[Ronde 1] Morgen Charterflug - Menumpang sampai garis akhir
By: Mocha H.
"Tiga… dua… satu… "
Dentuman meriam menggelegar dari pantai Isla Wunder. Sebuah panggung berbentuk kapal bajak laut membuka sisi kapalnya, melepaskan puluhan peserta bermotor saling berbalap satu dengan lain. Dari atas panggung, Soraya Hadayatha menonton kerumunan peserta dengan sebuah teropong.
"AAARRR, kapten! Para perompak telah sampai di daratan!" seru Soraya.
"Menambah AR di akhir kalimatmu tidak akan membuatmu terdengar seperti bajak laut, SoARya," gerutu Ibnu Rasyid.
Di kejauhan tampak debu-debu bertebaran di udara. Beberapa kendaraan peserta tidak bisa bergerak banyak karena terhalang pasir. Roda-roda tipis untuk dataran beraspal tidak mampu mencengkram pasir.
"Waow! Peserta di ATV paling depan!" seru Soraya.
Beda ceritanya dengan para peserta yang diberikan ATV dari NGSR. Kendaraan motor roda keras itu melintasi dataran pasir bagai cheetah di padang rumput.
"Tentu saja. ATV NGSR pasti memimpin," ujar Ibnu Rasyid. "Tidak hanya bagus di medan pasir, halangan seperti batu dan ranting bukan apa-apa melawan rodanya, ditambah lagi motornya cukup kuat untuk memanjat gunung."
"Ini bukan iklan untuk produk NGSR saja, kan?" tanya Soraya. "Jetpack canggih dari Hadayatha group memberikan kemampuan untuk melintasi semua medan!"
Melirik ke langit, sekelompok peserta langsung disergap belasan pteranodon. Tanpa perlindungan apapun, satu persatu peserta jatuh berguguran. Lebih sial lagi bagi mereka yang jatuh bersama jet packnya, karena tabung gasnya meledak ketika membentur tanah.
"umm… motor boat tercepat dari Hadayatha Group akan…"
Sayangnya para peserta yang memilih motor boat masih berlarian menuju dermaga.
"Harusnya kita biarkan peserta memilih lebih dari satu kendaraan," ujar Ibnu Rasyid. "karena kendaraan NGSR bisa diandalkan!"
"AGGHH! Kakak! Kenapa produk placement kita salah banget!" pekik Soraya.
"Ngomong-ngomong, ada peserta yang sangat bangga dengan kemampuan mengemudinya," ujar Ibnu Rasyid.
Di barisan terdepan peserta ATV, seorang peserta telah membuat jarak jauh dari peserta lainnya. Wanita bergaun hitam itu melambaikan kedua tangannya di atas kepala sambil menghadap ke belakang dan meneriakan sesuatu ke kerumunan di belakangnya.
"Dih! Sombong banget wanita itu!" seru Soraya. "Tim kamera, apa kalian bisa rekam lebih dekat? Aku ingin mendengar apa yang ia katakan."
"Kurasa tidak perlu. Mata sibernetikku telah dilengkapi dengan pembesar gambar dan pengenal phonetic. Aku bisa membaca gerakan bibirnya dari sini."
"Lalu? Apa yang dia katakan?"
"Waduh."
"Apa? Dia bilang apa?"
"Dia bilang… Dimana remnya?"
Sebuah ledakan terdengar dari kejauhan. Pohon-pohon paling dekat dengan pantai tersulut api, tapi segera terpadamkan oleh sebuah drone terbang. Yang tersisa dari api itu hanya kerangka gosong ATV.
"Ternyata ATV NGSR bisa…"
"DRONE PEMADAM API NGSR!" potong Ibnu Rasyid. "Kapanpun dimanapun, merespon kebakaran sebelum menyebar!"
----
Charta kembali membuka mata saat bau bensin dan arang masuk ke hidungnya. Ia dikelilingi oleh kucuran air pemadam dan arang sisa ATV miliknya. Satu persatu peserta melintasi dirinya, tak ada yang berhenti untuk menolong kecuali seorang peserta bergaun hitam yang menunggu di depan dirinya.
"Oh… cuma bayanganku," gumam Charta.
Sosok di hadapannya adalah Phantom, sebuah projeksi diri Charta sendiri. Phantom merengut bayangan dari pemiliknya ketika dipanggil, membuat sang pemilik kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dengan objek fisik di sekitarnya. Namun kehilangan kemampuan interaksi fisik tidak sepenuhnya buruk karena tak bisa berinteraksi dengan ledakan api telah menyelamatkan Charta.
Charta memetik jarinya. Dalam kedipan mata ia sudah berada di depan kerangka gosong ATV, menempati posisi Phantomnya. Ia memijakan kakinya, memastikan ia telah bergabung kembali dengan bayangannya.
"Untung aku memanggil Phantom sebelum menabrak," gumamnya. "Tapi sekarang aku tidak punya kendaraan."
Melihat kembali ke arah pantai, tidak ada satupun peserta tersisa, bahkan peserta yang memilih jalur laut sudah tidak terlihat lagi. Berbalik arah ke hutan, Charta mulai berjalan kaki, tapi terhenti ketika melihat seorang pria berjanggut merah bersandar di sebuah pohon.
"Butuh tumpangan, nona?"
Pria itu menyisir rambut potongan sisinya ke tengah, lalu meraih sebuah sepeda motor di samping pohon tempatnya bersandar. Suara mesin motor meraung keras, lampu jalannya menyala dari tengkorak serigala di kepala motornya.
"Balthor, pemburu dari dataran beku Norwegia. Siap melayani."
"Norwegia?" tanya Charta. "Aku tidak pernah mendengar tempat seperti itu. Dunia asalku adalah Elsebearth. Kurasa kau membicarakan soal duniamu."
"Oh, ternyata cewek dunia lain," seru Balthor. "Pantas saja bokongnya semok."
"Akan kuabaikan komentar terakhirmu," ujar Charta. "Buku yang kau pegang sepertinya berisi informasi tentangku. Darimana kau mendapatkannya?"
"Ini? Dari toko buku sebelah hotel," ujar Balthor. "Kalau maksudmu darimana isinya, aku membuat catatan soal semua peserta yang menarik perhantianku. Ada nona, Dian si ratu baper, Irina Feles si bintang fajar dan belasan peserta lain."
"Belasan? Tapi peserta turnamen ini ada puluhan."
"Siapa juga yang mau catat profil cowok lain? Aku cuma catat cewek-cewek seksi di bukuku," ujarnya sambil menyelipkan bukunya kembali. "Jadi, mau numpang, nona?"
"Antara dibonceng pria yang suka menguntit wanita atau berjalan kaki sampai finish line. Dua-duanya sama-sama beresiko," gumam Charta.
"Siapa bilang aku akan membonceng?" tanya Balthor, sambil menepuk-nepuk tangki gas motor crossnya. "Kau yang di depan."
"Fix. Aku jalan kaki."
"N-Nona! Aku cuma bercanda!"
---
Laungan pteranodon berkoar di atas hutan Isla Wunder. Belasan burung zaman purba itu terbang mengelilingi satu peserta terakhir yang menggunakan jetpack.
Salah perhitungan, pikir gadis itu. Ia mengira jalur udara paling cepat, tapi ia tidak mengira jetpacknya membutuhkan kedua tangan untuk digerakan, sehingga menarik pistol dari sabuk pinggangnya pun tidak bisa.
Dentingan besi terdengar dari belakang. Salah satu pteranodon mencengkram tabung kiri Jetpack. Bau belerang tercium dari dalam tabung, sehingga peserta itu segera membuka sabuk pengamannya, lalu terjun menjauh. Sebuah ledakan terdengar dari belakang, diikuti lengkingan kesakitan burung-burung prasejarah itu.
Sayangnya gadis itu belum lepas dari kejaran. Pteranodon lain langsung menyergap karena hilangnya ancaman ledakan tabung. Paling tidak, itu yang dipikirkan kepala prasejarah mereka.
Gadis itu berbalik arah, menghadap para pengejarnya. Ia tidak bisa apa-apa saat mengendalikan jetpacknya, tapi sekarang kedua tangannya bebas dengan sebuah senapan membidik para pteranodon.
"Makan peluru dari masa depan, burung fosil!"
Belasan tembakan cahaya memancar dari moncong senapan. Peluru-peluru plasma menembus daging dan tulang para pteranodon. Hanya dengan satu clip peluru, semua pengejarnya jatuh tertembak.
Sebuah batang menghantam punggung gadis itu sebelum ia sempat berbalik. Satu persatu dahan pepohonan terpatahkan, batang dan daun lancip menggores, tapi tak sedikitpun ia terluka karena baju berlapis logam yang menutup semua kulitnya.
Benturan terakhir sangat terasa di punggungnya. Tanpa aba-aba ia langsung mendarat di tanah yang empuk dan lembut.
Empuk dan lembut? Seharusnya tumbukan dengan tanah dari ketinggian akan sangat menyakitkan, terutama ketika membentur dengan punggung terlebih dahulu. Namun tidak kali ini, peserta itu mendarat di atas sebuah sofa empuk.
"nee-san. Bisa tolong keluar dari mobil saya?" tanya sebuah suara dari arah depan. "Saya sedang tidak menerima client."
Duduk dari tempatnya mendarat, gadis itu berada di atas sebuah mobil yang sedang melaju cepat. Seorang pria berkacamata pilot sedang mengemudikan mobil, mengawasi tamunya dari kaca spion tengah.
"Peserta?" tanya gadis itu.
"Tora Kyuin, Nascar Racer," jawab pria itu singkat. "nee-san sendiri?"
"Zenestia Nisrina," jawab si gadis. "Aku baru saja kehilangan jetpack milikku."
"Oh… ledakan tadi nee-san, ya?" tebak Tora. "tapi maaf sekali, client yang tidak membayar tidak boleh naik."
"Aku bisa membayar dengan harga tertinggi," ujar Zenestia. "Nyawamu, misalnya."
Melirik dari kaca spion, Tora melihat sebuah senapan di tangan clientnya, membidik ke kepalanya.
"Nee-san bukan client pertama yang bilang begitu," ujar Tora dengan santai. "tapi gimana kalau nee-san membidik yang lain? SEPERTI DINO DI KIRI KITA!"
Tembakan plasma kembali terlepas, membidik buta ke arah hutan. Zenestia tidak melihat apapun, tapi sebuah lengkingan terdengar dari dalam hutan, menandakan keberadaan dinosaurus yang dimaksud.
"Apa yang kita hadapi? T-rex? Velociraptor?"
"Bukan semuanya, sesuatu yang lebih mengerikan!" ujar Tora. "Salah satu peserta meminta jasaku untuk mengantar ke tengah hutan, cari peliharaan katanya."
"Kau percaya?"
"Awalnya kukira dia mencari peliharaan yang hilang, tapi tidak! Dia mencari dinosaurus untuk dijadikan peliharaan!" jelas Tora. "Bayaranku? Dia memberi 30 detik sebelum melepas dinosaurusnya!"
"Siapa peserta itu?"
"Monster itu mengambil wujud gadis kecil. Kemampuannya menyebar virus yang membuat penderitanya tunduk. Namanya adalah…"
"Yah… kok aku disebut monster, sih?"
Dua ekor Velociraptor melompat dari semak belukar, mengejar dari samping. Satu velociraptor menyusul dari belakang, ditunggangi oleh seorang gadis kecil bermantel cream.
"Aku bukan monster, aku punya nama. Namaku adalah… "
Tembakan plasma langsung terlepas sebelum si gadis bisa menyebut namanya. Tiga tembakan susulan menebus tengkorak ketiga Velociraptor yang mengepung mobil, membunuh mereka seketika.
"H-Hei, apa itu tidak terlalu ekstrim?" tanya Tora. "Kita tidak boleh membunuh di ronde ini, kan?"
"Oh? Ada peraturan seperti itu, ya?" tanya Zenestia, membidik kepala Tora lagi. "Apa perlu aku menghilangkan saksi juga?"
"Aku tidak melihat apa-apa! Tidak ada peserta yang terbunuh!" pekik panik Tora.
"Bercanda," ujar Zenestia. "Aku menembak sikunya. Seharusnya dia masih hidup."
"Kurang ajar."
Tanah tiba-tiba bergetar, burung terbang dari sarangnya dan sebuah raungan hewan terdengar dari kejauhan. Tora dan Zenestia menegak ludah mereka, sesuatu yang mengerikan telah datang.
"Zenestia… kau memilih waktu yang salah untuk menembak. Kapan saja boleh, tapi tidak saat aku sedang memperkenalkan diriku."
Saat itulah, pohon-pohon di depan mobil bertumbangan. Tora segera memutar setir, membuat mobilnya berputar 180 derajat dan menginjak pedal gas sekuat-kuatnya.
Raungan sebuah dinosaurus terdengar dari belakang. Kaki raksasa seekor tyrannosaurus rex tampak di kaca spion. Raksasa itu mengunci matanya pada mobil Tora, mengejar tanpa henti.
Mayat Charlotte tiba-tiba bangkit, menghalangi mobil Tora,"Namaku Charlotte Izetta...dan jangan pernah mengganggu pengenalanku!"
Namun karena kecilnya tubuh Charlotte, Tora tidak melihat gadis malang itu dan menabrak tanpa menyadarinya. T-rex yang mengejar Tora berhenti di depan Charlotte.
"Aaaah! Sebel! Sebel!" protes Charlotte. "Hei, kamu t-rex yang kena virus gansterku, kan?"
T-rex itu mengangguk, seakan mengerti ucapan Charlotte.
"Bawa aku dan kejar dua orang itu! Jangan berhenti sampai kau menelan mereka!"
---
Teriakan Balthor sang pemburu menggema ke seluruh pulau. Pria itu berbalap dengan belasan peserta lainnya, menyalip satu persatu ATV dengan motor crossnya yang lebih ringan bahkan ketika membonceng Charta di belakang.
Senyum riang di wajah Balthor tiba-tiba mengerut saat sebuah ATV terbang dari depan. Dengan cekatan Balthor menghindarkan motorcrossnya, tapi peserta di belakangnya terkena ATV tadi. Ia meminggirkan motornya, membiarkan para pengemudi ATV melewatinya.
"Balthor? Ada apa? Kamu membiarkan mereka lewat!" protes Charta.
"Uh… nona. Ini mungkin agak aneh, tapi… sepertinya lingkar perut nona bertambah 3 cm sejak data terakhir saya."
Sebuah tamparan melesat ke pipi Balthor, meninggalkan sebuah bekas merah. Setelah tertawa ringan, Balthor kembali melaju.
"Oke, sekarang aku serius. Sepertinya kita kedatangan tamu spesial, seekor apex predator."
Sebuah mobil merah melesat melewati motor Balthor bersama seekor t-rex. Seorang gadis di kursi belakang sedang menembaki t-rex di belakang dengan tembakan plasma, sedangkan seorang gadis lain yang tampak sangat marah mengendarai kepala t-rex itu sambil mengumpat.
"Balthor, bawa aku ke t-rex itu," perintah Charta.
"Kita mau melawan kadal raksasa ?" tanya Balthor. "Bukannya lebih aman kalau kita biarkan saja?"
"Aku sudah kehilangan spotlight di turnamen sebelum ini, takan kubiarkan spotlightku direbut lagi!"
"Uh… aku kurang paham, tapi okelah!" seru Balthor. "Oh, iya… nona mungkin tertarik dengan kemampuanku."
Balthor menarik tuas gas motornya sekuat tenaga. Sepeda berkepala serigala perak itu melaju semakin cepat, meraung dengan suara mesin. T-rex Charlotte menyadari kehadiran motor Balthor, ia berbalik dan meraung, menganggap motor itu sebagai gangguan.
Tanah bergetar saat t-rex itu menerjang. Rahangnya membuka lebar, menunjukan puluhan taring tajam yang siap untuk mencabik-cabik. Saat itulah Balthor membuat lompatan dengan motornya, menuju gigi-gigi tajam dinosaurus itu.
Bukannya tercabik-cabik, roda motor Balthor seolah mencengkram permukaan gigi tajam itu. Tuas gas kembali ditarik, membuat motornya memanjat keluar dari mulut dinosaurus ke kepalanya.
Kemampuan mencengkram permukaan ini mengejutkan bahkan untuk Charlotte yang mengomando t-rex. Motor Balthor melewati Charlotte begitu saja, melompat turun kembali ke tanah dari ekornya.
Saat itulah Charta memastikan kedua kakinya memijak pedal belakang motor. Sebuah bayangan melesat dari Charta, menembus ekor t-rex. Seketika itu bayangan dari sang t-rex memberontak dari pemiliknya. Bayangan itu masuk ke dunia nyata seakan melewati permukaan air, hingga akhirnya bayangan sebesar t-rex itu keluar di belakang pemiliknya. Bayangan itu langsung meleburkan bentuknya, menyelam ke dalam bayangan sepeda motor Balthor.
"Bagus, aku dapat bayangan t-rex itu."
"Agh! Kau apakan t-rexku!"
T-rex Charlotte berusaha berbalik untuk mengejar, tapi kedua kakinya seakan menancap di tanah. Begitulah takdir untuk mereka yang kehilangan bayangan, tidak akan bisa mereka melepas pijakan ataupun menyentuh objek fisik lain sampai bayangan mereka kembali.
Sebenarnya, ada suatu kelemahan dari kemampuan ini, yakni Charta kehilangan bayangannya juga. Namun Charta telah mempertimbangkan kelemahan ini dan karena ia memijak pedal belakang sepeda motor Balthor, ia masih dapat bergerak bersama motor Balthor.
Keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Rentetan tembakan plasma bersinar dari kejauhan. Balthor membanting setirnya kekiri, memasuki kawasan hutan.
"Zenestia, tolong ingat kalau kita tidak boleh membunuh peserta lain."
"Aku tahu," ujar Zenestia sambil mengokang senapan lasernya. "Aku membidik kendaraan mereka."
Zenestia membidik ke arah hutan, memperkirakan kemungkinan posisi Charta dan Balthor. Sekelompok pohon bergetar dari arah depan, zenestia segera membidik dan menembak asal suara itu. Namun zenestia menduga ia akan menembak sepeda motor, bukan sebuah t-rex.
T-rex yang datang entah dari mana itu menerjang mobil Tora, menyapu dengan ekor lebarnya. Tak mampu melawan sapuan kadal itu, mobil milik tora terpental ke udara hingga akhirnya mendarat dengan terbalik.
Charta dan Balthor keluar dari pepohonan. Dinosaurus itu berlari menuju motor, lalu melebur dan menyelam masuk ke dalam bayangan motor Balthor.
"Itu kemampuan nona?"
"Benar. Aku bisa mengambil bayangan orang lain dan mengambil wujudnya," ujar Charta. "Sekarang… ayo tunjukan teman baru kita ke peserta lain."
Menuju ke ujung hutan, motor Balthor melaju tak terhalang. Setiap kali mereka bertemu peserta, Charta memanggil bayangan t-rexnya yang bersembunyi di dalam bayangan motor. Jalan yang dilalui duo ini penuh dengan bangkai ATV yang segera dipadamkan dengan drone NGSR. Dengan begitu, mereka melaju tak terhalang hingga di garis akhir.
---
Area terakhir di Isla wunder adalah daerah tanjakan tebing, tapi untuk motor cross Balthor, area ini bukan apa-apa. Charta dan Balthor berhasil sampai di puncak tebing dimana garis akhir terlihat jelas.
"Tampaknya ini akhir dari balapan ini, nona," ujar Balthor.
"Sepertinya begitu,"balas Charta. "Tidak ada siapapun di sini. Mari bergegas ke garis akhir."
"Mada-Mada!"
Motor Balthor melesat menuju garis akhir, tapi tidak satupun penonton bersorak saat motor itu melewatinya. Bahkan mereka berbisik, bergosip, menebak-nebak apa yang terjadi. Pasalnya, motor Balthor masuk garis akhir tanpa pengemudinya.
Balthor dan Charta terkapar di tanah, menangis tak terkendali. Irisan bawang menempel di wajah mereka, bahkan Charta yang memakai topeng tak terhindarkan dari bau tajam bawang, mengakibatkan hilang konsentrasi dan pembatalan Bayangan Phantom.
"Siapa di sana?" tanya Balthor.
Berdiri di atas sebuah batu tepat di sebelah jurang yang membawa langsung ke laut, berdiri seorang pria berbalut kain hitam. Sambil mengangkat satu kakinya, pria itu meletakan tangan kanannya di dagu saat tangan kirinya mengambil irisan bawang di saku kanan belakang sabuknya.
"Aku datang dan pergi dengan banyak nama. Ada yang memanggilku Emotian Biru, ada yang memanggilku juru masak dari barat, tapi kau boleh memanggilku Oni Onion, the Onion Cutting Ninja!"
Irisan bawang kembali terlempar ke kedua peserta itu, tapi Balthor berdiri melindungi Charta dari lemparan Oni, menangis lebih deras karena menerima bau ekstra tajam dari belasan irisan yang menempel di tubuhnya. Hingga akhirnya Balthor jatuh pada dengkulnya, kehabisan tenaga untuk berdiri.
"Balthor, kau baik-baik saja?" tanya Charta.
"Nona… aku tidak tahu apa kekuatan pria itu, tapi tangisan ini… aku bahkan tidak mampu mengumpulkan tenagaku…" ujar Balthor. "Larilah ke garis akhir. Abaikan saja aku!"
"Oni Onion… kenapa musuh yang kuat selalu datang di akhir?" gumam Charta.
"Tidak, anda salah nona," ujar Oni. "Semua orang mengira ada tiga jalan menuju tempat ini, melalui udara dan mati dimakan pteranodon, melalui hutan dan dibabat peserta lain atau melalui laut dan sampai paling akhir. Namun mereka salah! Aku hanya memiliki satu jalan! Dan itu adalah jalan ninjaku!"
"Maksudnya?"
"Maksudnya dia telah melalui semua jalur, nona," balas Balthor. "Dia naik jetpack, tapi pteranodon merusak Jetpacknya. Lalu dia melewati hutan, tapi peserta lain mengejarnya sampai ke garis pantai. Tak punya pilihan lain, diapun berenang sampai sini."
"Bagaimana kau… tidak! Seperti yang kubilang! Itu adalah jalan ninjaku!"
"Tapi… nona lebih baik berhati-hati dengan kemampuan lain orang itu. Ada sebuah jurang jika memilih jalur laut, tapi pria ini melewatinya tanpa berkeringat sedikitpun!"
"Kuakui, pengamatanmu tajam juga," ujar Oni, melempar sebuah belati ke arah Balthor. "tapi kau sudah mati."
"AP-"
Secara instan, Oni muncul di hadapan Balthor. Dengan satu pukulan uppercut ke "Little Fenrir" milik Balthor, Oni merobohkan Balthor dan masa depannya. Sambil mengelap belati miliknya, Oni berkata, "Kaulah berikutnya."
"Phantom!"
Bayangan Charta langsung menembus Oni dalam jarak yang begitu dekat. Bayangan Oni direbut oleh Charta dan kini bayangan itu berlari ke garis akhir dengan gaya lari satu kaki.
"Hei, nona," ujar Oni sambil melempar sebuah bawang potong pada Charta.
Bawang itu menembus Charta, tapi bau tajamnya masuk ke dalam hidungnya. Charta menangis terseduh-seduh, kehilangan konsentrasi sehingga bayangan Phantom sirna karena, mengembalikan bayangan Charta dan Oni ke pemiliknya.
Charta merogoh saku gaunnya, berharap ia memiliki sesuatu untuk mengelap tangisannya, tapi yang ia dapat hanyalah sebuah pemantik berukiran pesawat terbang di pagi hari. Tidak, bukan hanya pemantik, Charta teringat ada sebuah pisau tersembunyi di dalamnya. Maka dikeluarkan pisau itu, tersulut api pemantik.
"Bisa apa pisau api itu, nona?" tanya Oni. "Aku adalah orang yang membuat hujan dari air mata! Api kecil bukan masalah untukku!"
Charta melempar pisau pemantiknya, tapi lemparannya begitu jauh sampai mengenai banner di atas garis akhir.
"Itu tadi lemparan? INI baru lemparan!"
Irisan bawang ditembakan secara beruntun. Bau tajam bawang Oni membuat Charta mundur karena tidak kuat baunya sampai akhirnya Charta berdiri di ujung jurang yang tadi ia daki bersama Balthor.
"Ada permintaan terakhir?" tanya Oni.
"Ya, soal lemparanku," ujar Charta. "Aku tidak meleset."
"Ha! Tapi aku tidak tergores."
"Karena kamu bukan targetku."
Oni berpikir untuk sejenak, lalu berbalik melihat tempat pematik itu mendarat, banner di atas garis akhir yang kini sedang terbakar. Suara deru datang dari arah hutan, sebuah drone pemadam api NGSR terbang melewati tebing. Charta segera melempar Phantomnya ke drone itu, lalu memetikan jarinya dan bergantung pada Drone itu.
Oni hanya bisa menatap heran. Lemparan irisannya tidak berguna melawan robot, sehingga iapun tidak bisa melakukan apa-apa sampai drone itu mencapai tujuannya, banner yang terbakar di atas garis akhir.
"Tidak bisa melakukan apa-apa?" tanya Oni. "Kau yakin dengan itu, Narator?"
Oni melempar belatinya ke arah garis akhir, tapi sesuatu menangkapnya di tengah perjalanan. Setengah berdiri sambil menahan rasa sakit little fenrir, Balthor menangkap belati Oni.
"Oh, Si-"
Mau tak mau, Oni langsung muncul di hadapan pria yang menangkap belatinya. Tidak seperti sebelumnya, Balthor telah memulihkan sedikit tenaganya, cukup untuk mengayunkan beberapa pukulan.
"Sekarang, kau yang mati."
--To BeContinued--
Porsi karakter ramai. Total 5 karakter tamu. Tapi Semua dapat porsi. Luar biasa.
BalasHapusResiko penumpang memang gabisa MvP di balapan sih. Pembawaan cerita agak mengganjal. Setelah rute hutan baru terasa jelas bahwa dia memang harus menumpang.
Karakterisasi Tora sbg supir gojek dgn pengalaman NASCAR nampak dieksekusi dgn baik. Walau tamu semata. H3h3
Ending Finish termasuk....Curang tapi acceptable. h3h3h3h3
Karenanya, skor 8/10 deh
Tora Kyuin
Saya suka entri ini. Masing-masing aksi telah dipikirkan dan dibuat dengan baik. Kemampuan masing-masing bintang tamu dan Charta pun telah dieksekusi dengan sangat baik. Tertulis dengan rapi, dan saya juga senang dan menikmati ketika membacanya. Saya beri nilai 8/10. Semangat terus!
BalasHapus(+) Nice opening, awalnya gw pikir entri ini bakalan disambil sama komentar Soraya-Rasyid dan agak khawatir jikalau Charta gak punya porsi cukup, dan nyatanya gw salah
BalasHapus(+) Untuk komedinya yang diseling lewat dialog itu dapet banget, implisit tapi cukup untuk bikin gw terbahak-bahak
(+) Untuk karakterisasi, entri ini padet sama karakter. Lima karakter dieksekusi dengan sangat baik. Semuanya proporsional. Sayang, sebenernya gw berharap lebih ke Chalotte yang berpotensi jadi hambatan tersulit, tapi gw sedikit kecewa dia disingkirin tanpa perlawanan berarti. But, overall good
(+) Untuk alur dan plot kyk-nya udah sempurna. Alurnya ngalir dan ceritanya sulit ditebak
Overall 9/10
Tom,
Hore, Charlotte masuk sini.
BalasHapusSaya suka kamu ngasik porsi buat semua orang buat at least nunjukin kemampuan mereka. tapi ada poin tertentu dimana karakter yang tadinya empat jadi tiga atau malah dua karena out of focus. Charter malah beberapa kali terasa ilang di awal.
+1 karena ada Charlotte
8/10
Charlotte Izetta
saya suka entri ini, kemunculan para pesertanya terkesan dinamis, dengan jumlah lebih dari tiga, penulis berhasil mengelolanya dengan enak. adegan balapan dan gelutnya juga . tapi yg membuat saya merasa tersepona adalah adegan banyolan juga diramu dengan epik, entah itu antara rasyid dan soraya, atau antara balthor dan si tokoh, atau antara si tokoh dgn dgn onioni di bag akhir, banyolannya natural dan keren, cukup menghibur saya yg gak ahli bikin banyolan. sial. ditambah ternyata drone pemadam kebakaran yg dikira cuman penyedap rasa di awal cerita ternyata punya peran penting di akhir cerita. sial lagi! aku suka ini!
BalasHapus-skor 9/10 dengan salam sayang dari Irene buat dedek Charta-