[Ronde 3] Morgen Charterflug - Holy Chalice War

By:Mocha H
"Malam, pegawai setia Hadayatha Group!"

"Apa kalian siap untuk acara malam ini?"

Sorakan penonton menggema dari tribun-tribun di depan panggung. Ribuan light stick menyala dalam gelapnya malam, beradu hantam dengan light stick lain. Meskipun begitu, terdengar beberapa bisikan pesimis karena Soraya tidak tampak di panggung.

"Perkenalkan, nama saya Charna. Charta Morgana."

"Dan saya Chalice, Charlotte Izetta."

"Kami berdua akan menghibur kalian malam ini!"

Keluh kesah penonton terbisik dari satu mulut ke mulut lain, menyesal tidak bisa bertemu idola mereka malam ini. Namun para pegawai Hadayatha itu tidak bisa menolak hadir atau meninggalkan acara ini, terutama karena mood Miranda yang kurang enak beberapa hari belakangan. Akhirnya merekapun terpaksa duduk manis sampai acara selesai.

"Tapi kalau dua saja kurang, kan?"

Bagai dewi yang menjawab panggilan pengikutnya, Soraya mendarat di atas panggung, tepat di antara kedua gadis pemberi sambutan. Bagai deru ombak di lautan, sorakan para penonton tak lagi terbendung. Kalau bukan karena panggung yang begitu tinggi, mungkin ada saja yang berusaha naik ke atas panggung. Lagu pertama mulai terdengar, tanda konser sudah dimulai.

Meskipun tampak begitu ceria di atas panggung, awan mendung menutupi hati Charta. Dalam hatinya, ia menyesal menyetujui rencana Soraya. Lagipula, bagaimana ia bisa berakhir menjadi Idol di atas panggung?


***

"Aku tidak mau! Aku tidak mau menjadi Idol!"

Charta menggebrak meja rapat hingga setiap pion di atasnya jatuh berhamburan. Selagi para peserta lain berusaha mengembalikan pion mereka ke posisi sebelumnya, Soraya datang menghampiri wanita itu.

"Ah ~ Jangan, malu-malu, nona Charta Morgana!"

"Jangan panggil aku dengan nama itu!"

"Wah… padahal itu nama panggungmu, kan?" tanya Soraya seraya membuka tabletnya, "CV dari kerajaan Gwenevere menyebutkan kamu pernah berkarir sebagai aktris, bukan?"

"Itu sebelum aku pergi dari kota [Metronord]," terang Charta. "Dalam dua tahun pelarianku, aku tidak pernah memakai nama itu dan tidak akan pernah aku pakai sampai kesalahanku tertebus!"

"Aww…  tapi kau terlihat begitu anggun di seragam itu."

Wajah Charta memerah seketika. Seragam yang ia kenakan terdiri atas hem putih yang ditutupi blazer ungu kehitaman dan rok mini dengan warna serupa. Masalahnya, hem yang ia kenakan tidak menutup pusar dan roknya terus mengembang naik tak peduli seberapa kuat Charta menahannya.

"Aku tidak mengenakannya karena aku mau!" bantah Charta. "Ketika aku selesai mandi seseorang mengambil bajuku dan hanya ada seragam ini di lemari ganti."

Merayap ke bahu lawan bicaranya, Soraya tertawa ringan, "Terdengar seperti plot Doujin bagiku."

Charta mendorong Soraya, menjauhkan gadis itu dari dirinya, "Jangan jawab dengan senyum mesummu!"

Dorongan Charta seakan mengaktifkan tombol tersembunyi di kepala Soraya. Entah karena Rasyid memrogramnya sedemikian rupa atau mungkin stress kakaknya mulai merembes. Yang pasti dirinya seakan diselimuti aura hitam.

"Memang kamu mau tahu alasan sebenarnya kamu di atas panggung?" tanya Soraya dengan senyuman lebar. "Karena kamu tak berguna."

Seketika itu ruang rapat menjadi sunyi, bahkan peserta lain menghentikan apapun yang mereka lakukan dan ikut mendengar. Charta menenggak ludah, menyesali tindakannya.

Soraya mulai menjelaskan kemampuan Charta, yakni kemampuan memanggil Phantom yang dapat merengut bayangan orang lain untuk menghentikan pergerakannya. Terdengar menarik, tapi efek lain dari kemampuan ini adalah Charta sendiri tak bisa bergerak selama efeknya aktif.

"Ronde ini dihadiri oleh semua peserta, bukan satu lawan satu seperti ronde kedua," jelas Soraya. "Kemampuanmu hanya bisa menahan satu orang di tempat. Menahan. Catat. Menahan, bukan mengalahkan."

"T-Tapi bukannya panitia memberikan boneka yang punya kemampuan pemiliknya?" tanya Charta. "Dengan boneka-boneka itu aku bisa menahan banyak peserta sekaligus!"

"Boneka, ya panitia menyediakan. Sayangnya kemampuan boneka tidak bisa mempengaruhi peserta, hanya boneka lain," terang Soraya. "Jadi bukan hanya boneka milikmu tidak berguna, mereka hanya akan menjadi beban untuk tim ini!"

Bagai disambar petir, Charta bertekuk lutut dihadapan sang adik Hadayatha.

"Sekarang jangan banyak protes dan hafalkan koreografinya!"

Dengan berat hati, Charta mengambil naskah konser dan keluar dari ruang rapat. Beberapa peserta melihat setetes air mata mengalir dari topeng wanita itu. Nampaknya topeng itu tak mampu membendung rasa sakit di hati Charta.

Perkataan Soraya ada benarnya, dibandingkan dengan kemampuan peserta lainnya, kemampuan Charta hanya berguna dalam situasi satu lawan satu. Mau tidak mau, Charta harus menelan pil kenyataan yang begitu pahit.

"Soraya memaksamu juga?"

Saat Charta mencari pojokan untuk meratapi nasibnya, ia menemukan sebuah pojokan yang sudah terisi terlebih dahulu. Ada seorang gadis mengenakan seragam yang sama dengan Charta tengah memukul-mukul tembok di sampingnya.

"Sepertinya aku kenal kamu."

"Charlotte Izzeta, Chalice. Kita bertemu di ronde pertama," ujar gadis itu. Bergeser dari tempat duduknya, gadis berkepang samping itu mempersilahkan Charta untuk duduk.

Menerima tawaran gadis itu, Charta duduk di sampingnya. Saat Charta menanyakan alasan ia juga dipaksa menjadi idol, Charlotte menggeram.

"Memikirkannya saja membuatku kesal…" gumam Chalice. "Ingat soal larangan membunuh peserta lain? Panitia menganggap kemampuanku membunuh peserta lain meskipun faktanya mereka tetap hidup."

"Memangnya apa kemampuanmu?"

"Infeksi Virus, tapi bukan seperti infeksi Zombie yang bisa menyebar cepat. Virusku hanya aku yang bisa menularkan. Korbanku akan perlahan jadi gila, itu saja. "

"Penyebaran penyakit tidak terdengar seperti membunuh. Maksudku… kita bahkan ada peserta yang sengaja mengebom kendaraan peserta lain dengan niat membunuh."

"Nah, kan! Teroris itu pasti dibiarkan sesuka hati karena dia peserta Hadayatha Group!"

"Kalau dipikir-pikir… mungkin itu penyebabnya. Aku mewakili Gwenevere dan kamu pasti mewakili NGSR, kan?"

"Terdengar konyol, tapi dengan bukti yang ada, aku tidak bisa menyangkal kemungkinannya."

"Bagaimana kalau kita sabotase ronde ini?" tawar Charta.

"Aku mungkin benci Soraya, tapi aku juga masih ingin menang."

"Aku tidak bilang kita berkhianat," ujar Charta. "Kita hanya perlu menyiapkan "kecelakaan" kecil yang membiarkan satu atau dua peserta tim musuh melewati garis pertahanan. Dengan begitu, Soraya tidak akan punya pilihan selain mengirim kita ke medan perang sebagai perlindungan terakhir."

"Aku mendengarkan. Jadi apa "kecelakaan kecil" yang kamu maksud?"

"Ingat dengan teroris yang kita bicarakan tadi?"

***

Sebuah sirine menggema di pinggiran kota gurun. Belasan lampu sorot menerangi sebuah pesawat angkasa di langit malam. Puluhan peserta melompat dari pesawat angkasa di orbit dan langsung berhadapan dengan tembakan Anti-Air gun tim gurun.

Sepasang pilar cahaya bersinar di garis belakang tim angkasa, membawa pasukan darat mereka. Alangkah terkejutnya pasukan darat ketika rentetan tembakan langsung menyambut. Pasukan gurun telah menyiapkan posisi pertahanan di sekitar pilar teleportasi sebelum ronde dimulai.

Dalam keributan perang itu, sebuah ledakan dari garis belakang tim gurun menyentak setiap peserta. Salah satu Anti-Air gun meledak. Peserta tim gurun panik, bingung kenapa artileri mereka bisa hancur dalam lima menit.

Ledakan kedua menyusul, kemudian ketiga dan keempat. Semua ledakan itu menghancurkan semua Anti-Air gun tim gurun. Seakan ledakan itu belum cukup, bangunan di sekitar pilar teleportasi meledak satu persatu, merusak posisi pertahanan tim gurun.

Para peserta dari kubu manapun bisa menebak ulah siapa kekacauan ini. Hanya satu orang yang cukup gila untuk meledakan semua ATV di ronde pertama dan melepas gas beracun di seluruh kota Alemnesee, jadi tidak heran jika orang yang sama hendak mengulang tindakannya.

"Perhatian kepada tim angkasa," sebuah suara terdengar dari speaker panitia. "Aku dikenal sebagai Abu, sang pembunuh tuhan. Dan aku telah mengambil alih pesawat kalian."

Jeritan panik tidak hanya terdengar dari tim gurun, tapi juga tim angkasa.

Abu memberikan sebuah deklarasi. Di tangannya adalah sebuah tombol yang akan merubah kota gurun menjadi lautan api. Siapapun di dalamnya, tim gurun ataupun tim angkasa akan lenyap.

"Anggaplah ini sebagai caraku memberi motivasi," ujar Abu. "Dalam 30 menit, tim angkasa akan menang. Jika tidak, maka tidak akan ada yang menang."

"Bommu tidak akan meledak. Tidak kali ini, Abu." suara kedua menginterupsi deklarasi sang teroris.

Terdengar suara tombol di tangan abu tertekan, tapi tidak ada satupun ledakan di kota gurun.

"Emir Boom… Ini ulahmu, kan?"

"Kesombonganmu akhirnya berbuah pahit, Abu. Berpura-pura menjadi komplotan yang aku ikuti ketika hidup, kurasa itu ide terbodoh untuk membujukku membuat bom."

Abu mengambil tombol lain dari jas hitamnya dan menekan satu persatu. Tidak satupun tombol yang ia pegang merespon.

"Semua bom yang kubuat tidak akan merespon tombolmu. Dan aku yakin tidak mungkin satu orang bisa menyiapkan cukup ledakan untuk satu kota, bahkan kota sekecil ini, dalam waktu 10 hari."

"Harus kuakui, ini tidak pernah masuk rencanaku," ujar Abu. "Tapi aku sudah menyiapkan rencana semisal ledakan bommu kurang besar."

Seketika itu terdengar ledakan dari pesawat tim angkasa. Api berkobar di ekor pesawat antariksa itu dan pesawat itu menukik turun ke kota gurun.

"Kalau aku tidak bisa meledakan kota gurun dari pesawat ini, maka akan kuledakan kota gurun dengan pesawat ini."


***

Lima sinyal flare bersinar terang di langit malam. Enam jika pesawat tim angkasa yang sedang terbakar diorbit juga dihitung. Tanpa pamit atau transisi keluar, Charta dan Chalice kabur ke belakang panggung.

Kelima flare tadi menandakan "motivasi" Abu sangat efektif. Kelima barisan pertahanan tim gurun sudah tertembus dalam menit kesepuluh. Sehingga hanya barisan keenam, Charta dan Chalice yang mampu menghentikan penyerangan ini.

Menunggangi serigala ganster milik Chalice, kedua ex-idol itu memutari lapangan konser dan mencapai deretan bangunan terakhir. Setelah perempatan ketiga, Charta dan Chalice berpencar ke dua bangunan di sisi berlawanan.

Charta segera naik ke lantai dua, bersandar di sebelah sebuah jendela dengan pemandangan jalan gurun utama. Menekan tombol pada earpiecenya, Charta mengkontak Chalice.

"Chalice. Kamu sudah diposisi?"

"Iya. Aku bisa melihat jalan gurun utama dengan jelas," balas Chalice. "tapi apa perlu kita memakai earpice ini? Aku hanya di bangunan sebelah."

Charta melihat ke bangunan di sisi lain perempatan. Dan benar saja, Chalice melambai dari salah satu jendelanya.

"Kita mungkin akan terpisah, jadi simpan earpiecemu," ujar Charta. Ia hendak kembali ke jendela yang menghadap jalan gurun utama, tapi perhatiannya kembali tertuju ke Chalice. "Sejak kapan kau ganti baju? Seingatku kita berdua masih memakai baju panggung ketika berangkat."

"Oh, baju? Ada jeans dan kaos bersih di antara senapan dan peluru di ruangan ini."

"Baju bersih? Senapan? Peluru?! Orang sinting mana yang meninggalkan benda-benda ini di gedung kota hantu?"

"Kemungkinan besar panitia. Coba saja cari di sekitarmu. Pasti ada senjata yang tergeletak."

Charta mencari di ruangan persembunyian. Benar saja, ada sebuah senapan besi dan beberapa kotak peluru tergeletak begitu saja. Sayangnya, tidak ada baju.

"Aku menemukan senjata AK-45 di sini, apa kau mau?" tanya Charta sambil melambaikan senapan yang ia temukan.

"Bukan hanya salah seri, kamu bahkan salah nama," gerutu Chalice. "Tidak semua senapan laras panjang berseri AK dan nama senapan itu M416."

Charta balik menggerutu. Di dunia asalnya, [Summon Slave] digunakan untuk semua hal, sehingga senjata seperti senapan tidak pernah diciptakan.

"Ya? Kalau [Summon Slave] begitu hebat, kenapa Soraya menganggap kemampuanmu tidak berguna?"

Seketika itu Charta kembali meratap di pojokan. Dari earpiece Chalice hanya mendengar permintaan maaf dan penyesalan hidup.

"Hei, ini bukan waktunya meratap! "

Hentakan kaki terdengar dari jalan utama. Ratusan hentakan kaki kompak bagai tentara berbaris ke medan perang. Namun tidak terlihat satu pesertapun di jalan itu.

"Chalice. Kau bisa mencium bau mereka?"

"Tidak. Serigalaku tidak mencium apapun."

"Tapi kami mencium banyak bau, iz"

"Suara siapa tadi?"

"Kami, iz!"

Melompat ke frame jendela, boneka-boneka Chalice melambai. Serigala mini yang mereka tunggangi tampak gelisah, mengendus berkali kali sambil mencari asal bau yang mereka cium.

"Serigala si ori tidak bisa mencium bau boneka, tapi serigala kami bisa, iz."

"lalu berapa banyak musuh yang kita hadapi?"

"Banyak. Terlalu banyak kalau kau bertanya, iz."

Seketika itu suara tembakan terdengar dari sisi Chalice. Baku tembak terdengar dari earpiece, termasuk teriakan para boneka.

"Charta. Apa kau tahu peserta mana di tim musuh yang memakai baju montir dan senjata alat bengkel?"

"Tidak. Aku yakin tidak ada."

"Lalu boneka siapa ini?!"

Charta mendengar suara retakan kayu dari belakangnya. Ia segera meraih senapannya, tapi baru menyadari senapan itu tidak lagi ada pada tempatnya. Senapan itu kini membidik Charta, dipegang oleh tiga boneka montir.

Tembakan terlepas, melubangi dinding-dinding ruangan itu. Namun tidak satupun peluru mengenai Charta yang telah kehilangan bayangannya. Phantom Charta keluar dari kegelapan ruangan, merebut kembali senapannya dan menginjak ketiga boneka itu satu persatu.

"Mereka sudah pergi, ta? "

Sebuah boneka mengintip keluar dari rambut panjang Charta, diikuti dengan sembilan boneka lainnya yang bersembunyi di berbagai objek dalam ruangan itu.

"Kenapa kalian tidak membantu? Tadi cuma boneka, kan?" protes Charta.

"Sebaliknya! Kamu yang seharusnya melindungi kami, ta!" balas salah satu boneka.

"Kurasa aku tahu kenapa Soraya menempatkan ku dipanggung. Bonekaku tidak berguna."

"Aku tak terima! Kamu pikir aku mau jadi bonekamu, ta?

"Kami jadi lemah karena kamu lemah juga, ta!"

"Seharusnya aku jadi boneka peserta lain, ta!"

"Diam kalian semua!"

***
Jalan gurun utama ramai karena barisan boneka-boneka yang melaju ke panggung di tengah kota. Di tengah barisan boneka itu adalah seorang pria muda berompi tentara, mengendarai sebuah mobil balap yang maju perlahan. Salah satu boneka yang sangat mirip dengan pria itu melompat ke atas mobil, memberi hormat padanya.

"Tim pengintai 3 dan 5 belum melapor lagi boss ori, ra"

"Seharusnya mereka sudah kembali sepuluh menit lalu," gumam pria itu. "Pengintai 3 dan 5, ya? Berarti musuh sudah menunggu di perempatan depan."

"Perlukah kita berhenti, ra?"

"Tidak. Kita terus maju. Mereka pasti keluar jika benar-benar ingin menghentikan kita," tegas pria itu. "Anak buahku!  Maju kecepatan penuh!"

"Granat!"

Suara panik terdengar dari rombongan terdepan. Boneka-boneka itu berpencar, berlindung di bangunan sekitar. Salah seorang boneka segera menghampiri granat itu, hendak menendang peledak itu jauh-jauh. Namun boneka itu terhenti, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Pin granatnya tersangkut!"

Dengan bangga boneka itu mengambil granat itu dan melemparnya ke rekannya. Meski awalnya takut, tapi semakin banyak boneka tertawa. Wanita berseragam idol yang melempar granat itupun hanya bisa menahan malu, terlebih karena ia keluar ke jalanan untuk melempar granat itu.

"Boss Ori! Tangkap!"

Dengan tangkas, granat itu tercengkram di tangan sang bos. Namun melihat lawannya yang begitu familiar membuatnya naik pitam.

"Morgen!"

"Tora Kyuin?!"

Sebuah keberuntungan, pikir Tora. Wanita dihadapannya adalah peserta yang telah mempersulit hidupnya dalam dua ronde terakhir. Di ronde pertama ia membalikan mobil balap Tora dan di ronde kedua ia membuat skor Bo-Jek Tora turun dari 5 bintang jadi 4.9 bintang.

"Sepertinya kau tidak bisa menarik pin granat ini sampai lepas, nona," ujar Tora. "Biarkan saya untuk mengembalikan "kebaikan" anda di dua ronde sebelumnya."

Tora menarik pin granat itu dan melemparnya pada Charta. Namun ia tidak mengira granat itu akan meledak di depan wajahnya, menghasilkan ledakan cahaya dan suara yang begitu memusingkan. Untungnya, granat itu adalah flashbang, kalau tidak ia sudah pasti kehilangan tangannya.

"Tangkap dia, ra! " seru kesepuluh boneka Tora.

Pasukan Tora berputar ke arah kiri, mengejar Charta yang segera berlari. Rentetan peluru tiba-tiba menyambut mereka dari belakang, bahkan tiga boneka Tora sempat tertembak, meskipun tidak ada yang rusak karena boneka lain menghalangi tembakan. Chalice dan grup bonekanya menyerang dari sisi lain perempatan,  tapi begitu pasukan boneka itu bergerak, tim Chalice segera lari di atas panggung serigalanya.

Setiap boneka Tora mengeluarkan sebuah pemutar musik dari saku, kemudian mengaktifkan tombol play alat itu. Debu di bawah kaki mereka bangkit, mengambil bentuk sebuah boneka hingga akhirnya menjadi sebuah boneka montir.

"Berusaha memecah pasukanku, hah?" gumam Tora. "Selama aku punya harta soundcloud milikku, aku tidak akan terkalahkan!"

***

"Ide Chalice itu tidak masuk akal, ta!"

"Seharusnya kau tidak mempercayai gadis yang kau sabotase di ronde satu, ta!"

"Sekarang kita punya dua pendendam yang ingin kita mati, ta!"

"Kalian tidak berhak komentar kalau kalian masih bergantung di bajuku!"

Teriakan pasukan boneka Tora semakin mendekat, sehingga Charta segera berbelok, masuk ke dalam sebuah gudang penuh peti barang. Berlari ke pojok gudang, Charta membuka tutupnya dan bersembunyi di dalamnya.

"Kalian harus diam. Mengerti?"

Untuk kali ini, boneka Charta mengangguk tanpa sepatah katapun. Suara frustasi pasukan boneka Tora terdengar dari luar, menghancurkan setiap peti yang mereka lewati.

"Uh…  Ori?" salah satu boneka Charta menarik bajunya. "Mungkin kita salah tempat sembunyi,ta?"

Saat Charta menengok, jantungnya hampir berhenti saat melihat dinamit di tangan bonekanya. Terlebih lagi, terdapat sebuah timer digital di tabung-tabung dinamit itu, menunjukan dua nol merah besar.Charta hampir berteriak kalau bukan karena salah satu bonekanya menyumbal mulutnya.

"Ingat dengan apa yang terjadi di awal ronde,ta?" tanya boneka itu. "sebagian Bom Abu gagal meledak karena ulah Emir."

"Tapi aku yakin mesiu dalam bom dinamit ini berbahaya, ta," ujar boneka lain yang sedang membongkar salah satu dinamit.

"Kejam sekali nasib ini…  padahal kita yang meletakan bom itu di sini, ta!"

"Satu kesalahan…  wush! Kita semua bisa tertimbun di dalam gudang ini, ta!"

"Tunggu dulu," potong Charta Ori, mengeluarkan pematiknya. "Kita bisa memanfaatkan bom ini."

Charta teringat bahwa ia telah memasang paling tidak empat bom di empat penjuru bangunan ini, menarget tiang gudang untuk merobohkannya. Jika pasukan Tora masuk ke dalam gudang, ia bisa meledakan mereka dengan cepat.

"Kita perlu mengendap ke tiga penjuru lain tanpa ketahuan boneka Tora supaya mereka terkena ledakan," ujar Charta. "Dan untungnya…  kita punya tim yang ahli dalam mengendap."

***

Saat Charta bersembunyi di dalam gudang, Chalice memiliki rencana sendiri melawan pasukan Tora. Ia telah memilih sebuah menara dengan tangga spiral ke puncaknya untuk melemahkan lawannya. Pasukan Tora akan kelelahan dalam perjalanannya naik ke atas menara, membuat mereka lebih mudah untuk diserang.

Hanya saja, Chalice lupa kalau dia harus menaiki tangga spiral menara itu. Sayangnya,  serigalanya terlalu besar untuk masuk ke dalam menara, beda dengan bonekanya yang memiliki serigala mini.

"Kita hampir sampai di atas, iz."

"Tak secepat itu, ra!"

Hanya beberapa anak tangga di bawah Chalice, boneka Tora pertama sudah mengejar. Dengan pistol kecilnya, boneka itu menembak Chalice, tapi pelurunya memantuk begitu saja.

"Percuma! Senjatamu tidak ada gunanya melawan aku yang asli!"

Membuang senjatanya, Tora kecil lalu berkata, "Kalau begitu bagaimana dengan senjata asli?"

Sekelompok boneka montir datang membawa sebuah senapan shotgun berlogo Hadayatha Group. Chalice memaki Soraya, tidak mengira suplai tim gurun bisa dicuri oleh boneka-boneka ini.

Namun sebelum tembakan bisa meletus, boneka dari yang membawa shotgun ini tertunduk jatuh. Suara teriakan, panik dan tembakan terdengar dari dasar menara. Saat itulah, boneka Tora menyadari ada yang janggal.
"Ups…  sepuluh menit sudah berlalu, iz."

"A-apa yang kau lakukan pada anak buahku?"

"Anak buahmu, iz?" tanya boneka itu. "Maksudmu anak buahku?"

Boneka Tora berbalik, menyadari bahwa shotgun yang dibawa anak buahnya telah membidik ke arahnya. Memegang pelatuk dan menahan berat laras shotgun itu adalah tiga mahluk berbulu tebal dan bergigi taring bagai hewan buas.

"Ganster. Itulah nama untuk mahluk itu, seperti para montirmu, mereka adalah anak buahku," ujar Chalice. "Mahluk hidup apapun akan menjadi ganster jika tergores olehku atau peluru pistolku."

Saar itulah boneka Tora menyadari tubuhnya mulai menumbuhkan bulu lebat dan kepalanya seakan berputar -putar.

"A-Aku juga berubah?" tanya boneka Tora. "Tapi aku boneka! Aku bahkan bukan mahluk hidup!"

"Kemampuan boneka tidak akan mempan terhadap manusia, iz," ujar boneka Chalice. "Tapi jika terhadap sesama boneka, dampaknya setara dengan versi ori kita."

"Untungnya, tidak ada larangan membunuh boneka."

***

Pasukan baru Chalice menyerbu keluar dari menara. Para ganster melompat ke jalanan,  atap-atap dan isi bangunan. Dengan cepat mereka menutup jarak antara mereka dan pasukan Tora.

Dua boneka Tora mengerahkan semua anak buahnya untuk menghentikan ganster Chalice, tapi jumlah mereka terus bertambah setiap menitnya. Saat itulah mereka melihat tiga ganster yang sangat familiar, menggunakan soundcloud untuk memanggil ganster.

"Boss, lapor!" salah satu boneka montir memanjat ke atas mobil Tora. "Tim 2,4 dan 5 sudah diambil kendali oleh musuh! Tim 1 dan 3 sedang melawan, tapi mereka kewalahan!"

"Setelah yang terjadi dengan Charta, sekarang rekan melawan rekan," gumam Tora. "Ini tidak seharusnya terjadi."

Tora beranjak dari kursi mobilnya, lalu berjalan ke tengah perempatan. Dua tembakan melesat ke dua boneka Tora di belakang para Ganster. Namun tembakan itu terhentikan oleh salah dua boneka montir.

"Bos, tolong jangan bunuh boss kami!" pinta si montir. "Meski ia jadi buas seperti ini, ia tetap boss kami!"

"Aku akan menembak diriku terlebih dahulu daripada menjadi hewan buas yang menyerang rekan-rekanku!" seru Tora. "Sekarang minggir sebelum kau kutembak juga!"

"Tidak!" balas montir itu. "Kau mungkin bos dari bosku, tapi bosku hanyalah dia seorang!"

Kesetiaan. Perasaan hangat yang Tora rasakan saat melihat kawanan Bojeknya kini berubah menjadi jarum es di hatinya. Ia tahu jika hal yang sama terjadi pada dirinya, kawanan bojeknya akan selalu ada apapun yang terjadi. Namun melihat pengikutnya menghancurkan satu sama lain, Tora tidak sanggup melihat konflik ini berlanjut.

"Kalau begitu mari kita akhiri ini semua."

Tora mengeluarkan soundcloud miliknya dan menekan tombol pause. Seketika, semua pasukannya tercerai berai menjadi debu, menyisakan hanya boneka-boneka Tora. Dengan hilangnya pasukan boneka Tora, ia kini bisa menembak bonekanya yang terinfeksi ganster.  Satu peluru untuk setiap bonekanya.

"Kau tidak mau memanggil kawan-kawanmu?" suara Chalice terdengar dari dalam menara saat ia berjalan keluar. "Yang asli maksudku, bukan boneka."

"Supaya kau bisa merebut mereka?" tanya Tora. "Aku penasaran kenapa orang yang punya kemampuan sekuat ini tidak langsung menggunakannya pada diriku yang asli. Kurasa panitia melarangnya karena terlalu kuat, kan?"

"Tajam juga pikiranmu," puji Chalice sambil menepuk sekali. "Kurasa kau sudah belajar banyak dari ronde satu, pak supir?"

"Ya. Aku selalu penasaran kenapa kau hanya mengendalikan dinosaurus di ronde pertama dan tidak mengendalikan peserta lain."
Chalice membidikan kedua sub machine gun miliknya, enter dan escape, "Kalau begitu kau diam saja, ya."

Rentetan tembakan terlepas dari pistol Chalice, tapi satu tembakan Tora membalas tembakannya. Bergerak bagai cambuk, peluru Tora mendorong semua peluru Chalice sehingga tidak mengenai dirinya, lalu menerjang maju dan hampir menggores pipi Chalice.

"Rekan-rekanku tidak akan mengikuti seorang pemimpin jika dia lemah," ujar Tora. "Antara pistolku dan sub machine milikmu, kira-kira mana yang lebih kuat, ya?"

"Kau terlalu banyak omong… Tora!"

Sebuah peluru kembali ditembakan oleh Chalice, tapi Tora kembali menembak dan seakan bergerak dengan sendirinya, peluru itu menghantam peluru Chalice.

"Menghentikan tembakanmu begitu…  mudah!"

***

"Aku… punya firasat spotlightku sedang direbut seseorang," gumam Charta.

"Mungkin karena kamu terlalu lama berdiam di dalam peti barang ini, ta?"

"Iya. Aku ingin keluar seperti boneka yang lain, tapi inilah aku, sang karakter utama, terjebak di dalam gudang."

"Kamu bisa saja mengendap seperti yang lain, ta," ujar boneka Charta. "Kalau kamu tidak sebesar gajah!"

Peti tempat Charta bersembunyi bergetar sedikit. Namun akibat getaran itu, tutup kotak disampingnya tergelincir dan jatuh ke lantai, mengakibatkan gema suara yang begitu keras.

"Hei! Aku mendengar suara dari sini."

Satu persatu peti di sebelah Charta mulai dihancurkan satu persatu.  Charta tentunya tidak mau tertangkap, sehingga ia melompat keluar dari persembunyiannya sambil memegang erat bonekanya.

Pasukan boneka Tora masih mengejar di belakangnya. Saat itulah Charta menyadari Scaffolding di atasnya yang membentuk lantai kedua. Ia segera mengirim phantomnya ke atas dan menjentikan jarinya, kembali muncul di atas scaffolding.

Charta melihat sebuah jendela di ujung scaffolding dan keluar dari jendela itu.  Namun saat ia sampai di luar, ia menyadari gudang itu telah dikepung oleh pasukan Tora. Dari depan, belakang dan samping.

Saat semua harapan putus, suara motor terdengar dari kejauhan. Sebuah sepeda motor perak melompat ke atap gudang, membawa Charta bersamanya. Menyadari kesempatan ini, Charta mengeluarkan belati pada pematiknya dan menyulut api, kemudian melemparkan pisaunya ke pojokan tempat persembunyian nya sebelumnya.

Api menjalar dari tempat persembunyian Charta. Sebuah jalur mesiu tampak dari api yang berkobar, menciptakan jalan api ke ketiga penjuru lain. Boneka Charta yang masih menebar bubuk mesiu terbakar bersama puluhan boneka Tora dalam satu ledakan dasyat.

Keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Charta mendengar siulan yang begitu familiar baginya, siulan yang membuatnya naik pitam.

"Pakaianmu terbuka sekali malam ini, nona! Apa kau tidak kedinginan?" tanya sang penyelamat dengan seringai mesum.

"Lepaskan aku, Balthor!" perintah Charta. "Lagipula kamu berada di tim lawan! Kenapa kamu menolongku!"

"Mungkin Balthor ex machina?"

***

"Tora!"

"Mudah!"

Dua lengkingan itu terdengar berkali-kali. Entah kenapa baku tembak antara pengguna pistol dan sub machine gun ini terdengar seperti baku hantam stand dua pria kelebihan testosteron.

Namun Charta segera menginterupsi dengan sebuah tusukan di punggung Tora. Melihat kejutan di mata Tora, Chalice menembak dahi Tora, menanamkan sebuah peluru di dahinya.

"H-Hei! Dia hampir mati, Chalice!"

"Ehm…  kurasa… tidak? Kalau peluru itu menggali satu inchi lebih dalam, dia pasti mati."



Komentar

  1. saya seneng tiap ada yang memakai Chalice di cerita mereka, jadi plus satu buat itu +1
    Narasi asik, dan interaksi antar karakter yang nyaman dibaca. Belum lagi setiap intrik dan tipu muslihat yang dipakai. Sayangnya saya yang awam ini ga nyambung setiap intrik menuju ke intrik mana, sehingga setiap adegan berasa tidak berkesinambungan. Ending sendiri saya merasa ndak 'konklusif' sih. Jadi saya kasih 6+1

    7 dari Charlotte Izetta

    BalasHapus
  2. Aidoru hakkennnnnn!!!!.

    Soraya benar2 culas disini. Memaksa Charta jadi nurut itu satu kehebatan. Sayang sih dia sponsor wakakaka.

    Saya menikmati konflik dari Tora-Charta yang kayaknya sengaja banget dibikin problematis sejak awal di Isla Wunder. Terlebih ini Large-Scale War jadinya benar benar ajang balas dendam. Nasib baik ada save state system aka para kloning2 kecil.

    8/10 dari Tora Kyuin

    BalasHapus

Posting Komentar

Entri terbaru

Tampilkan selengkapnya