[Ronde 4] Gubbins Lollygag - IIII
By: Aesop Leuva
49.
Setiap peliharaan-pohon adalah belahan jiwa masing-masing idyllicist. Tanpa peliharaan-pohon, idyllicist bakal perlahan kembali jadi inti abstraksi mereka. Dan tanpa idyllicist, peliharaan-pohon bakal perlahan meninggal di tempat keduanya terpisah, atau, semestinya bertemu.
Meskipun ada memang peliharaan-pohon dan idyllicist yang tercipta spesial, setiap idyllicist dan peliharaan-pohon selalu menganggap belahan jiwa mereka spesial bagaimanapun juga.
Punyaku, Flibbarf dan Floccile, jenis standar dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Tapi aku tahu, tanpa perlu orang lain mengatakannya padaku, Flibbarf dan Floccile mencintaiku sebesar aku mencintai mereka. Selamanya. Tanpa batas dan melampauinya.
Terima kasihku untuk keluargaku yang mempertemukan kami melalui musik.
Akan selalu kuingat hari-hari ketika aku lebih kecil dari ini, saat kalian menghibur kami dengan lagu dunia luar itu kapan pun kami membutuhkannya.
One day your story will be told.
One of the lucky ones who's made his name.
One day they'll make you glorious,
Beneath the lights of your deserved fame~.
Bikin aku melankolis dan optimis!
50.
Pada salah satu gang temaram di permukiman kumuh, dekat reruntuhan biara, pinggir kota. Gubbins dicegat gerombolan perampok.
Angin besar pertama malam ini menciptakan pergerakan samar awan-awan kelabu. Membuka rembulan kemerahan.
Mereka banyak, perampok itu. Laki-laki dan perempuan beragam usia. Tersebar di dua ujung gang, tempat sampah, mesin pendingin ruangan, sudut-tepi bangunan, kabel-kabel tiang listrik. Semua pakai cadar yang berpendar hijau keruh.
Gubbins diminta menyerahkan seluruh hartanya baik-baik. "Memang tak bisa lebih bagus lagi," katanya, tersenyum. Ia sadar tak memiliki pilihan melarikan diri tanpa melibatkan pertarungan.
Diserahkanlah dompet bergantungan kunci, hadiah ronde pertama. Seorang perampok mengecek isinya.
"Mungkin ada beberapa uang yang tak bisa kalian belanjakan, entahlah. Coba saja." Gubbins menuntun Flibbertigibbet. "Tetaplah jadi perampok ramah, kalau harus begini terus. Permisi-permisi!"
Tak ada yang memberi jalan. Seorang perampok menyenter Floccinaucinihilipilification di punggung Flibbertigibbet.
"Itu sungguhan, nak? Pohon uang?"
"Iya. Tapi jangan repot-repot," kata Gubbins. "Floccile yang memutuskan kapan waktunya menggugurkan uang. Tak bisa diambil dengan cara selain itu."
Tak ada yang mendengarkan. Gerombolan perampok beringsut serempak mendekati Floccinaucinihilipilification. Mengeluarkan senjata.
Gubbins mengerang. "Sadel dan berangus! Floccile, benteng! Flibbarf, maju—dan berusahalah agar tidak menubruk apapun."
Benteng uang kertas tercipta, membungkus rapat. Hanya menyisakan celah untuk Flibbertigibbet melihat saat melaju.
Peluru berdesing. Menggema di gang sempit. Lalu suara seseorang terjatuh. Peluru berdesing lagi, lagi, dan lagi. Menjatuhkan banyak orang.
Flibbertigibbet berhenti di ujung gang. Benteng uang kertas dibuka. Gubbins menoleh, meringis melihat sebagian besar perampok tergeletak tak sadarkan diri di berbagai tempat. Sisanya kabur.
"Kau sudah berusaha, Flibbarf. Ini memang gang sempit. Jangan salahkan dirimu terlalu banyak. Semoga teman-teman mereka kembali nanti. Kita masih harus mencari Siobhan—"
Ocehan Gubbins dipotong desingan peluru. Berlian sebesar bola tenis tertanam, masih berasap, di dinding. Lima sentimeter dari ujung hidung.
Lalu, mendarat di depan Flibbertigibbet, idyllicist-pria, kekar, bernama Noel, dengan peliharaan-pohon tunggangannya, Mcdonald.
"Hurrah, Little Gallows," kata Noel, dingin.
"Pe-pe-pe-pe-pe-pe-pelatih!" kata Gubbins, bahagia.
"Aku akan membunuhmu nanti." Noel memutar Mcdonald. "Sekarang ikuti aku dulu."
Gubbins menelan ludah, mengangguk-angguk. Mereka melesat berbaris melewati gang-gang. Keluar permukiman kumuh. Sampai ke wilayah reruntuhan biara.
Lapangan dengan dua patahan menara lonceng. Dimana, di sini Gubbins langsung melompat, berteriak murka. Nyaris hilang kendali jika Noel tidak menahannya.
Karena, tepat di tengah lapangan itu, bermandikan cahaya rembulan kemerahan, berdiri seseorang yang baru saja selesai menggorok leher idyllicist-perempuan bernama Lily—adik Stuart.
Gubbins tak tahu kenapa Lily bisa ada di sana. Bukankah Lily menghilang bersama Stuart di Isla Wunder? Gubbins menangis menjerit-jerit. Meronta. "Kenapa, sialan? Pelatih lepaskan! Lily! Maafkan aku! Maaf! Lily!"
Di tengah lapangan, seseorang itu, Abu, melempar kepala Lily—semua tandanya remuk. Lalu ia balik badan dan berjalan tenang ke dalam bayangan menara, tanpa mengatakan apapun. Deru mesin motor menenggelamkan teriakan-teriakan Gubbins. Cahaya lampu berkelebat. Abu berkendara pergi.
Noel melepas Gubbins yang langsung berlari menghampiri kepala Lily, menangis memeluknya. Terus-menerus memanggil, meminta maaf.
51.
Pada salah satu ruangan di kastel yang seharusnya tak pernah ada. Markas besar kelompok misterius. Vendetta dan Cancer makan malam bersama "Wanita yang Berdoa di Puncak Bukit".
Ruangan ini dipenuhi barang-barang menarik. Seperti peluit besar pengendali binatang buas. Buku dongeng tua. Patung-patung. Topeng-topeng. Dan lain-lainnya.
Kelompok kecil pemusik bermain membelakangi jendela berpemandangan rembulan kemerahan.
Pelayan-pelayan bergaun hitam membawakan piring dan mangkuk—menu spesial: daging dinosaurus. Mengisi gelas-gelas kosong.
Cancer melempar bola pelangi ke salah satu pelayan. Pelayan tersebut langsung kelihatan bingung, hilang ingatan. Cancer tambah melempar bola salju. Pelayan bingung itu langsung membelah diri, terduplikasi, jadi dua. Identik. Saat Cancer mengambil bola bintang di meja dan hendak melemparnya, Bill muncul, menahan. Menggeram datar, "Tidak di sini."
Cancer terpingkal-pingkal. "Wah, kau sudah pulang, B! Tadi aku hanya ingin bermain! Ingin bermain! Bukankah begitu, V?"
Vendetta mendesah. "Melibatkan Gubbins Lollygag adalah pertaruhan besar. Sekalipun kepercayaannya berhasil kumenangkan, kemampuannya tetap terlalu berisiko. Karena, saat idyllicist menginginkan sesuatu, selama ingatannya sepadan atau uang yang dibayarkan cukup, sesuatu itu pasti terjadi. Bagaimana pun caranya. Dan bagaimana jika caranya adalah dengan melenyapkan kita semua? Merepotkan."
"Untuk membuktikan kau tidak bermain-main, V tersayang, caramu memang merepotkan." Cancer mengusap bola bintang di meja. "B melaporkan soal suasana nostalgia yang kental saat kaupulang ke kampung halaman Nahuen-mu. Jadi aku penasaran apa tujuan kita masih sama, V? Mengumpulkan harta tersembunyi? Menjadikan nyata kisah-Nya?"
Vendetta melirik sosok "Wanita yang Berdoa di Puncak Bukit". Lalu mengatakan, "Tentu saja. Tanpa keraguan."
Cancer tersenyum cerah.
Mereka lanjut makan. Diiringi alunan musik tenang. Sampai saat Bill mulai membahas kediamannya di Nanthara dan peran Astaroth pada ronde keempat, ketenangan berakhir.
Sebutir peluru bersarang di kepala Vendetta. Kaca jendela pecah, lalu hancur bersama dinding setelah diberondong senapan mesin yang menewaskan Cancer seketika.
Asap hijau dari beberapa bom membutakan, melumpuhkan pemusik dan pelayan.
Terdengar beberapa sayatan kasar, tembakan, pekik tertahan. Asap menghilang, hanya satu orang yang tetap berdiri di ruangan ini. Abu.
Abu menghampiri Bill yang sekarat. Bertanya singkat dimana ia bisa memperoleh informasi mengenai Nanthara. Bill membisikkan sesuatu. Selesai. Abu mematahkan lehernya.
Perhatian Abu segera teralih ke tengah ruangan. Taman bunga kecil dengan tanah berumput, dikelilingi susunan batu, menyerupai puncak bukit, dan wanita, sediam patung, yang sedang berdoa.
Abu menembak wanita itu. Tapi pelurunya tidak pernah sampai.
Peluru bergeming di udara lalu tertarik ke belakang bersama seluruh pemandangan ruangan. Bagi Abu rasanya seperti berdiri di atas meja dan seseorang menarik taplak tanpa menjatuhkannya.
Pemandangan ruangan tertarik, terpusat, menjadi bola padat di atas telapak tangan sosok berjubah bangsawan, Bill, yang, berdiri tanpa luka sama sekali.
Belum sempat mencerna situasi, pemuda berzirah hitam, Vendetta, mengerjap-muncul di hadapan Abu lalu menghantam sisi kepalanya dengan punggung pedang. Kacamata hitam Abu remuk.
Saat bangkit, Abu mendapati ruangan ini sudah kembali seperti sediakala. Tanpa kerusakan. Musik memenuhi udara dan pelayan mengantarkan makanan. Laki-laki telanjang, Cancer, menyeringai padanya.
Abu melempar granat yang tak pernah meledak, lalu kabur menerobos jendela.
"Ya, ampun! Ini lantai tiga belas! Tapi kurasa mudah bagi pria yang tidak membuang-buang waktu sepertinya. Ngomong-ngomong, kerja bagus, B!" Cancer dan Bill bersulang.
Saat ini Bill sedang terlihat seperti idyllicist-perempuan, Lily. Sosok yang ia gunakan sebagai samaran, lalu, memanfaatkan bola salju untuk memancing Abu ke sini. Memberitahukan padanya informasi-informasi.
"Apa bijaksana membiarkan tempat ini diketahui?" tanya Vendetta.
Cancer menunduk lesu. "Tempat ini terlalu lama tidur, V. Lihat saja. Semua keributan tadi tak mampu mendatangkan siapa-siapa! Mereka boleh berterima kasih padaku nanti. Karena, mulai sekarang, mereka harus bergerak lagi."
52.
Malam yang sama. Istana Kerajaan Gwenevere terbuka menyambut kedatangan empat kelompok tentara bayaran. Vanallenbelt dari utara. Nekharna, selatan. Lassdon, barat. Graegiul, timur. Mereka yang berpengalaman tempur di tanah merah Nanthara dua dekade silam.
Semua berkumpul sekarang bukan untuk meredam-ulang pemberontakan penghuni neraka. Tapi mengamankan para peserta terpilih yang akan beraksi di sana. Bekerja sama dengan negosiator Hadyatha dan dilengkapi persenjataan NGSR.
Nama Felix Garfield muncul sebagai prioritas penjagaan.
Pesta digelar hingga menjelang fajar. Empat hari menuju pembukaan ronde keempat.
Matahari merayapi langit pagi.
Madelaine, salah satu produser acara Battle of Realms, di sisi lain kota, berkendara cepat keluar gedung siaran. Salinan dokumen berisi daftar urutan peserta, berkas-berkas penting lain, dan video simulasi terbaru dari pengirim misterius, tergeletak di kursi depan.
Madelaine menghubungi Juda, kekasihnya, untuk kesekian kali. Masih tanpa respons. Ia mengirim pesan agar bertemu di Taman Memorial.
Sesampainya di sana, Madelaine mendapati Juda sedang menggenggam seikat bunga dan bercengkerama dengan gadis bergaun putih.
53.
Tiga hari lalu, Madelaine akhirnya berhasil mendapatkan beberapa video asli ronde satu sampai tiga, milik beberapa peserta siaran tunda yang aksi sebenarnya ditutupi video simulasi. Seperti Gubbins Lollygag dan Piwi Shiwite.
Video-video asli yang dimandatkan langsung dihancurkan oleh pencipta video-video simulasi. Menjaga identitas mereka atau mendapatkan pembantaian seluruh anggota keluarga tim siaran.
Madelaine menyerahkan semua itu pada Juda, yang, di luar dugaan, keesokan harinya memberi reaksi biasa-biasa saja setelah menonton. Padahal saat itu Juda pasti sudah sadar ada pergerakan kelompok misterius yang memiliki tujuan tertentu atas Battle of Realms.
Ditambah sekarang, pagi ini, Madelaine mendapati Juda berduaan dengan gadis lain.
Keputusasaan dan kekesalan spontan muncul pada ekspresi Madelaine saat ia menghampiri Juda.
Diserahkan olehnya memori berisi video simulasi terbaru, lalu berpamitan singkat, kembali ke mobil.
Parahnya, Juda tak mencegah apalagi menyusul. Hanya menyerahkan seikat bunga tadi.
Madelaine menyalahkan rasa lapar karena menangis sekarang. Ia pergi mencari sarapan dan mengharapkan tempat sunyi untuk merenung.
Sama sekali tak menyadari seseorang terus mengikutinya dari gedung siaran.
54.
Juda panik. Di sampingnya, gadis bergaun putih yang akhirnya memiliki nama pagi ini, Agisthear, tersenyum.
Agisthear sangat ajaib menurut Juda. Baru mengenal beberapa hari tapi Juda merasa bisa memercayainya. Padahal Agisthear selalu mengatakan hal-hal luar biasa yang sulit dipercaya.
Tentang Battle of Realms. Bukan hanya sebagai turnamen balap-tarung. Tapi sebagai "kendaraan" bagi berbagai pihak—yang terlibat langsung atau tidak—untuk mencapai tujuan masing-masing. Berbagai jenis harta-harta yang diinginkan.
Beberapa hari lalu, Madelaine membawa bukti keberadaan kelompok misterius lewat video-video asli para peserta siaran tunda. Juda tahu lebih dulu dari Agisthear, jadi itu tak terlalu membingungkan. Banyak juga hal-hal yang membuktikan kebenaran lain.
Juda akhirnya menerima fakta Agisthear ini Maha Mengetahui. Atau sekadar "pencerita".
Jadi, saat Agisthear meramalkan kemungkinan kejadian-kejadian hari ini, memberi saran terbaik, Juda mengikutinya. Yaitu: membeli bunga untuk Madelaine lalu menyusul ke bawah jembatan, markas lama mereka, setelah beberapa saat.
"Sudah cukup lama. Bawah jembatan dua blok dari sini," kata Juda. "Kususul dia sekarang?"
"Juda, oh, Juda!" Agisthear bersenandung. Menerawang. "Cintamu untuk wanita itu sehebat apakah?"
"Kukira kau mengetahui segala hal. Yah, anggap saja aku rela mati untuknya."
Agisthear tersenyum. Juda berlari keluar taman, menyusul Madelaine ke bawah jembatan.
55.
Gubbins belum tidur, tubuhnya berlumuran darah Lily yang mengering, saat ia mengikuti Noel melesat ke suatu tempat di tengah kota.
Dua tanda tidak kelihatan di atas kepala Noel. Segitiga, brouhaha, digunakan untuk menyokong hidup Elizabeth—tunangannya. Bantuan terbaik yang didapat dari itu adalah Mcdonald, tunggangannya, kini memiliki kemampuan mendeteksi. Dengan cara inilah Noel menemukan Gubbins, dan, Lily, yang ada di lokasi berdekatan semalam.
Mcdonald juga mendeteksi benda milik Gubbins yang berkemampuan unik. Seperti, portal menuju ke mana saja. Benda itu, bagaimanapun, tak lagi dimiliki Gubbins sekarang.
Gubbins bingung, merasa tak memiliki benda berkemampuan teleportasi. Tapi, satu-satunya benda yang hilang semalam adalah dompet bergantungan kunci, hadiah ronde pertama. Diberikan pada gerombolan perampok.
Jadi ke sanalah tujuan mereka sekarang. Markas gerombolan perampok. Mengambil dompet bergantungan kunci Gubbins dan Noel akan memanfaatkan kemampuan teleportasi di dalamnya—jika memang ada—untuk menemukan Elizabeth.
Gubbins sendiri kehilangan jejak Elizabeth sejak Menara Bebal. Ia akan merasa sedikit berguna sekarang apabila bisa membantu Noel menemukannya.
Tanda lain yang tak kelihatan di atas kepala Noel adalah lingkaran. Yarborough. Kemampuan penyokong kematian. Entah ditujukan pada siapa. Gubbins belum tahu.
Keluar jalan raya, turun ke ladang ilalang tepi sungai besar. Mereka tiba di lokasi dompet bergantungan kunci. Bawah jembatan. Markas gerombolan perampok.
Tumpukan mobil berkarat, ditumbuhi tanaman rambat dan bunga liar, memenuhi bayangan jembatan seperti pagar. Mcdonald yakin di tengah semua itu terdapat akses menuju semacam bungker. Benda yang mereka cari berada di bawah tanah.
Gubbins membantu memeriksa dan pada saat inilah ia melihat, di dataran yang lebih sejajar dengan permukaan sungai, tempat jalan bata dari jalan raya di atas berakhir, menyisakan rute sempit pelari, dan, sangat sepi pagi ini. Wanita familier, berkemeja putih. Madelaine. Sedang ditodong oleh sosok pembunuh Lily. Abu.
Gubbins meneriakkan nama si produser dan baru sempat memacu Flibbertigibbet beberapa meter, saat sosok lain muncul. Laki-laki bertudung, Juda.
Juda bergerak cepat, mengabur, dan sunyi. Tepat di belakang Abu, ia menarik dua belati tersembunyi dari balik pakaian. Siap menikam.
Abu berkelit. Mencengkeram dua lengan Juda, yang, sudah membuka mulut lebar-lebar sekarang dan memuntahkan asap keunguan. Abu menahan napasnya sambil membanting Juda ke samping.
Gubbins, disusul Noel, tiba di ujung jalan bata saat Juda bangkit dan Abu memberondongnya dengan tembakan.
Juda tumbang ke sungai besar. Madelaine, menangis, melompat menyusul. Abu melempar dua peledak ke tanah curam di atas Gubbins dan Noel, melongsorkannya. Mengubur dua idyllicist, sementara ia mengambil seluruh berkas di kursi depan mobil Madelaine.
Saat Gubbins dan Noel keluar dari timbunan tanah, Abu sudah pergi.
56.
Dibantu Gubbins dan Noel, Madelaine naik. Basah kuyup memeluk jasad Juda. Sangat ketakutan terlihat di lokasi keributan. Mobil-mobil sudah berhenti di jalan raya. Sebagian orang beranjak turun mengecek.
Tapi yang pertama menemukan mereka adalah para perampok. Bercadar putih di bawah cahaya langit pagi.
Ada keterkejutan familier dalam ekspresi perampok-perampok itu, saat melihat Madelaine, lalu, berubah hancur tak percaya, saat melihat jasad Juda di pelukannya.
Para perampok membawa semua ke markas dan menyembunyikan mobil Madelaine.
Memang ada bungker, dan, setelah dijelaskan, dompet bergantungan kunci Gubbins dikembalikan. Noel membolak-balik benda itu mencari bagian yang berkemampuan teleportasi. Madelaine, menggigil, kebetulan tahu. Membantu menjelaskan.
Gantungan kunci pada dompet ternyata mineral langka dari timur yang mampu merekam fungsi suatu benda. Mineral tersebut disetel agar merekam fungsi benda pertama yang Gubbins beli setelah menyimpan uang dalam dompet.
Waktu itu, Gubbins membeli portal untuk Ibbo, si dinosaurus ganjil di Isla Wunder.
Para perampok mulai merencanakan balas dendam Juda sambil membahas Abu. Kengerian teroris itu. Akhir-akhir ini, meski dalam pengawasan ketat, Abu membunuh lebih banyak dan nyaris terfokus pada ahli-ahli spiritual.
Noel sendiri berencana ke hotel para peserta malam ini. Membalaskan kematian Lily. Gubbins kaget. Madelaine mencegahnya. Produser itu bilang ada cara lain untuk membalas dendam dengan lebih leluasa.
57.
Hari pembukaan ronde keempat.
Semua peserta berkumpul. Area restoran ditekan atmosfer ketegangan. Dua puluh menit berlalu sejak Felix Garfield dan Balthor memasuki pilar teleportasi menuju Nanthara.
Nama-nama selanjutnya dipanggil: Abu dan Gubbins Lollygag.
Hening. Keduanya menghadap pilar teleportasi di tengah ruangan. Sesuai aba-aba, lalu, masuk bersamaan.
Linoleum area restoran digantikan tanah keras berdarah-darah. Dinding halus aula menjadi tumpukan tulang-belulang. Cahaya terang, hangat, dunia atas, hilang. Terbentang kini langit kemerahan dunia bawah yang muram dan dingin.
Andarabhula Labyrinth. Esmetas Nanthara.
Sesaat tak ada yang terjadi, tak ada suara di udara selain gumaman-gumaman mengerikan dari kabut tipis. Lalu Gubbins memacu Flibbertigibbet. Menciptakan jarak dengan Abu. Berteriak setelahnya, "Aku mau membantumu! Dengarkanlah dulu."
Yang terjadi selanjutnya adalah ledakan warna-warni.
Seorang pesulap mendarat di antara Gubbins dan Abu. Menyentuh topi menghormat dan melemparkan dadu ke depan kedua peserta.
Muncul ledakan warna-warni lainnya. Gubbins mendadak merasakan dorongan mendesak untuk menghancurkan, sementara Abu tampak menjadi sangat tidak fokus dan panik.
Seorang pesulap itu, Jack, tersenyum. Jack telah membalik masing-masing kepribadian Gubbins dan Abu.
Pemandangan berubah.
Mendadak mereka seperti berada di rumah kaca yang hidup. Refleksi-refleksi mereka beterbangan menyerang. Jack mendecak, melemparkan kartu-kartu ke segala arah. Gubbins meneriakkan kehancuran, Flibbertigibbet melenguh-takut, Floccinaucinihilipilification menembakkan peluru koin. Abu bertanya-tanya apa yang terjadi sambil ikut menembak, menghajar.
Kaca-kaca pecah. Refleksi-refleksi yang terluka memperlihatkan wujud aslinya sebagai Hvyt. Penduduk Nanthara. Berkemampuan menyamar menjadi apapun.
Hvyt-hvyt kembali menumpuk. Mengubah pemandangan. Menyesatkan pijakan, membawa mereka ke tengah labirin.
Semakin banyak serangan, semakin Jack terhibur, semakin Gubbins menggila, semakin Abu tertekan.
Sampai akhirnya Jack tertangkap. Gubbins dijatuhkan dari Flibbertigibbet. Abu dilumpuhkan.
Muncul ledakan besar. Tiga sosok baru mendarat di antara kerusuhan. Pria kekar, Bartholomew. Pemusik, Qyr. Naga berkepala empat, Hydra.
Mereka membebaskan Jack yang tertawa-tawa. "Betapa membahagiakan!" jeritnya. Menyulap hujan konfeti.
Mereka berempat berpelukan. Lalu, setelah dengan mudah menghancurkan serangan dan tipuan para Hvyt, keempatnya berteriak, "Keluar dan bermainlah, Ginger!"
58.
Pada kastel markas besar kelompok misterius. Vendetta dan Cancer menyaksikan kemunculan empat miniatur figur di atas papan khusus.
"Keempat hantu Ginger bersaudara. Sudah dimulai," kata Vendetta. "Benarkah Bill tidak membutuhkan bantuan?"
"Tentu-tentu! B pasti sanggup. Nanthara adalah rumahnya," kata Cancer. "Lagipula kita masih kekurangan anggota, dan, kau, V, harus menemaniku bermain di tempat lain!"
59.
Di perairan sekitar pulau neraka, tim pengaman peserta-peserta terpilih sedang bersiap-siap berlabuh. Mereka baru saja mendapatkan visual keadaan darurat—melalui kombinasi mineral langka dari timur yang mampu mengoptimalkan keberuntungan, dan lainnya merupakan kemampuan memata-matai; satu-satunya cara untuk menembus pertahanan navigasi menyesatkan Andarabhula Labyrinth sejak dua dekade silam.
Visual keadaan darurat tersebut adalah Felix Garfield, prioritas penjagaan, saat ini sedang diburu habis-habisan oleh sang Raja Iblis sendiri. Astaroth.
Tim pengaman menyusup masuk. Beberapa berguguran saat melacak presisi lokasi target yang berubah-ubah seiring pergerakan konstruksi labirin. Tapi akhirnya mereka berhasil. Felix Garfield ditemukan di ujung jalan buntu, tepat sebelum Astaroth mengisap jiwanya.
Astaroth, mengesampingkan titel dan kemampuan mengerikannya, tampak seperti bocah polos tercantik, bersenjatakan tongkat sederhana, menunggangi naga hitam elegan.
Negosiator Hadyatha maju menjalankan tugasnya. Astaroth mengangguk kemudian membunuhnya.
Pecah pertempuran.
Astaroth membunuh sebagian besar, menyisakan empat tawanan, membiarkan beberapa sisanya mundur.
Bagaimanapun, tim pengaman berhasil. Memanfaatkan pertempuran, Felix Garfield mengendap-endap melarikan diri.
Hal lain adalah Noel, idyllicist pelatih Gubbins, yang ikut masuk bersama tim pengaman setelah disusupkan Madelaine sebagai anggota, dan segera bergerak terpisah, kini mulai menjalankan misinya sendiri. Mencari Abu.
Tapi malah menemukan Balthor. Pingsan di persimpangan labirin.
60.
Para arwah membawa kedua peserta ke perkampungan mereka. Abu dan Flibbertigibbet dipenjarakan, siap dieksekusi. Sementara Gubbins dielu-elukan, diarak berkeliling.
Para arwah menyaksikan seluruh kerusuhan tadi. Pertarungan spontan antara kedua peserta, Jack, dan ratusan Hvyt. Mereka menganggap perlawanan ngotot Gubbins sebagai semangat kebebasan. Lantas berharap Gubbins mau memimpin pemberontakan melawan Astaroth di hari yang—berkat Battle of Realms—pasti akan dipenuhi kekacauan.
Gubbins sekarang—berkat kemampuan Jack membalik kepribadian—sebenarnya tidak peduli pada para arwah. Ia memang menargetkan kehancuran Astaroth untuk mengakhiri semua ini secepatnya.
Para arwah memberikan Gubbins kendaraan baru. Naga putih anggun yang telah lama ditangkap dan disiapkan untuk momen-momen seperti ini.
Tanpa terpikir menanyakan keberadaan Flibbertigibbet, hanya fokus pada kehancuran-kehancuran, Gubbins berangkat mempersatukan para arwah, pejuang-pejuang sepemikiran, dari berbagai sudut Andarabhula Labyrinth. Mengobarkan pemberontakan besar.
61.
"Kudengar, Astaroth memakan kita, para arwah, jiwa-jiwa, perlahan-lahan," kata salah satu tahanan. Arwah pria tua. "Menghilangkan hampir semua kapasitas kita. Hanya menyisakan amarah."
Abu, di sel seberang bersama Flibbertigibbet, mendengarkan. Selain mereka, para tahanan itu merupakan arwah baru yang menolak bergabung dengan pemberontakan.
Mereka yang masih menganggap, bagaimanapun, kematian adalah akhir. Berbeda dengan arwah-arwah lama yang dipenuhi amarah, dan, sebelum termakan habis, menyalurkannya terhadap perlawanan.
Abu memerhatikan para tahanan. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk yang ia bunuh akhir-akhir ini.
Sejak kemunculannya di Gwenevere, Esmetas Nanthara memang menjadi tempat berlabuh para arwah dari setiap kematian tak natural.
Salah satu ahli spiritual yang Abu culik memberitahukan itu, juga, senjata-senjata, tentang kutukan kuat yang bisa ditempelkan pada jiwa. Cara mengendalikannya.
Abu membunuh akhir-akhir ini untuk mempersiapkan senjata itu. Sebagian besar para tahanan, lalu arwah baru di tiap sudut labirin, dalam jiwa mereka, menyimpan bom yang bisa diaktifkan kapanpun.
Jaminan keselamatan dan janji kehancuran Abu di sini.
Tapi, berkat kemampuan Jack membalik kepribadian, saat ini Abu menyesali tindakannya. Ia bersujud meminta maaf pada para tahanan. Berjanji takkan menyia-nyiakan pengorbanan mereka.
Ledakan beruntun tercipta. Menghancurkan penjara. Abu, tanpa alasan jelas, keluar sambil menarik Flibbertigibbet bersamanya.
Menuju tujuan utama: menemui Astaroth.
62.
Dendam dari empat arah mata angin pernah menciptakan empat hantu yang bergentayangan di masing-masing wilayah tersebut.
Jack, Bartholomew, Qyr, Hydra, adalah nama keempat hantu itu.
Semua ingin keberadaan masing-masing diterima selayaknya makhluk ajaib lain. Tapi mustahil. Karena takut akan kutukan dendam, orang-orang selalu mengusir mereka.
Kecuali petualang penyendiri bernama Ginger dari Gwenevere. Ginger menjelajahi wilayah-wilayah di empat arah mata angin dan, tanpa takut, mengadopsi keempat hantu itu.
Mereka mendapatkan kehidupan yang lengkap, sampai akhirnya Ginger menua dan meninggal dalam kedamaian.
Keempat hantu itu, bagaimanapun, hancur. Tak menerimanya. Bertekad mencari Ginger di alam sana. Surga atau neraka.
Mereka tak pernah terlihat lagi.
Sampai hari ini, berkat Battle of Realms, keempat hantu Ginger bersaudara muncul di Nanthara. Sambil memikirkan itu, dan terempas menembus dinding tulang-belulang, melewati permukiman-permukiman para Hvyt, terus tembus ke sentral labirin, Astaroth tersenyum.
Jack, Bartholomew, Qyr, Hydra, mendarat di depannya. Bertanya, "Kau penguasa sini? Kenal Ginger?"
Astaroth mengangguk. "Ginger kalian ada di perutku."
"Wah, dia melucu," siul Jack.
"Apa boleh kupotong-potong si pendek ini sekarang?" tanya Bartholomew.
"Tidak-tidak-tidak." Qyr menggeleng. "Jelas tidak boleh. Karena nadaku akan meremukkannya lebih dulu."
Hydra menggeram. "Cepatlah meminta maaf, bocah. Dan katakanlah, dengan niat baikmu, apakah Ginger tinggal di sini atau tidak. Kami harus ke surga jika pencarian pertama ini sia-sia."
Astaroth tersenyum manis sekali. "Kenapa kalian tidak membuatku muntah, atau, buang air saja?"
Bersama dentuman-dentuman dari hancurnya dinding-dinding labirin—memunculkan Gubbins dan arwah-arwah pemberontak—keempat hantu Ginger bersaudara menyerang Astaroth.
Kabut berisi gumaman-gumaman mengerikan, menebal di sini.
Pasukan-pasukan Hvyt, masing-masing dipimpin Super Hvyt yang kuat dan garang, datang beterbangan dari berbagai jalur-jalur labirin. Menerobos kabut. Sebagian membantu Astaroth, sebagian berusaha meredam pemberontakan.
Gubbins berteriak memerintahkan tunggangan barunya, naga putih, untuk terus melesat maju. Mendekati Astaroth. Menyemburkan arus api. Para arwah ikut membuka jalan.
Dari salah satu lubang dinding, menunggangi Flibbertigibbet yang terus mengendus mencari Gubbins, Abu muncul. Disusul ledakan-ledakan para arwah baru yang ikut memberontak.
Noel dan Balthor, muncul di sisi lain, terpaksa membaur. Noel mencari Abu, Balthor mencari jalan keluar.
Sentral labirin sesak oleh pertempuran.
Kabut semakin tinggi, menimpali keriuhan dengan gumaman-gumaman mengerikan.
Lalu, setelah melalui kesulitan-kesulitan tersendiri, Gubbins tiba di samping keempat hantu Ginger bersaudara, bertarung bersama mereka. Bertukar serangan dengan Astaroth yang dibantu Abu dari dekat.
Naga putih Gubbins saling gigit dengan naga hitam Astaroth. Jack mengeluarkan kelinci raksasa dari topi. Bartholomew menarik dari udara puluhan senjata raksasa sekaligus. Qyr menggetarkan pijakan dengan gesekan cepat biola. Hydra menyemburkan keempat elemen dalam bentuk gelombang ular-ular. Abu menciptakan perisai ledakan-ledakan para arwah.
Serangan demi serangan.
Lapisan dinding yang menutup salah satu gerbang pulau, berguguran dihujani kerusakan kolateral pertukaran serangan itu. Jalan keluar terlihat.
Para arwah terpicu, semakin gila mendorong pertahanan Hvyt. Satu-dua menjerit senada, "Biarkan kami kembali, sekalipun sesaat, untuk menciptakan perpisahan yang layak!"
Tak lama, pertahanan dijebol.
Gubbins dan Abu bertabrakan. Keduanya terlempar bersama tunggangan masing-masing ke tengah para arwah yang memperebutkan jalur pintu keluar.
Abu bangkit. Memerhatikan para arwah beranjak pergi. Dan hanya memerhatikan. Ia memutuskan kehilangan senjata terkuatnya di tempat ini. Membiarkan mereka kembali.
Kemudian, seseorang menarik belati yang tersampir di pinggangnya. Menusuk perutnya dengan itu.
Balthor berbisik kejam, "Mampus, teroris!"
63.
Kabut yang memenuhi sentral labirin berdetak. Gumaman-gumaman mengerikan di dalamnya berganti menjadi jeritan-jeritan. Merasuki semua kepala. Menggema pada tulang-tulang mereka.
Rasa bersalah dari dosa-dosa masa lalu.
Gubbins bersimpuh. Merasakan bagian dalam tubunya hancur menjadi serpihan tajam es. Di dekatnya, ia melihat Abu dan peserta lain, Balthor, melakukan hal sama.
Nostalgia yang menyiksa mengilat bergantian. Memualkan. Gubbins ambruk, kemudian merasakan seseorang menyeretnya ke atas punggung familier Flibbertigibbet. Terdengar suara dingin Noel, terengah-engah mengucapkan sesuatu.
"Pergi."
Meski limbung, Flibbertigibbet, dan Mcdonald yang membawa Noel, bergerak.
Desakan untuk menghancurkan di darah Gubbins terangkat. Kemampuan Jack membalik kepribadian, menghilang. Itu karena, mengintip-samar ke langit kemerahan, Astaroth, yang sepertinya tak terkena pengaruh kabut, berhasil mengalahkan keempat hantu Ginger bersaudara. Memerangkap mereka dalam empat tubuh prajurit asing.
Kabut berangsur menipis, tertarik, terpusat, menjadi bola padat berbintang. Astaroth memungutnya lalu menghilang.
Abu, terluka, bangkit perlahan, Gubbins melihatnya. Tubuh mereka menggigil hebat. Gubbins memaksakan melompat turun ke hadapan Abu.
"Aku tahu dari buku hitam, kau menginginkan Tuhan," kata idyllicist kecil, lemah. "Pergilah menemuinya, Tuan. Lalu—lalu kumohon setelahnya." Ia menangis. "Berhati-hatilah. Karena, Tuan, orang-orang di sekitarmu itu nyata. Mereka punya impian—Lily, punya beberapa. Dan—dan mereka, Tuan, biasanya cuma punya satu nyawa untuk mewujudkannya. Jadi, kumohon, berhati-hatilah."
Lalu, Gubbins membelikan Abu portal menuju Tuhan.
Entah apa yang Abu lihat di dalam portal itu setelahnya. Gubbins sudah lebih dulu dibawa Flibbertigibbet keluar gerbang pulau. Yang jelas, Abu tak pernah memasukinya.
64.
Astaroth telah lama dikalahkan. Bersama penguasa-penguasa neraka lain.
Di dalam rumah mewah suatu sudut labirin, Bill memikirkan itu, dan keberhasilannya menyelesaikan misi, sambil tersenyum. Ia melepas topeng raja iblis dan penyamarannya. Ia adalah hukum di Nanthara saat ini.
Koleksi kelompok misterius akan semakin kuat.
Felix Garfield mengerang di atas meja. Tadi, Bill menemukannya tersesat di persimpangan labirin. Sosok yang menarik.
Bill tersenyum penuh arti. Kembali mengenakan topeng Astaroth dan penyamarannya. Berjalan mendekati meja. [*]
Komentar
Posting Komentar