kamar (atau penginapan setelah ia mulai berkelana) ketimbang pergi berjalan-berjalan bersama teman-teman Akademi Sains dan Sihir Lady Cellia-nya dan justru mempermalukan dirinya sendiri. Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat juga ia tunjukkan saat ia mendengar berita kematian ibunya, di mana ia dengan segera bangkit dan lantas memutuskan untuk memulai hidup baru di luar Eletheum.
Biografi:
Alea Sfir merupakan putri tunggal keluarga Sfir yang telah menjadi Magi selama bertahun-tahun. Ketika masih kecil, ayah Alea meninggal dunia, dan sejak saat itu, Alea pun tinggal berdua bersama ibunya seraya menyelesaikan studinya di Akademi Sains dan Sihir Lady Cellia. Diambilnya Jurusan Sihir Pertahanan karena ia ingin mengikuti jejak sang ayah, sekaligus mencari tahu lebih banyak mengenai jati diri sang ayah. Namun, suatu ketika, ia mendapati bahwa ibunya jatuh sakit atas sesuatu yang ia sendiri tak ketahui, dan tak lama kemudian, sang ibu meninggal tepat saat kelulusannya dari Akademi. Tak tahu harus ke mana lagi, ia memutuskan untuk meninggalkan Eletheum demi menghapus kenangan sedih tentang keluarganya. Alea sendiri sebenarnya juga memiliki penyakit yang sama dengan ibunya—sesuatu yang baru ia sadari saat seorang Penyembuh merawatnya di sebuah Rumah Penyembuhan (saat itu, ia baru saja melawan segerombolan besar feliccus setelah tanpa sengaja tersesat di sarang mereka). Selama ini, ia sering merasakan matanya berkunang-kunang hebat setelah melakukan sihir yang menguras tenaga, dan belakangan, hal itu menjadi semakin parah—ia bahkan tak mampu berdiri. Satu-satunya yang bisa membuatnya lebih baik adalah dengan cara menghirup ekstrak cellia, suatu hal yang membuatnya menyediakan serentetan ekstrak tersebut di dalam ranselnya. Namun, ia tidak mampu terlalu bergantung pada ekstrak bunga itu mengingat harganya yang cukup mahal. Pada akhirnya, ia menemukan sebuah tujuan baru: menemukan obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan menjalani hidup normal sebagai seorang Magi Bilah.. Apabila ia tidak segera menemukan obat itu, maka ia tidak akan bisa melewati usia 25 tahun.
Kemampuan:
1. Pemanggilan Senjata (Pedang/Tombak/Sabit): memunculkan dan menghilangkan senjata tajam dan menggunakannya. Alea sangat lihai menggunakan senjata tajam, karena ia terfokus pada penggunaan senjata macam itu.
Rapalan:
Tombak: (Parse!) Larenhal!
Pedang: (Parse!) Fiertum!
Sabit: (Parse!) Maleda!
Parse kurang lebih berarti “Datanglah!” dan merupakan rapalan opsional. Terlalu sering berganti senjata akan menguras tenaga sihir Alea, sehingga ia sebisa mungkin tidak terlalu sering berganti senjata.
2. Dash. Kelemahan terbesar Alea adalah serangan proyektil; ia akan kewalahan saat menghadapi musuh yang memiliki serangan jarak jauh seperti anak panah, peluru, ataupun bola api. Selain itu, ia juga tidak ahli dalam menangkis serangan. Itulah sebabnya, ia memanfaatkan tubuhnya yang ringan dan mungil untuk berkelit dari serangan. Kecepatan inilah yang juga menjadi kelebihannya, karena ia bisa menggunakan senjata tajamnya dengan lincah untuk menyerang.
3. Pemanggilan Tribilah (Triblade Summon). Merupakan sihir yang membutuhkan energi cukup besar, di mana Alea memanggil tiga buah senjata sekaligus dengan konfigurasi sabit raksasa di balik punggungnya dan pedang dan tombak di kedua bahunya. Kemudian, dengan sebuah sapuan sihir, ketiga bilah itu akan melesat menuju lawannya. Apabila kena, maka lawan dapat terluka cukup parah, tetapi apabila meleset, akibatnya fatal. Itu karena Alea tidak akan mampu bergerak selama beberapa saat setelah merapal mantra tersebut, membuatnya amat rentan terhadap serangan. Rapalan: (Parse!) Larenhal, Fiertum, Maleda!
4. Pemanggilan Tribilah Ganda (Double Triblade Summon). Merupakan senjata pamungkas Alea, di mana setelah ia melakukan Pemanggilan Tribilah, ia memaksakan diri melakukannya lagi untuk yang kedua kali, hanya saja, kali ini pedang dan tombak menusuk dari udara, sementara sabit raksasa menyusul dari belakang lawan. Setelah melakukan hal ini, ia dapat dipastikan akan pingsan (meski ia masih bisa berdiri cukup lama untuk memenuhi kriteria last man standing). Digunakan apabila dalam keadaan terdesak saja, dan apabila musuh masih berhasil menghindarinya, Alea akan kalah. Rapalan: (Parse!) Larenhal, Fiertum, Maleda Ankh!
5. Sihir Eletheum Dasar: Di samping kekuatan utamanya memanggil senjata, Alea juga memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai sihir Eletheum dasar dengan perantara bilahnya. Sihir jenis ini nyaris tidak membutuhkan energi sihir, jadi ia bisa menggunakannya sesuka hati. Tidak dapat digunakan untuk serangan langsung, tapi dapat berguna apabila memanfaatkan lingkungan (semisal mendorong batu untuk dijatuhkan ke lawan). Jenis sihir yang dimiliki antara lain: mengeluarkan api kecil (hanya dipakai untuk penerangan), mencari penunjuk mata angin (ini merupakan fitur yang paling sering dipakai mengingat ia sering tersesat), mendorong benda, dan mengangkat benda.
Kelemahan:
1. Serangan proyektil, kewalahan saat menghadapi musuh yang memiliki jangkauan serang luas. Bahkan meskipun Alea menggunakan tombak, ia tetap akan mengalami kesulitan.
2. Tidak ahli menangkis, bahkan terhadap musuh yang memiliki jangkauan serang dekat. Gaya bertempur Alea adalah menyerang (baginya, menyerang adalah cara bertahan terbaik). Meski begitu, kecepatannya yang luar biasa mampu mengkompensasi kelamahannya itu.
3. Setelah melakukan Pemanggilan Tribilah, Alea tidak akan mampu bergerak selama beberapa saat, membuatnya rentan akan serangan apabila musuhnya dapat menghindari serangan itu.
4. Setelah melakukan Pemanggilan Tribilah Ganda, Alea akan pingsan.
Realms: Sang Gadis Elf Saraveli
Motivasi:
Ini sudah hari kedua puluh semenjak aku meninggalkan rumah. Atau kedua puluh satu? Eh, atau ketiga puluh? Ah, sudahlah, itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah aku tidak tahu lagi ke mana aku harus mencari obat bagi penyakitku. Aku memang berhasil mengumpulkan sedikit informasi lebih—hanya sedikit—mengenai penyakit ini, tapi buku-buku itu tidak memberitahukan apa yang dapat menyembuhkannya (atau setidaknya, bagaimana caranya).
Atau mungkin aku mencari tahu mengenai harta McGuffin saja, ya?
Ketika berada di penginapan kemarin, aku sempat mendengar pembicaraan dua orang tamu—mereka sepertinya Pemburu kalau menilik dari busur besar mereka—yang tengah membahas sesuatu tentang “harta karun McGuffin”. Aku sendiri awalnya berniat bergabung dengan mereka, tapi saat sadar bahwa mereka pasti akan menghardikku keras-keras bahkan saat aku baru mendekat, aku memutuskan untuk mencuri dengar saja. Dari situ, aku jadi tahu bahwa ternyata ada sebuah turnamen yang memperebutkan sebuah harta bernama McGuffin yang memiliki kekuatan luar biasa. Hanya itu saja yang berhasil kupahami, karena selebihnya, mereka membahas hal-hal yang asing di telingaku (seperti apa itu Realm dan siapa itu Nekoman).
Kalau harta itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa besar seperti yang mereka katakan, maka aku sudah dapat dipastikan akan dapat menemukan obat untuk penyakitku, kan? Atau, kalaupun ternyata harta itu berbentuk uang, aku bisa membeli obat itu dan terbebas dari pentyakit ini!
Kehidupan sebelumnya:
Seharusnya hari itu adalah menjadi hari kegembiraanku. Seharusnya, hari itu aku merasa senang, karena hari itu, aku akhirnya lulus dari akademi.
Benar, setelah empat tahun lebih berkutat dengan berbagai macam sihir, aku akhirnya menerima selembar kertas berwarna cokelat itu. Semenjak Ayah meninggal, aku berusaha mengikuti jejaknya menjadi seorang Magi Pertahanan, dan kini, aku bahkan memperoleh gelar khusus dari Jurusan Sihir Pertahanan berupa Magi Bilah karena aku memiliki spesialisasi dalam pemanggilan senjata tajam. Setidaknya, itulah yang terlintas di benakku: prestasiku ini pastilah membuat Ibu bangga.
Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Bukan, Ibu bukannya tidak berbangga kepadaku, melainkan tidak bisa berbangga kepadaku. Pada hari itu, Ibu meninggalkanku menuju tempat yang sama dengan Ayah.
Kala itu, aku benar-benar terpukul. Aku merutuki diriku sendiri: kenapa aku justru pergi ke acara wisuda bodoh itu saat ibuku tengah terkapar di atas ranjang? Namun, ternyata aku tidak punya waktu untuk menangisi nasibku. Itu karena dua hari setelah aku meninggalkan Eletheum—ada terlalu banyak kenangan sedih di sana—aku menemukan sesuatu yang membuatku terhenyak.
Aku menderita penyakit yang sama dengan yang ia derita.
Komentar
Posting Komentar