Lahir di keluarga biasa bersama saudari kembarnya, Melody Raskolnikova, kehidupannya berjalan biasa. Dia tampan, cekatan, lincah, disukai keluarganya, namun ia tidak merasa bahagia. Ya, ia tidak bahagia karena melihat adiknya sering disiksa ayahnya sendiri. Sejak Ibunya masuk rumah sakit, waktu ia berumur 4 tahun, ia selalu menatap penuh dengki pada ayahnya.
Di usia 6 tahun, ia mulai mengenal apa itu sihir, jika saja iblis—dia yakin begitu meskipun pria itu adalah penyihir—tidak datang padanya dan mengajarinya, ia mungkin tidak akan mampu menjaga Melody. Usia 8 tahun, ia mulai berburu jantung naga, untuk memperpanjang umur, karena penyihir yang menjadi gurunya mulai mengajarkan teleportasi antar waktu, untuk melihat perkembangan sihir di masa datang.
Mata Edward mengalami peningkatan kemampuan, ia mampu membaca gerak bibir orang yang sedang bergumam maupun membaca gerakan tangan orang lain yang menyampaikan isyarat saat telinganya kehilangan pendengaran di usia 9. Awalnya ia ingin membunuh Melody karena membuat telinganya tuli, namun ia urungkan, karena ia sadar bahwa dirinya dan Melody hanya alat rusak yang siap dibuang.
Usia 10 tahun, Edward menyelamatkan Melody dari kejadian berdarah dimana sang adik tidak sengaja membunuh ayahnya sendiri. Ia membawa Melody ke tengah hutan segera setelah ia membakar habis rumah dan mayat ayahnya di dalam. Itu adalah kali pertama Edward menggunakan sihir apinya dengan brutal.
Dalam masa pengasingannya, Edward melatih dirinya dan mempelajari banyak ilmu sihir, dan bagaimana cara membangkitkan orang mati. Untuk berjaga apabila ada sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi.
Tepat saat usianya 17 tahun, ia tidak sengaja menemukan jasad Melody yang sudah bersimbah darah di tengah hutan, tidak jauh dari rumahnya. Dengan kekuatan sihirnya, ia mampu mengawetkan jasad Melody sebelum membusuk. Ia tidak segera membangkitkannya, karena ia tidak mau mengorbankan darahnya. (Pria yang penuh perhitungan, tidak mau rugi, dan baginya darahnya sangat berharga)
Dilema yang dirasakan Edward tidak berubah hingga jasad Melody hampir mendekati batas pengawetannya. Ia hanya tidak mau sendiri, dan ia pikir Melody adalah orang yang sama dengan dirinya, sebuah alat yang rusak dan siap dibuang. Ia memiliki kekurangan, sama dengan Melody. Hanya karena ia tidak ingin sendiri, ia membangkitkan Melody, dan ia pikir Melody dapat ia gunakan. Sedikit menyesal ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya.
Ya, sejak Melody tewas, rasa dendam tak beralasan mulai tumbuh di hati Edward. Marah, benci, berang campur jadi satu. Meski ia berhasil menghanguskan satu desa, ia tidak puas. Ia butuh yang lebih sadis lagi, seperti saat ayahnya mati. Oleh karena itu ia butuh Melody.
Dengan dalih mencari pembunuh Melody, ia berhasil membuat Melody melakukan apa yang ia minta. Ia yang menentukan siapa yang akan ia bunuh, namun ia membebaskan Melody untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
Tak ada alasan khusus mengapa Edward memutuskan untuk membunuh manusia lainnya. Ia hanya ingin melihat kematian seseorang. Hanya demi itu ia masih terus berkelana bersama kembarannya
|
Komentar
Posting Komentar